فَلَمَّا جَاۤءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُّوْسٰٓى اَلْقُوْا مَآ اَنْتُمْ مُّلْقُوْنَ
Falammā jā'as-saḥaratu qāla lahum mūsā alqū mā antum mulqūn(a).
Ketika para penyihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!”
Maka ketika para penyihir itu sudah datang, mereka berkata kepada Nabi Musa, engkau atau kami yang melemparkan terlebih dahulu? Nabi Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah terlebih dahulu apa yang hendak kamu lemparkan!” (Lihat: Surah Taha/20: 65-66)
Kemudian sesudah ahli-ahli sihir dipanggil ke sebuah lapangan terbuka, mereka datang menemui Musa untuk menawarkan kepadanya apakah dia yang lebih dahulu melontarkan tongkatnya ataukah mereka yang memulai. Musa mempersilahkan mereka menunjukkan sihirnya terlebih dahulu. Maka merekapun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Dengan kekuatan sihir, tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular. Mereka mempesona penglihatan manusia sehingga menakutkan hati mereka yang menyaksikannya.
Bi Kalimātih بِكَلِمَاتِهِ (Yūnus/10: 82)
Kata bi kalimātih dipahami dalam arti kekuasaan Allah mewujudkan sesuatu sesuai dengan kehendak dan pengetahuan-Nya. Dengan demikian, kata ini bisa diartikan dengan ketetapan-ketetapan Allah dalam alam raya ini. Antara lain bahwa Dia mengukuhkan kebenaran serta menghapus dan membinasaan kebatilan, walau setelah berlalu sekian lama dari kehadirannya. Ini antara lain dilukiskan dengan firmannya dalam Surah ar-Ra’d/13: 17.















































