قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
Qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm(in).
Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
Katakanlah, wahai Rasulullah, kepada orang-orang musyrik, “Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar, hari kiamat, jika aku mendurhakai Tuhanku dengan menyalahi perintah-Nya, lebih-lebih menyekutukan-Nya. Karena itu, aku tidak akan pernah berkompromi dengan segala bentuk kemusyrikan.”
Sesudah Allah menjelaskan dasar agama yang harus menjadi pegangan seorang Rasul, maka dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyatakan kepada kaum musyrik, bahwa jika beliau melakukan kemaksiatan, melanggar perintah Allah atau menyimpang dari asas agama yang ditetapkan Allah maka Rasul takut azab hari Kiamat akan menimpanya, sebab pada hari itu Allah akan berhadapan dengan hamba-hamba-Nya untuk menjatuhkan azab kepada mereka yang berdosa dan memberikan pahala kepada mereka yang beramal saleh. Pada hari yang dahsyat ini tidak seorang pun yang dapat menolong orang lain, karena kasih sayang atau persaudaraan. Ayat ini menunjukkan sifat Rasulullah bahwa beliau meskipun jauh dari kemungkinan melakukan maksiat, namun hati beliau tetap takut kepada Allah dalam segala keadaan.
1. Fāṭir فَاطِرْ(al-An‘ām/6 : 14)
Asal katanya (ف- ط- ر ) artinya membuka sesuatu dan melahirkannya. Ifṭar adalah makan pada pagi hari (sarapan). Afṭara aṣ-ṣā’im artinya orang itu berbuka puasa. Lalu muncul arti menciptakan. Ungkapan ana faṭartu al-bi’r artinya saya yang pertama menggali sumur itu. Fiṭrah adalah sifat asal atau pengetahuan awal yang menancap pada diri manusia. Selanjutnya kata fāṭir diartikan dengan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru yang tidak mencontoh pada yang lainnya.
2. Bāri’ بَارِئ(al-An‘ām/6: 19)
Arti asalnya adalah pertama menciptakan. Kedua, menjauh. Ungkapan “bara’a minal-maraḍi” artinya ia terjauh dari sakit atau dia telah sembuh. Dari arti kedua muncul arti berlepas diri, bebas dan lain sebagainya. Arti inilah yang dimaksud dengan kata bāri’ pada ayat ini. Dikatakan juga bara’ sebagaimana sering digunakan oleh Ahli Hijaz, Mekah-Medinah (lihat az-Zukhruf/43: 26)














































