وَمَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ
Wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā lā‘ibīn(a).
Tidaklah Kami ciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya secara main-main.
Dan tidaklah Kami menciptakan langit demikian luas dan bertingkat-tingkat dan bumi yang kokoh dan terhampar luas dengan segala isinya serta aturannya yang tertata dan harmonis serta apa yang ada di antara keduanya, yakni antara langit dan bumi yang dapat kamu saksikan, dengan bermain-main.
Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi beserta segala isinya tidaklah diciptakan dengan sia-sia atau secara kebetulan tanpa maksud dan tujuan, tetapi semuanya itu diciptakan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Apabila diperhatikan dengan seksama setiap kehidupan yang ada di bumi dan segala kejadian di langit tentulah akan diketahui baik makhluk yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa dari berbagai macam tingkatan, dari tingkat terendah sampai dengan tingkat yang tertinggi, masing-masing faidahnya, ada ketentuan-ketentuan yang berlaku baginya, dan ada pula waktu yang ditentukan untuk kehidupannya.
Sebagai contoh seekor burung, ia ditetaskan dari sebuah telur yang berasal dari induknya. Setelah dierami dalam waktu tertentu, keluar anak burung yang kecil tanpa bulu dari telur itu. Dari hari ke hari burung itu diberi makan oleh induknya, sehingga anak burung itu tumbuh secara berangsur-angsur, badannya menjadi besar dan ditumbuhi bulu, sayapnya bertambah kuat. Kemudian diajar oleh induknya terbang, ia terbang dari dahan ke dahan, dibimbing induknya mencari makanan dan minuman. Setelah dewasa mulailah ia melaksanakan tugas hidupnya, mencari pasangan untuk mengembangkan keturunan. Bila telah sampai ajalnya, ia pun mati seperti burung-burung yang lain.
Jika diperhatikan, seakan-akan burung-burung itu membawa misi dalam kehidupan. Ditakdirkan Allah bahwa makanan burung itu adalah serangga, serangga itu makan dan merusak tanam-tanaman yang ditanam oleh manusia. Seolah-olah burung itu membantu usaha dan kehidupan manusia. Burung dengan suara dan kicauannya yang merdu menyenangkan dan menyejukkan hati orang yang mendengarnya. Bakteri, semacam binatang yang halus dan kecil, dan juga cacing seakan-akan tidak ada gunanya sama sekali. Jika diperhatikan maka bakteri dan cacing itu memakan sampah dan kotoran, baik yang berasal dari manusia maupun yang berasal dari makhluk yang lain. Jika bakteri dan cacing itu tidak ada, maka sampah dan kotoran akan menumpuk karena tidak akan membusuk sehingga terjadilah polusi yang membahayakan kehidupan manusia. Semakin dalam direnungkan dan diperhatikan alam dan kejadiannya ini, semakin dalam diketahui hikmah, guna dan tujuan penciptaannya; semakin terasa pula kasih sayang dan tujuan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Hanya kebanyakan manusia tidak tahu diri dan merasa dirinya yang paling kuasa dan yang paling mampu. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
اَفَحَسِ بْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ ١١٥
Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. (al-Mu'minūn/23: 115)
Dan firman-Nya:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ ٢٧
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Ṣād/38: 27)
Yaumal-Faṣli يَوْمَ الْفَصْلِ (ad-Dukhān/44: 40)
Kata al-faṣl terambil dari akar kata faṣala yang secara bahasa berarti memisahkan atau celah antara dua benda. Al-mafṣil berarti setiap sendi yang mempertemukan dua tulang atau lembah antara dua gunung. Al-faṣl juga diartikan dengan keputusan antara yang hak dan batil, dinamakan demikian karena ketetapan itulah yang memisahkan antara yang hak dan batil. Allah menamakan hari Kiamat dengan yaumul-faṣl karena pada saat itu Allah memisahkan antara orang-orang yang berbuat baik dengan orang-orang tidak baik dan memberikan balasan sesuai dengan amalannya. Kalimat ini lebih cenderung digunakan pada kebenaran seperti perkataan Arab qaul faṣl artinya perkataan yang benar. Perkataan Nabi Muhammad disifati dengan faṣl lā nazr wa lā hażr artinya perkataan beliau jelas dan pasti antara yang benar dan salah. Kata faṣl mengindikasikan adanya sebuah ketegasan dan ketepatan dalam membedakan dua perkara. Al-fiṣāl diartikan penyapihan bayi dari susuan ibunya. Faṣīl adalah anak onta yang disapih. Faṣīlah berarti golongan, rumpun, keluarga, kelompok atau faksi yang memisahkannya dari yang lain.
Pada ayat ini Allah menjelaskan salah satu nama dari hari Kiamat yang akan terjadi yaitu yaumul-faṣl. Dinamakan demikian karena hari itu adalah hari keputusan yang tidak ada tawar menawar didalamnya. Ada beberapa nama lain untuk hari Kiamat diantaranya yaum ad-dīn, yaumul-ḥisāb, yaum al-jazā', dan lain-lain. Kesemua nama ini menandakan bahwa hari Kiamat merupakan sebuah peristiwa yang maha dahsyat.

