فَأْتُوْا بِاٰبَاۤىِٕنَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Fa'tū bi'ābā'inā in kuntum ṣādiqīn(a).
Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu orang-orang yang benar.”
Begitu besar keingkaran mereka terhadap kebangkitan itu, sampai-sampai mereka menantang dengan mengatakan, “Jika kehidupan yang kedua itu akan ada, maka hadirkanlah atau hidupkanlah kembali nenek moyang kami yang sudah meninggal itu jika kamu orang yang benar.”
Allah menerangkan tantangan orang musyrik Mekah kepada Rasulullah. Seandainya yang dikatakan rasul itu benar, yaitu adanya hari kebangkitan hendaklah dia mengemukakan bukti kebenaran dan hendaklah dia menghidupkan kembali nenek moyang mereka yang telah mati dahulu. Menurut mereka, seandainya Rasulullah saw dapat membangkitkan (dari kubur) menghidupkan kembali nenek moyang mereka tentu hal ini dapat menjadi bukti adanya hari kebangkitan itu.
Maka Allah menjelaskan bahwa Dia kuasa mengumpulkan sesuatu yang berserakan, mulai dari benda padat, benda cair, dan udara, dari atom yang paling kecil sampai kepada molekul-molekul, semua dikumpulkan menjadi satu sehingga terbentuk seorang manusia. Tahukah manusia dari mana asal makanan yang dimakannya, pakaian yang dipakainya, alat rumah tangga yang mereka gunakan, dan sebagainya. Semua datang dari penjuru dunia yang berjauhan, kemudian dikumpulkan Tuhan pada suatu tempat untuk memenuhi keperluan dan keinginan seorang manusia. Jika hal yang demikian itu dapat dilakukan Allah, tentu mengumpulkan kembali tulang yang berserakan, daging yang telah hancur luluh menjadi tanah, dan rekaman perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan seseorang lebih mudah dilakukan-Nya, mengulang membuat sesuatu yang pernah ada jauh lebih mudah dari membuatnya pada pertama kalinya.
Dari keterangan demikian, dapat disimpulkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi. Hanya saja waktunya belum diketahui dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Yang jelas, hari kebangkitan itu akan terjadi setelah seluruh jagad raya mengalami kehancuran total termasuk semua isinya. Itulah sebabnya Allah tidak melayani tantangan orang-orang musyrik, karena tidak berguna menjawabnya. Tantangan itu dikemukakan mereka hanyalah untuk menutupi isi dan keinginan hati mereka. Dikabulkan atau tidak permintaan mereka itu, mereka tidak juga akan beriman.
1. Bimunsyarīn بِمُنْشَرِيْنَ (ad-Dukhān/44: 35)
Kalimat bimunsyarīn berasal dari kata nasyara yang artinya membentangkan dan menyebarkan. Nasyara aṡ-ṡaub berarti membentangkan baju. Nasyr juga berarti, pembicaraan atau publikasi karena sifatnya yang menyebar. Angin disebut juga an-nāsyir, karena dengan angin awan-awan menjadi tersebar (al-A‘rāf/7: 57). Rumput basah juga disebut nasyr karena ketika hujan datang maka rumput-rumput itu akan tumbuh secara tersebar. Nusyroh artinya jampi-jampi atau mantera untuk mengobati orang sakit. Nasyira berarti membangkitkan kembali (wa ilaihin-nusyūr), Allah akan mengembalikan atau menghidupkan kembali (al-Mulk/67: 15) jasad yang tadinya hancur seperti halnya membentangkan baju.
Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang sikap kaum musyrik Mekah ketika meyakini bahwa kematian menurut mereka hanyalah terjadi di dunia. Tidak ada kematian selain kematian dunia. Mereka meyakini bahwa mereka tidak akan dibangkitkan kembali untuk menerima pertanggungjawaban amal saat di dunia.
2. Tubba‘ تُبَّعٍ (ad-Dukhān/44: 37)
Kalimat tubba‘ berasal dari kata tabi‘a-yatba‘u-taba‘an yang berarti mengikuti jejaknya. Tabi‘tu asy-syai′ berarti mengikuti berjalan di belakangnya. Tatabbu‘ berarti mengikuti secara perlahan dan beriringan. Tabi‘a juga berarti mengikatkan diri atau mewajibkan atas dirinya. Tābi‘ berarti pengikut. Generasi setelah sahabat disebut dengan tābi‘in karena mereka mengikuti jejak para sahabat. At-Tābi‘ah artinya jin yang mengikuti manusia. At-Tabī‘ adalah anak sapi yang baru berumur satu tahun, dari tiga puluh ekor sapi, zakatnya adalah tabī. Tubba‘ juga berarti bayangan yang mengikuti arah matahari. Tāba‘a ‘amaluhū wa kalāmuhā artinya dia mencermati dan memperhatikan pekerjaan dan perkataannya.
Tubba‘ merupakan sebutan atau gelar bagi raja-raja Yaman, bentuk jamaknya adalah tabābi‘ah. Dinamakan demikian karena satu sama lain saling mengikuti. Setiap ada raja yang meninggal, maka yang lainnya menggantikannya mengikuti pendahulunya. Dalam tafsir, tubba‘ adalah sebutan bagi raja. Dia adalah seorang yang beriman sedangkan kaumnya kafir. Dalam Kamus Lisān al-‘Arab disebutkan bahwa Raja Tubba‘ berkata, ‘Ini adalah makam Raḍwā dan Hubbā, dua anak Tubba‘, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan yang lain.’ Ini sebagai bukti bahwa Raja Tubba‘ adalah Muslim. Dikuatkan dalam sebuah hadis, ‘Janganlah kalian mencerca Tubba‘ karena dia telah memeluk Islam.’ Dalam hadis yang lain disebutkan, ‘Janganlah mencerca Tubba‘, karena dia adalah yang pertama memberikan kain pada ka‘bah’. Raja Tubba‘ ini bernama As‘ad Abu Karīb, disebut Tubba‘ setelah dia menggenggam daerah Hadramaut, Saba dan Himyār.
Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang tantangan orang kafir agar mendatangkan bapak-bapaknya terdahulu jika Muhammad dan kaumnya adalah orang-orang yang benar. Allah menjawab dengan sebuah analogi, apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik atau kaum Tubba‘ dan orang-orang sebelum mereka. Karena sesungguhnya Allah telah membinasakan mereka karena dosa-dosanya.

