اَرَاَيْتَ اِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ
Ara'aita in każżaba wa tawallā.
Bagaimana pendapatmu kalau dia mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan)?
Bagaimana pendapatmu jika dia yang melarang itu mendustakan Nabi serta wahyu Allah dan berpaling dari keimanan dan berbuat kebajikan?
Selanjutnya Allah meminta Nabi Muhammad memperhatikan orang yang melarang orang beribadah itu, yaitu Abū Jahal sebagai contoh, apakah jika ia memandang Allah dan ajaran-ajaran-Nya dusta, lalu berpaling, dan tidak mau menggubrisnya. Ia tidak tahu bahwa Allah melihat perbuatannya itu. Tidak demikian halnya, Allah mengetahui setiap perbuatan dosanya itu dan akan memberikan balasannya.
Yanhā يَنْهَى (al-‘Alaq/96: 9)
Kata yanhā terambil dari kata an-nahy, yakni larangan atau pencegahan. Dari kata ini terbentuk sekian banyak kosakata yang kesemuanya mengandung makna pencegahan. Misalnya kata nihāyah/batas akhir sesuatu, karena dengan batas akhir itu, tercegahlah adanya penambahan. An-nahy yang berarti larangan atau pencegahan, mengisyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan tadi harus tidak dilakukan lagi, sehingga ia berakhir dan telah mencapai batasnya. Demikian pula kata an-nuhā/akal pikiran, ia diharapkan berfungsi mencegah pemiliknya melakukan hal-hal yang tidak wajar.

