عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
‘Allamal-insāna mā lam ya‘lam.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Manusia adalah makhluk yang potensial untuk berkarya melalui ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari Allah. Manusia belajar baik dari alam sekitar yang merupakan ciptaan-Nya maupun dari wahyu yang Allah sampaikan melalui para rasul.
Di antara bentuk kepemurahan Allah adalah Ia mengajari manusia mampu menggunakan alat tulis. Mengajari di sini maksudnya memberinya kemampuan menggunakannya. Dengan kemampuan menggunakan alat tulis itu, manusia bisa menuliskan temuannya sehingga dapat dibaca oleh orang lain dan generasi berikutnya. Dengan dibaca oleh orang lain, maka ilmu itu dapat dikembangkan. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahuinya, artinya ilmu itu akan terus berkembang. Demikianlah besarnya fungsi baca-tulis.
‘Alaq عَلَق (al-‘Alaq/96: 2)
Kata ‘alaq diambil dari kata ‘aliqa-ya‘laqu-‘uluqan yang berarti bergantung, melekat. Kata ‘alaq berarti darah beku, segumpal darah/ segumpal sel, juga berarti binatang lintah/cacing yang terdapat di dalam air, bila terminum oleh binatang, maka ia tersangkut di kerongkongannya. Sebagian ulama mengartikan ‘alaq dengan makna segumpal darah, dan sebagian yang lainnya memahaminya dalam arti sesuatu yang tergantung di dinding rahim. Hal ini disebabkan karena setelah terjadinya pertemuan antara sperma dan indung telur dan setelah terjadi pembuahan, maka hasil pembuahan itu melekat dan bergantung pada dinding rahim. Kata ‘alaq juga berbicara tentang sifat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, tetapi selalu bergantung kepada selainnya.
Kata ‘alaq dan yang serumpun dengannya disebutkan 7 kali dalam Al-Qur’an yang antara lain adalah pada Surah al-‘Alaq ayat 2. Juga kata ‘alaq sebagai nama salah satu surah dalam Al-Qur’an.















































