Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 100 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 100 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 140 •  Quarter Hizb 14.75 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوْا لَهٗ بَنِيْنَ وَبَنٰتٍۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يَصِفُوْنَ ࣖ

Wa ja‘alū lillāhi syurakā'al-jinna wa khalaqahum wa kharaqū lahū banīna wa banātim bigairi ‘ilm(in), subḥānahū wa ta‘ālā ‘ammā yaṣifūn(a).

Mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sekutu-sekutu bagi Allah, padahal Dia yang menciptakannya (jin-jin itu). Mereka berbohong terhadap-Nya (dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai) anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa (dasar) pengetahuan.255) Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari sifat-sifat yang mereka gambarkan.

Makna Surat Al-An‘am Ayat 100
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Aneka macam bukti yang dipaparkan seperti yang disebut pada beberapa ayat di atas, agaknya belum menjadikan kaum musyrik sadar akan keyakinannya yang keliru. Salah satu bentuk keyakinan yang sesat itu diurai pada ayat ini. Dan mereka, orang-orang musyrik, menjadikan jin sekutu-sekutu Allah, padahal Dia yang menciptakannya, yakni jin-jin itu, dan mereka berbohong dengan mengatakan, “Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, yaitu para malaikat.” Itu mereka yakini dan ucapkan tanpa dasar ilmu pengetahuan sedikit pun. Mahasuci Allah dari segala apa yang mereka ucapkan dan yakini, dan Mahatinggi Dia dari sifat-sifat yang mereka gambarkan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjadikan jin sekutu bagi Allah. Dikatakan demikian karena orang-orang musyrik itu meskipun kenyataannya menyembah berhala-berhala, namun pada hakikatnya mereka berbuat demikian itu lantaran mengikuti bisikan jin dan setan.

Allah berfirman:

اِنْ يَّدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلَّآ اِنٰثًاۚ وَاِنْ يَّدْعُوْنَ اِلَّا شَيْطٰنًا مَّرِيْدًاۙ ١١٧ لَّعَنَهُ اللّٰهُ ۘ وَقَالَ لَاَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًاۙ ١١٨ وَّلَاُضِلَّنّ َهُمْ وَلَاُمَنِّيَن َّهُمْ وَلَاٰمُرَنَّه ُمْ فَلَيُبَتِّكُن َّ اٰذَانَ الْاَنْعَامِ وَلَاٰمُرَنَّه ُمْ فَلَيُغَيِّرُن َّ خَلْقَ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يَّتَّخِذِ الشَّيْطٰنَ وَلِيًّا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِيْنًا ١١٩

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah ināṡan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dilaknati Allah, dan (setan) itu mengatakan, “Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu, dan pasti kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya).” Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata. (an-Nisā’/4: 117-119)

Allah menjelaskan kesalahan perbuatan mereka karena mereka sebenarnya telah mengetahui bahwa yang menciptakan jin-jin itu ialah Allah. Itulah sebabnya maka perbuatan mereka itu dicela. Celaan Allah terhadap mereka itu adalah seperti celaan Ibrahim a.s. terhadap kaumnya.

Allah berfirman:

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ ٩٥ وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ ٩٦

“Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (aṣ-Ṣaffāt/37: 95-96)

Allah mencela pula perbuatan mereka, karena mereka telah berbohong dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak laki-laki adalah seperti tuduhan orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah swt berfirman:

وَقَالَت ِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” (at-Taubah/9: 30)

Sedangkan tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak perempuan diterangkan dalam firman Allah:

فَاسْتَفْت ِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُوْنَۚ ١٤٩ اَمْ خَلَقْنَا الْمَلٰۤىِٕكَة َ اِنَاثًا وَّهُمْ شٰهِدُوْنَ ١٥٠ اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَ ۙ ١٥١ وَلَدَ اللّٰهُ ۙوَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ ١٥٢

Maka tanyakanlah (Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah), “Apakah anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?” atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan sedangkan mereka menyaksikan(nya)? Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan, “Allah mempunyai anak.” Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta. (aṣ-Ṣaffāt/37: 149-152)

Mereka melemparkan tuduhan itu dengan tidak mempunyai alasan sedikit pun. Bahkan perkataan mereka menunjukkan kebodohan mereka sendiri atau semata-mata menuruti hawa nafsu.

Di akhir ayat ini Allah membersihkan diri-Nya dari tuduhan-tuduhan mereka, bahwa Dia Mahasuci dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan, yaitu bahwa Allah tidak mempunyai serikat dan tidak mempunyai anak.

Isi Kandungan Kosakata

1. Kharaqū خَرَقُوْا(al-An‘ m/6: 100)

Artinya mereka telah berbohong atau melakukan kebohongan. Kata dasarnya adalah ( خ- ر- ق ) yang berarti memotong sesuatu dengan tujuan merusak tanpa dipikir terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan kata (خ- ل- ق) yang menunjukkan arti melakukan sesuatu dengan perkiraan yang cermat, pelan-pelan, dengan tujuan baik. Ungkapan kharaqa aṡ-ṡauba artinya dia merobek pakaian. Pekerjaan merobek adalah pekerjaan yang tidak beraturan. Dari arti kata dasar ini maka muncul arti kebohongan, karena kaum musyrik melakukan sesuatu yang bersifat merusak tentang akidah terhadap Allah seperti perkataan mereka, “Allah mempunyai anak lelaki dan perempuan.”

2. Badī’ بَدِيعُ(al-An‘ām/6 : 101)

Akar katanya (ب- د- ع) artinya berkisar pada dua hal yaitu pertama, membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Kedua, keterputusan atau ketumpulan, keletihan, dan lesu. Kata bid’ah juga mempunyai arti semisal yaitu suatu perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya dari Nabi Muhammad. Allah menciptakan langit dan bumi tanpa meniru dan mencontoh yang lain.

3. Darasta دَرَسْتَ(al-An‘ām /6: 105)

Pada kalimat ini ada tiga bacaan, yaitu darasta, dārasta dan darasat. Bacaan pertama berarti kamu telah mempelajari (Al-Qur’an dari orang lain). Bacaan kedua berarti kamu saling mengajarkan. Artinya kamu membacakan kepada ahli kitab dan mereka membacakannya kepada kamu. Bacaan ketiga berarti berita-berita yang telah kamu (Muhammad) bacakan kepada kami telah kuno sehingga telah hilang dari peredaran dan sirna. Arti umum dari kata (د- ر- س) ialah melakukan sesuatu berulangkali sehingga hal tersebut menjadi hilang/sirna atau mencapai puncaknya. Pakaian yang dipakai terus menerus lalu rusak disebut daris. Ungkapan darasa al-kitab artinya dia membacanya berulang kali sehingga membekas di otak dan dihapal.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto