فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ كَذَّبَ بِاٰيٰتِهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُوْنَ
Faman aẓlamu mimmaniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi'āyātih(ī), innahū lā yufliḥul-mujrimūn(a).
Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya para pendurhaka itu tidak akan beruntung.
Karena mereka tetap keras menolak kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu dari Allah dan menuduh Nabi Muhammad berbohong, maka ditegaskan dalam bentuk pertanyaan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang dengan sengaja mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sungguh tidak ada orang yang lebih zalim daripada mereka dan mereka tidak akan mendapatkan keberuntungan untuk selama-lamanya. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa itu tidak akan pernah beruntung.
Ayat ini menerangkan perbuatan orang yang paling zalim di sisi Allah ialah:
1. Orang yang berbuat dusta terhadap Allah, seperti yang telah dilakukan orang-orang musyrik karena keingkaran mereka, yaitu meminta Rasulullah menukar ayat-ayat Al-Qur’an dengan perkataan yang lain yang tidak bertentangan dengan kepercayaan mereka.
2. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Ayat ini memberi peringatan bahwa orang yang melakukan salah satu dari perbuatan yang paling zalim itu adalah orang yang pantas mendapat kemurkaan Allah dan siksa-Nya. Mereka telah berbuat dosa, mereka tidak akan memperoleh keberuntungan dengan perbuatan-perbuatan itu. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang beriman menjaga dirinya agar jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.
‘Aṣaitu عَصَيْتُ (Yūnus/10: 15)
Kata ‘aṣā adalah bentuk kata kerja lampau. Subjek kata kerja ini adalah Nabi Muhammad saw yang merasa takut kepada Tuhan kalau ia durhaka kepada-Nya. Kata ‘aṣaitu di sini artinya “aku durhaka.” Maksudnya adalah durhaka dalam bentuk menentang perintah Allah untuk menyampaikan wahyu apa adanya, dan juga dalam bentuk mengubahnya sedemikian rupa, sehingga tidak sesuai lagi dengan aslinya. Menurut Maulana Muhammad Ali, ungkapan innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī menunjukkan betapa setianya Nabi Muhammad saw kepada Allah dalam menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya, dengan mengamalkan setiap petunjuk yang termuat di dalamnya.










































