Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 37 - Surat Ad-Dukhān (Kabut Asap)
الدّخان
Ayat 37 / 59 •  Surat 44 / 114 •  Halaman 497 •  Quarter Hizb 50.5 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

اَهُمْ خَيْرٌ اَمْ قَوْمُ تُبَّعٍۙ وَّالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ اَهْلَكْنٰهُمْ اِنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ

Ahum khairun am qaumu tubba‘(in), wal-lażīna min qablihim, ahlaknāhum innahum kānū mujrimīn(a).

Apakah mereka yang lebih baik atau kaum Tubba‘686) dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah para pendurhaka.

Makna Surat Ad-Dukhan Ayat 37
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Apakah mereka, yakni kaum musyrik Mekah itu yang lebih baik kekuasaan dan kekuatannya atau kaum Tubba’, yaitu orang-orang Himyar dan raja-raja mereka di Yaman serta orang-orang yang musyrik dan para pendurhaka sebelum mereka? Tidak, sama sekali tidak. Kami telah binasakan mereka walaupun mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan yang lebih, tetapi kekuasaan mereka tidak bermanfaat sedikit pun untuk menolak azab Kami. Sesungguhnya mereka itu adalah betul-betul para pendosa dan pendurhaka yang telah mendarah daging dalam diri mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah mengingatkan mereka pada kaum yang telah ditimpa malapetaka dan azab Allah, karena mereka durhaka dan tidak mengindahkan seruan para rasul yang diutus kepada mereka. Hendaklah mereka menjaga diri mereka, jangan sampai Allah mengazab mereka seperti yang telah dialami kaum yang terdahulu itu, Allah menyatakan bahwa keadaan mereka tidaklah lebih baik dari kaum Tubba‘.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُوْلُ لَا تَسُبُّوا تُبَّعاً فَاِنَّهُ قَدْ كَانَ اَسْلَمَ. (رواه أحمد)

Sahl bin Sa‘d berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: Janganlah kalian mencela Tubba‘ karena dia sudah masuk Islam. (Riwayat Aḥmad)

Tubba‘ adalah sebutan bagi raja-raja Himyar di Yaman. Kaumnya disebut kaum Tubba‘. Mereka berbuat dosa yang melampaui batas sehingga negeri mereka dihancurkan Allah. Namun sebagian kaumnya masih hidup mengembara ke negeri-negeri sekitarnya. Pada mulanya mereka adalah kaum yang mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi serta mempunyai balatentara yang cukup kuat. Kalau dibandingkan dengan orang Tubba‘, orang-orang kafir Mekah jauh ketinggalan dari orang Tubba‘. Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir Mekah itu tidak lebih baik keadaannya dari kaum ‘Ād dan Ṡamūd. Kedua kaum ini juga dibinasakan Allah karena kesombongan dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan.

Pada akhir ayat ini, Allah menandaskan bahwa pada umat-umat terdahulu itu telah berlaku sunatullah. Mereka semua dibinasakan karena mereka telah tenggelam dalam lumpur kemaksiatan. Kejadian itu seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang kafir Mekah seandainya mereka mau mengambil pelajaran. Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan sunah-Nya ini. Allah berfirman:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ٦٢

Sebagai sunatullah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Aḥzāb/33: 62)

Isi Kandungan Kosakata

1. Bimunsyarīn بِمُنْشَرِيْنَ (ad-Dukhān/44: 35)

Kalimat bimunsyarīn berasal dari kata nasyara yang artinya membentangkan dan menyebarkan. Nasyara aṡ-ṡaub berarti membentangkan baju. Nasyr juga berarti, pembicaraan atau publikasi karena sifatnya yang menyebar. Angin disebut juga an-nāsyir, karena dengan angin awan-awan menjadi tersebar (al-A‘rāf/7: 57). Rumput basah juga disebut nasyr karena ketika hujan datang maka rumput-rumput itu akan tumbuh secara tersebar. Nusyroh artinya jampi-jampi atau mantera untuk mengobati orang sakit. Nasyira berarti membangkitkan kembali (wa ilaihin-nusyūr), Allah akan mengembalikan atau menghidupkan kembali (al-Mulk/67: 15) jasad yang tadinya hancur seperti halnya membentangkan baju.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang sikap kaum musyrik Mekah ketika meyakini bahwa kematian menurut mereka hanyalah terjadi di dunia. Tidak ada kematian selain kematian dunia. Mereka meyakini bahwa mereka tidak akan dibangkitkan kembali untuk menerima pertanggungjawaban amal saat di dunia.

2. Tubba‘ تُبَّعٍ (ad-Dukhān/44: 37)

Kalimat tubba‘ berasal dari kata tabi‘a-yatba‘u-taba‘an yang berarti mengikuti jejaknya. Tabi‘tu asy-syai′ berarti mengikuti berjalan di belakangnya. Tatabbu‘ berarti mengikuti secara perlahan dan beriringan. Tabi‘a juga berarti mengikatkan diri atau mewajibkan atas dirinya. Tābi‘ berarti pengikut. Generasi setelah sahabat disebut dengan tābi‘in karena mereka mengikuti jejak para sahabat. At-Tābi‘ah artinya jin yang mengikuti manusia. At-Tabī‘ adalah anak sapi yang baru berumur satu tahun, dari tiga puluh ekor sapi, zakatnya adalah tabī. Tubba‘ juga berarti bayangan yang mengikuti arah matahari. Tāba‘a ‘amaluhū wa kalāmuhā artinya dia mencermati dan memperhatikan pekerjaan dan perkataannya.

Tubba‘ merupakan sebutan atau gelar bagi raja-raja Yaman, bentuk jamaknya adalah tabābi‘ah. Dinamakan demikian karena satu sama lain saling mengikuti. Setiap ada raja yang meninggal, maka yang lainnya menggantikannya mengikuti pendahulunya. Dalam tafsir, tubba‘ adalah sebutan bagi raja. Dia adalah seorang yang beriman sedangkan kaumnya kafir. Dalam Kamus Lisān al-‘Arab disebutkan bahwa Raja Tubba‘ berkata, ‘Ini adalah makam Raḍwā dan Hubbā, dua anak Tubba‘, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan yang lain.’ Ini sebagai bukti bahwa Raja Tubba‘ adalah Muslim. Dikuatkan dalam sebuah hadis, ‘Janganlah kalian mencerca Tubba‘ karena dia telah memeluk Islam.’ Dalam hadis yang lain disebutkan, ‘Janganlah mencerca Tubba‘, karena dia adalah yang pertama memberikan kain pada ka‘bah’. Raja Tubba‘ ini bernama As‘ad Abu Karīb, disebut Tubba‘ setelah dia menggenggam daerah Hadramaut, Saba dan Himyār.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang tantangan orang kafir agar mendatangkan bapak-bapaknya terdahulu jika Muhammad dan kaumnya adalah orang-orang yang benar. Allah menjawab dengan sebuah analogi, apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik atau kaum Tubba‘ dan orang-orang sebelum mereka. Karena sesungguhnya Allah telah membinasakan mereka karena dosa-dosanya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto