Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 19 - Surat Yūnus (Yunus)
يونس
Ayat 19 / 109 •  Surat 10 / 114 •  Halaman 210 •  Quarter Hizb 21.75 •  Juz 11 •  Manzil 3 • Makkiyah

وَمَا كَانَ النَّاسُ اِلَّآ اُمَّةً وَّاحِدَةً فَاخْتَلَفُوْاۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيْمَا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

Wa mā kānan-nāsu illā ummataw wāḥidatan fakhtalafū, wa lau lā kalimatun sabaqat mir rabbika laquḍiya bainahum fīmā fīhi yakhtalifūn(a).

Manusia itu dahulunya hanya umat yang satu (dalam ketauhidan), lalu mereka berselisih. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu,347) pastilah di antara mereka telah diberi keputusan (azab di dunia) tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Makna Surat Yunus Ayat 19
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Penyembahan terhadap selain Allah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik adalah sebuah penyimpangan yang tidak dikenal pada awal kehidupan manusia, karena manusia diciptakan dalam keadaan fitrah. Ayat ini menegaskan bahwa dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, mereka semuanya tunduk dan patuh kepada Allah, kemudian mereka terkena godaan setan sehingga berselisih, yakni ada yang tetap taat dan ada yang durhaka bahkan mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan. Kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, bahwa perselisihan manusia di dunia itu akan diputuskan di akhirat, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka ketika di dunia ini, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Yang dimaksud satu umat di sini ialah satu akidah, yaitu percaya kepada Allah Yang Maha Esa, karena manusia sejak dilahirkan ke dunia telah menganut kepercayaan tauhid, Allah telah mengambil kesaksian terhadap manusia, sejak mereka dikeluarkan dari ṣulbi, (lihat tafsir Surah al-Baqarah/2: 213 dan al-A‘rāf/7: 172) sebagai fitrah kejadiannya, seperti sabda Nabi Muhammad saw:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه أبو يعلى والطبراني والبيهقي عن الأسود بن سري)

Tiap anak yang lahir itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. (Riwayat Abī Ya’lā, aṭ-Ṭabrāni dan al-Baihaqī dari al-Aswad bin Sarī)

Pada mulanya, manusia hidup sederhana, dalam satu kesatuan, seakan-akan mereka satu keluarga. Akan tetapi, setelah mereka berkembang biak, terbentuklah suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda-beda, baik dari sisi kepentingan maupun kemaslahatannya. Karena hawa nafsu, merekapun berselisih. Oleh karena itu, Allah mengutus kepada mereka para rasul yang menyampaikan petunjuk Allah, untuk menghilangkan perselisihan dan perbedaan pendapat di antara mereka. Para rasul itu membawa kitab yang berisi wahyu Allah. Kemudian manusia berselisih pula tentang kitab yang telah diturunkan Allah itu, sehingga terjadilah permusuhan dan pertarungan di antara mereka.

Sebagian mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “manusia” dalam ayat ini ialah orang Arab. Mereka dahulu adalah pengikut-pengikut agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, agama yang mengakui keesaan Allah. Kemudian masuklah unsur syirik kepada kepercayaan mereka, sehingga sebagian mereka menyembah berhala di samping menyembah Allah dan sebagian masih tetap menganut agama Nabi Ibrahim. Terjadilah perselisihan antara kedua golongan itu.

Jika diperhatikan antara kedua pendapat ini maka tidak ada perbedaan pokok, karena pendapat pertama adalah sifatnya umum, meliputi seluruh manusia yang ada di dunia, sedangkan pendapat kedua adalah khusus untuk orang Arab saja, tetapi tidak menutup kemungkinan berlakunya untuk semua manusia.

Dengan peringatan yang sangat keras dengan menyatakan bahwa seandainya belum ditetapkan oleh Allah dahulu untuk memberikan balasan yang setimpal dan adil di akhirat, maka Allah akan segera membinasakan orang-orang yang berselisih itu di dunia ini. Mereka membawa perpecahan dan permusuhan, apalagi perselisihan mereka itu tentang Kitab Allah yang sebenarnya diturunkan untuk menghilangkan perselisihan.

Isi Kandungan Kosakata

Ikhtalafū ﺇِخْتَلَفُوْﺍ (Yūnus/10: 19)

Kata ikhtalafū merupakan kata kerja lampau, masdarnya ikhtilāf yang artinya “berselisih.” Menurut suatu versi penafsiran, seperti disebutkan dalam Ṣafwat at-Tafāsir, pada awalnya manusia di planet bumi memegang satu agama, Islam. Keadaan manusia dalam satu agama itu berlangsung sejak Nabi Adam a.s. sampai Nabi Nuh a.s. Kemudian, setelah kurun waktu tersebut terjadilah perselisihan dan perbedaan mengenai masalah akidah. Ada yang menyembah berhala dan ada yang masih pada akidah tauhid. Maka, di situlah letak pentingnya para nabi diutus untuk membimbing kembali manusia ke arah agama yang benar, mengembalikan mereka ke agama yang satu, Islam. Menurut penafsiran versi lain, ikhtilāf di sini artinya “pertikaian” atau “persaingan,” dengan maksud bahwa Allah pada dasarnya menghadirkan manusia di muka bumi sebagai satu keluarga besar kemanusiaan. Prinsip yang harus dijaga ialah bahwa manusia adalah satu keluarga, berada di lingkungan/tempat yang sama, di bawah atap yang sama, dan dari keturunan yang sama. Karena perbedaan kepentingan yang semakin lama semakin besar, maka manusia mengalami pertikaian dan persaingan yang tidak jarang membawa pada situasi permusuhan. Terjadinya ikhtilāf (pertikaian) menyebabkan pentingnya para nabi diutus untuk mendamaikan manusia, agar kembali pada gambaran dasarnya yang semula, sebagai satu keluarga besar manusia, yang seharusnya selalu hidup harmonis dan damai di bumi.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto