قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَاۤىِٕكُمْ مَّنْ يَّبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗۗ قُلِ اللّٰهُ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ فَاَنّٰى تُؤْفَكُوْنَ
Qul hal min syurakā'ikum may yabda'ul-khalqa ṡumma yu‘īduh(ū), qulillāhu yabda'ul-khalqa ṡumma yu‘īduhū fa annā tu'fakūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah di antara sekutu-sekutu kamu ada yang dapat memulai penciptaan (makhluk) kemudian mengembalikannya (menghidupkannya lagi)?” Katakanlah, “Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya (menghidupkannya lagi). Lalu, bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?”
Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad, katakanlah, kepada orang-orang kafir “Adakah di antara sembahan yang kamu jadikan sekutu Allah itu yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya, yakni menghidupkannya kembali?” Jawabannya pasti tidak ada. Karena itu katakanlah, wahai Nabi Muhammad “Allah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya, yakni menghidupkannya kembali pada waktu yang sudah ditetapkannya sesuai kehendak-Nya. Maka bagaimana kamu dipalingkan oleh kebohongan dan hawa nafsu, sehingga menyembah selain Allah?”
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menanyakan kepada mereka bahwa adakah satu di antara tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, seperti berhala, roh nenek moyang, binatang-binatang, planet-planet, malaikat, dan jin, yang berkuasa menciptakan makhluk, kemudian menghidupkan kembali sesudah makhluk-makhluk itu mati? Sudah tentu mereka tidak akan dapat menjawab. Hal ini karena mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan, hari mereka dihidupkan kembali dari alam kubur. Sesudah itu Allah memberikan jawaban dengan perantaraan rasul-Nya, bahwa yang berkuasa untuk memulai kehidupan hanyalah Allah dan Dia Yang Berkuasa untuk memulai kehidupan atau mengembalikannya seperti keadaannya semula. Namun, mereka tetap tidak mau menerima agama yang benar, yaitu agama tauhid dan lebih memilih menyembah berhala dan patung-patung yang mereka lakukan karena kecenderungan jiwa mereka sendiri bukan karena terpaksa.
Yahiddī يَهِدِّي (Yūnus/10: 35)
Yahiddī adalah kata kerja muḍari’, masdarnya al-hudā dan al-hidāyah. Maknanya berkisar pada dua hal yaitu 1) tampil ke depan memberi petunjuk, 2) menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini muncul kata hadiah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna memperoleh atau menunjukkan simpati. Kata hudan dan hidāyah sebenarnya sama dari sisi kebahasaan, namun hudan adalah petunjuk yang datang khusus dari Allah swt sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Baqarah/2: 2. Sedangkan al-hidāyah adalah petunjuk yang diperoleh karena diupayakan. Hidayah bisa bersifat keduniaan seperti firman Allah: هُوَالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ النُّجُوْمَ لِتَهْتَدُوْا dan juga bisa bersifat keakhiratan seperti firman Allah: فَإِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْا Kata yahiddī terulang sebanyak 51 kali dalam Al-Qur’an.





































