كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ
Kallā innal-insāna layaṭgā.
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas
Manusia sangat bangga dengan materi sehingga tidak segan berbuat zalim. Sekali kali tidak boleh demikian! Sungguh,
Allah menyesali manusia karena banyak mereka yang cenderung lupa diri sehingga melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas, yaitu kafir kepada Allah dan sewenang-wenang terhadap manusia. Kecenderungan itu terjadi ketika mereka merasa sudah berkecukupan. Dengan demikian, ia merasa tidak perlu beriman, dan karena itu ia berani melanggar hukum-hukum Allah. Begitu juga karena sudah merasa berkecukupan, ia merasa tidak butuh orang lain dan merasa berkuasa, dan karena itu ia akan bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain itu.
Istagnā اِسْتَغْنَى (al-‘Alaq/96: 7)
Kata istagnā terambil dari kata ganiya, yang antara lain berarti ‘tidak butuh, memiliki kelapangan hati atau memiliki harta yang banyak.’ Sementara ulama menetapkan bahwa yang dimaksud di sini adalah kepemilikan harta. Namun memahaminya dalam arti umum lebih baik, yakni merasa memiliki kecukupan yang mengantarnya merasa tidak membutuhkan apapun, baik materi, ilmu pengetahuan dan sebagainya.







































