اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
Innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn(a).
Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar).681) Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.
Sesungguhnya Kami menurunkannya pertama kali dari Lauhul-Mahfuz ke langit dunia sekaligus pada malam yang di berkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.
Allah menerangkan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an pada malam penuh berkah yang dikenal dengan malam “Lailah Mubārakah” untuk memperingatkan hamba-Nya dan agar mereka takut kepada siksa-Nya, dan pada malam itu Dia telah memerinci semua hal yang bermanfaat bagi hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Dia adalah Tuhan semesta alam yang mengatur langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya.
Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah tentang hal ihwal hamba-Nya, hidup dan mati mereka adalah di tangan-Nya. Dialah Tuhan mereka dan Tuhan nenek moyang mereka, tetapi mereka masih juga ragu setelah kebenaran itu nyata dan jelas. Firman Allah:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (al-Qadr/97: 1-3)
Peristiwa turunnya Al-Qur’an itu terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana firman Allah:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, (al-Baqarah/2: 185)
Dari hadis Nabi:
عَنْ وَاثِلَةَ بن الأَسْقَعِ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: أُنْزِلَتْ صُحُفُ اِبْرَاهِيْمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الزَّبُوْرُ لاِثْنَتَي عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الاِنْجِيْلُ لِثَمَانِ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ اْلقُرْاَنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ. (رواه أحمد والطبراني والبيهقي)
Dari Wāṡilah bin al-Asqa‘ bahwa Rasulullah saw bersabda: Ṣuḥuf Ibrahim diurunkan pada malam pertama bulan Ramadan, Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadan, Zabur pada malam 12 Ramadan, Injil pada malam 18 Ramadan dan Al-Qur’an diturunkan pada malam 24 Ramadan. (Riwayat Aḥmad, aṬ-Ṭabrānī, dan al-Baihaqi)
Allah menurunkan Al-Qur’an untuk memberitahukan kepada manusia tentang hal-hal yang bermanfaat untuk diamalkan dan hal-hal yang akan mencelakakan mereka, agar mereka menjauhinya, untuk menjadi hujah bagi Allah atas hamba-Nya.
Lailah Mubārakah لَيْلَة مُبَارَكَة (ad-Dukhān/44: 3)
Kalimat lailah mubārakah terdiri dari dua kata yaitu lailah dan mubārakah. Kata lailah bermakna malam hari yang dimulai dari terbenamnya matahari sampai terbit kembali. Kata ini merupakan antonim dari kata nahār. Keduanya tidak akan pernah bersatu. Lail alyāl malam yang sangat pekat dan gelap. Lailā juga nama untuk kerudung hitam. Orang Arab menggunakan kata ini untuk sesuatu yang lemah, oleh karena itu lailah adalah nama untuk perempuan. Laki-laki yang lemah dan dungu disebutnya dengan Abū Laila. Mua‘wiyah bin Yazid mendapatkan gelar ini karena pemerintahannya hanya bertahan tiga bulan saja.
Sedangkan kata mubārakah berasal dari kata bāraka-yubāriku-mubārakat an yang berarti tumbuh dan bertambah. Di dalamnya ada makna keberkahan, kebahagiaan dan kenikmatan. At-tabrīk adalah doa seseorang kepada orang lain agar mendapatkan keberkahan. Bārakallāh ‘alaik semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu. Tabārakallah artinya Mahasuci Allah. Bāraka juga berarti pada sekumpulan unta yang sedang mendekam. Diartikan juga dengan bagian dada. Pengertian pertama lebih banyak digunakan dan populer dalam arti keberkahan.
Kata lailah mubārakah dipahami oleh mayoritas ulama dan mufasir dalam arti malam lailatul qadar yang terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah al-Qadr/97: 1. Tetapi meskipun para ulama berbeda pendapat dalam penentuan malam ini, ayat di atas merupakan penegasan dari Surah al-Qadr bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang penuh berkah, kebahagiaan dan kenikmatan. Sebagian ulama memahami lailah mubārakah di sini dengan malam niṣfu Sya‘ban atau tanggal 15 Sya‘ban berdasarkan sebuah hadis bahwa Nabi saw bersabda: “Kalau malam pertengahan Sya‘ban tiba, maka salatlah pada malam harinya dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun pada saat terbenamnya matahari ke langit dunia dan berfirman “Adakah yang memohon ampun sehingga Ku ampuni, adakah yang menerima cobaan sehingga Ku anugerahi perlindungan, adakah yang memohon rezeki sehingga Ku beri rezeki.” Imam Nawawi secara tegas menolak pendapat ini dan berpendapat bahwa lailah mubārakah adalah malam bulan Ramadan bukan niṣfu Sya‘bān.
















































