وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَّمُسْتَوْدَعٌ ۗقَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّفْقَهُوْنَ
Wa huwal-lażī ansya'akum min nafsiw wāḥidatin fa mustaqarruw wa mustauda‘(un), qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy yafqahūn(a).
Dialah yang menciptakanmu dari diri yang satu (Adam), maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat menyimpan.254) Sungguh, Kami telah memerinci tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang memahami.
Aneka makhluk telah diuraikan, baik yang berada di langit maupun di bumi, berikutnya dijelaskan kembali tentang makhluk yang paling dimuliakan Allah, yaitu manusia. Dan Dialah yang menciptakan kamu, wahai umat manusia, dari diri yang satu, yakni Adam, yang melalui istrinya kamu berkembang biak, maka bagimu ada tempat menetap dan juga tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan dengan aneka macam cara dan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.
Allah mengajak manusia untuk memikirkan kejadian diri mereka sendiri yaitu mereka diciptakan oleh Allah dari diri yang satu. Penjelasan ini memberikan pengertian bahwa semua manusia yang terdiri dari berbagai bangsa dan suku dengan beraneka ragam bentuk dan warna kulitnya, berpangkal dari satu asal yaitu dari Adam dan Hawa. Mereka ini diciptakan oleh Allah dari satu jenis (dari tanah) seperti juga dijelaskan dalam firman-Nya:
يٰٓاَيّ هَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً
Waha i manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (an-Nisā’/4: 1).
Penjelasan ini menjawab rahasia kejadian manusia yang banyak dibahas oleh para ilmuwan, dan sebagai penegasan kepada manusia agar mereka jangan mengagungkan berhala dan bintang-bintang, akan tetapi hendaklah mereka beribadah hanya kepada Pencipta mereka sendiri yaitu Allah Yang Maha Esa dan Mahakuasa; agar mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu agar mereka hidup kenal-mengenal dan tolong-menolong di antara sesama manusia karena mereka pada hakekatnya mempunyai martabat yang sama dan berasal dari jenis yang sama pula. Perbedaan kebangsaan, suku, bentuk dan warna kulit janganlah dijadikan sebab untuk permusuhan dan kebencian, akan tetapi hendaklah dijadikan sebab untuk menjalin persaudaraan dan rasa syukur terhadap nikmat Allah Yang Mahakuasa.
Kemudian Allah menjelaskan proses pengembangbiakan manusia, bahwa proses pengembangbiakan itu terjadi atas kuasa Allah pula. Manusia diciptakan dari sperma dan ovum. Sperma berasal dari laki-laki sedangkan ovum dari wanita. Sperma yang terpancar dari laki-laki membuahi ovum, yang dalam beberapa waktu lamanya berada dalam rahim wanita; sesudah melalui proses tertentu lahirlah seorang bayi. Sejak saat itulah bayi itu hidup di alam dunia sampai ajalnya tiba, lalu kembali ke alam baka.
Penjelasan ini merupakan perluasan dari ayat-ayat yang lalu agar manusia mendapatkan penjelasan secara lebih terperinci, bahwa kekuasaan Allah tidak hanya berlaku pada benda-benda mati akan tetapi juga berlaku bagi makhluk-makhluk yang hidup. Hal inipun dapat dipahami oleh orang-orang yang suka memahami.
1. Fāliqul-ḥabb wan-Nawā فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى(al-An ām/6: 95)
Arti asalnya adalah pembelah butir dan biji. Yang dimaksud butir (ḥabb) ialah seperti biji gandum, padi dan lain sebagainya. Sedangkan biji (an-nawa) seperti biji kurma. Maksud akhir dari ungkapan di atas ialah penumbuh keduanya. Akar katanya (ف- ل- ق) artinya membelah. Jika sebuah biji ditanam di tanah maka biji tersebut akan membelah dan mengeluarkan tunasnya. Semua kejadian tersebut terjadi atas kehendak Allah.
2. Mustaqarr wa Mustauda’ مُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ (al-An‘ām/6: 98)
Akar kedua kata tersebut dari qarr ( قر ) dan wad’( ودع ) . Yang pertama berarti tempat menetap, yang kedua berarti tempat simpanan. Perbedaan keduanya adalah jika pertama tempat menetap yang mantap karena terambil dari kata “qarar” yang berarti menetap. Sedangkan yang kedua tempat penitipan yang tidak menetap karena sewaktu waktu bisa kembali. Kata (ودع) berarti meninggalkan sesuatu dan sewaktu-waktu bisa kembali. Atas dasar ini para mufasir berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa mustaqarr berarti rahim seorang ibu, dan mustauda’ berarti tulang punggung (sulb) ayah, karena air mani pada seorang tidak menetap pada masa yang lama, sedangkan janin yang ada pada rahim akan menetap relatif lebih lama. Ada juga yang mengartikan sebaliknya karena air mani ada terlebih dahulu pada diri seorang ayah sebelum berada di rahim. Ada juga yang mengartikan mustaqarr dengan rahim dan mustauda’ dengan kuburan. Pendapat lainnya berkisar antara rahim dan kuburan atau di atas bumi dan Akhirat di sisi Allah, atau di kuburan dan di dunia di samping keluarga, atau surga/neraka dan kuburan, karena surga/neraka bersifat tetap, sementara kuburan tidak. Semua penafsiran tersebut sah-sah saja mengingat ungkapan kedua kalimat tersebut bersifat nakirah (tidak menentukan).
















































