Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 6 - Surat Yūnus (Yunus)
يونس
Ayat 6 / 109 •  Surat 10 / 114 •  Halaman 208 •  Quarter Hizb 21.5 •  Juz 11 •  Manzil 3 • Makkiyah

اِنَّ فِى اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَّقُوْنَ

Inna fikhtilāfil-laili wan-nahāri wa mā khalaqallāhu fis-samāwāti wal-arḍi la'āyātil liqaumiy yattaqūn(a).

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi kaum yang bertakwa.

Makna Surat Yunus Ayat 6
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada benda apa saja yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, yakni benda cair maupun padat, semilirnya angin maupun dahsyatnya petir dan halilintar, pasti terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang bertakwa, yakni orang yang berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan supaya terhindar dari siksa Allah akibat kesesatan tersebut.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang lain, yaitu pertukaran malam dan siang, walaupun pertukaran dengan arti pergantian malam dan siang itu, disebabkan oleh perputaran bumi mengelilingi sumbunya. Perbedaan panjang malam dan siang disebabkan letak suatu tempat di bagian bumi, yang disebabkan oleh pergeseran sumbu bumi itu dan dua puluh tiga setengah derajat dari putaran jalannya (garis edar) serta peredaran bumi keliling matahari.

Di samping perputaran malam dan siang itu, dalam ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Allah menciptakan di langit dan di bumi aneka ragam benda, seperti benda cair, benda padat, udara, tumbuh-tumbuhan dan binatang, guruh petir, angin semuanya itu merupakan bukti dan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, bagi orang yang mau bertakwa kepada-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

Ḍiyā’a ضِيَاء (Yūnus/10: 5)

Kata ḍiyā’a dalam Al-Qur’an disebutkan tiga kali, yakni dalam ayat ini, dalam Surah al-Anbiyā’/21: 48, dan al-Qaṣaṣ/28: 71. Dalam konteks Surah al-Anbiyā’/21: 48, kata ḍiyā’a digunakan untuk menjelaskan mukjizat Nabi Musa a.s. yang tangannya memancarkan “sinar.” Kata ini, dalam Surah al-Qaṣaṣ, digunakan untuk makna simbolik dengan arti siang yang terang benderang. Sedang kata ḍiyā’a dalam Surah Yūnus/10: 5 ini berarti sinar yang dipancarkan bola matahari yang sangat menyilaukan mata. Sinar berbeda dengan cahaya (nur). Jika ditatap dengan mata telanjang, sinar terang matahari dapat merusak mata yang memandangnya. Sedangkan cahaya merupakan terang yang dipantulkan oleh benda lain yang terkena sinar.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto