حٰمۤ ۚ
Ḥā mīm.
ḤāMīm.
Ha Mim.
“Ḥā mīm” termasuk huruf-huruf hijaiah yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Qur’an. Para mufasir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Untuk jelasnya dipersilakan menelaah kembali uraian yang ada pada permulaan Surah al-Baqarah jilid I “Al-Qur’an dan Tafsirnya” dengan judul “Fawātiḥus-suwar”.
1. Syirk شِرْكٌ (al-Aḥqāf/46: 4)
Secara kebahasaan syirk berarti bagian, dan keyakinan adanya banyak tuhan. Dalam konteks ayat ini, kata syirk berarti peran serta atau ambil bagian. Kata tersebut dalam ayat ini bermakna, "Atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit?" Di sini Allah menegaskan bahwa dalam menciptakan dunia seisinya, Dia tidak memerlukan bantuan dalam bentuk apa pun dari hambanya.
Kata syirk dalam terminologi Islam yang lebih luas mempunyai dua ranah pokok, yaitu syirk dalam ranah aqidah (keyakinan) dan syirk dalam ranah ibadah. Syirk dalam ranah aqidah, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi saw:
وَالشِّرْكُ أَنْ تَجْعَلَ ِللهِ نِدّاً وَهُوَ خَلَقَكَ. (رواه مسلم وغيره عن عبد الله بن مسعود)
Syirik adalah kamu menjadikan tandingan bagi Allah padahal Allah yang menciptakanmu. (Riwayat Muslim dan yang lainnya dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd)
Sedangkan syirk dalam ranah ibadah berarti menjalankan ibadah kepada selain Allah. Sebagaimana kata ulama, syirik adalah memalingkan ibadah untuk selain Allah. Hal ini didasarkan pada hadis:
إِنَّ أَخْوَفَ ماَ أَخاَفُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قاَلُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَارَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قاَلَ: الـرِّيَاءُ. (رواه أحمد عن محمود بن لبيد)
Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Sahabat pun bertanya, “Apa (yang dimaksud dengan) syirik kecil, wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “(Yaitu) ria (mengerjakan amalan untuk selain Allah).” (Riwayat Aḥmad dari Maḥmūd bin Labīd)
2. Aṡārah اَثَارَة (al-Aḥqāf/46: 4)
Secara kebahasaan kata aṡārah merupakan bentuk maṣdar yang berderivasi dari akar kata aṡar yang berarti sisa, bekas, dan peninggalan dari orang-orang terdahulu. Kata tersebut dalam ayat ini bermakna peninggalan dari ilmu pengetahuan orang-orang terdahulu. Di samping itu, kata tersebut dapat juga diartikan sebagai peninggalan orang-orang terdahulu yang berupa buku, ajaran, atau petuah dari para nabi terdahulu.
















































