وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًاۗ اِنَّهُمْ جُنْدٌ مُّغْرَقُوْنَ
Watrukil-baḥra rahwā(n), innahum jundum mugraqūn(a).
Biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka adalah bala tentara yang akan ditenggelamkan.”
dan jika kamu semua nanti sampai di Laut Merah, maka pukulkanlah tongkatmu, dan laut akan terbelah, lalu menyeberanglah kamu semua. Bila kamu telah tiba di pantai, biarkanlah laut itu tetap terbelah sehingga Fir’aun dan bala tentaranya berusaha menyeberangi laut itu. Sesungguhnya mereka, yakni Fir’aun dan pengikut-pengikutnya adalah bala tentara yang akan di tenggelamkan ketika mereka berada di tengah-tengah laut itu.”
Allah memerintahkan Musa agar dia dan kaumnya meninggalkan laut yang dilaluinya itu dalam keadaan terbelah seperti halnya ketika dia memasukinya, hingga Fir‘aun dan tentaranya memasukinya, kemudian Allah mempertautkan kembali laut yang terbelah tadi hingga tenggelamlah Fir‘aun dan segenap tentaranya. Sedangkan Musa dan orang-orang yang bersama dia selamat sampai ke daratan, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:
وَاَنْجَيْ نَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ ٦٥ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ ٦٦
Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. (asy-Syu‘arā'/26: 65-66)
1. An lā Ta‘lū اَنْ لَا تَعْلُوا (ad-Dukhān/44: 19)
Kata ta‘lū berasal dari akar kata ‘alā-ya‘lū-‘ulwan-wa huwa-‘ālin yang merupakan antonim dari kata as-sufl yang berarti di bawah. Jadi kata ‘uluw artinya adalah ketinggian. Senada dengan kata ini adalah kalimat ‘aliya-ya‘lā-‘alā-fa huwa-‘aliyyun. Perbedaannya, kata ‘alā lebih banyak digunakan untuk menerangkan tentang tempat dan jisim (sesuatu yang berbentuk dan bersifat materi). Sebagian membedakannya bahwa kata ‘alā digunakan pada sesuatu yang terpuji ataupun tercela, seperti termaktub dalam Surah an-Nāzi‘āt/79: 24 dan Surah Ṭāhā/20: 64, sedangkan kata ‘aliya lebih sering digunakan pada sesuatu yang terpuji saja. Kedua akar kata ini yang terbentuk dari huruf ‘ain, lām dan yā′ atau wāu menunjuk kepada makna ketinggian baik bersifat material atau immaterial. Ketinggian dengan menganggap bahwa orang lain atau sesuatu yang lain lebih rendah atau berada di bawahnya. Firman Allah dalam Surah Ṭāhā/20: 4 menandakan bahwa langit itu yang paling mulia. Salah satu Surga yang dijanjikan oleh Allah bernama ‘Illiyyīn (al-MuṬaffifīn/83: 18) dianggap surga paling tinggi dan mulia dibandingkan dengan surga yang lain.
Dari kata tersebut kemudian lahir makna-makna lainnya seperti sombong karena yang bersangkutan merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kata ini juga mengandung arti menaklukan atau mengalahkan karena keduanya berkedudukan lebih tinggi dari yang ditaklukan atau yang dikalahkan. Allah swt menamai dirinya dengan kata “al-‘Aliyy” karena Dia yang Maha Menaklukkan seluruh makhluk-Nya. Allah Mahatinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian-Nya.
Dalam Al-Qur’an kata ‘aliy ditemukan sebanyak 11 kali, sembilan diantaranya menerangkan tentang sifat Allah, dirangkai dengan sifat Kabîr lima kali, dengan ‘aẓīm dua kali dan dengan kata hakīm sebanyak dua kali. Ketika disandingkan dengan kata kabīr artinya bahwa Mahatinggi lagi Mahabesar. Sedangkan dua kata yang lain menerangkan tentang kedudukan tinggi yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Idris dan Nabi Ibrahim. Sedangkan penyebutan kata ‘alā terdapat sembilan kali. Diantaranya pengakuan Fir‘aun kepada Nabi Musa yang mengaku sebagai Tuhan yang Mahatinggi (Rabbukumul-a‘lā). Tetapi biasanya kalimat ini digunakan dalam konteks komparatif, sehingga pada akhirnya mengantar setiap makhluk untuk menyadari bahwa Allah-lah yang pantas untuk disebut sebagai Yang Mahatinggi.
Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang kisah Nabi Musa ketika menyebarkan risalahnya kepada Fir‘aun. Salah satu ajakannya adalah agar umatnya Bani Israil tidak menyombongkan diri (an lā ta‘lū) dan menganggap dirinya yang paling kuat. Karena sebenarnya yang pantas untuk berlaku sombong hanyalah Allah karena Dialah yang memiliki segalanya.
2. Bakat بَكَتْ (ad-Dukhān/44: 29)
Kata bakat merupakan fi‘il māḍī yang berasal dari akar kata bakā-yabkī-bukan-wa bukāan yang berarti mencucurkan air mata karena sedih diiringi dengan suara meraung-raung atau meratapi. Sedangkan kata bukan (tanpa mad) berarti mencucurkan air mata karena teramat sedih tanpa diiringi oleh suara ratapan. Bentuk jamaknya adalah bākūna dan bukiyyun (Maryam/19: 58). Kalimat ini juga diartikan berbarengan, meratap sambil mencucurkan air mata. Tetapi juga bisa digunakan untuk masing-masing makna, karena menangis tidak berarti harus keluar air mata. Kata bakā juga tidak berarti menangis karena sedih, tetapi ada juga menangis karena terharu dan bahagia.
Kata ini dengan berbagai bentuk derivasinya terulang sebanyak 7 kali dalam Al-Qur’an, (bakat, tabkūna, walyabkū, yabkūna-dua kali-, abkā dan bukiyyā). Kesemuanya cenderung digunakan untuk menandakan ada kesedihan didalamnya. Pada ayat yang sedang dibahas (famā bakat ‘alaihim as-samā wa al-arḍ) mengandung dua makna, pertama bahwa langit dan bumi tidak menangisi kehancuran Fir‘aun dan kaumnya walaupun mereka meninggalkan harta dan kebun mereka. Pemaknaan ini mungkin saja digunakan walaupun kata bakā lebih sering digunakan pada manusia, tetapi langit dan bumi pun menangis bagi mereka yang mengetahuinya. Kedua, bahwa kalimat ini mengandung kata sisipan sehingga menjadi famā bakat ahlus-samā wal-arḍ, jadi maknanya adalah penghuni langit dan bumi tidak menangisi atas kehancuran mereka.
















































