Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 2 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 2 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 128 •  Quarter Hizb 13.5 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ ثُمَّ قَضٰٓى اَجَلًا ۗوَاَجَلٌ مُّسَمًّى عِنْدَهٗ ثُمَّ اَنْتُمْ تَمْتَرُوْنَ

Huwal-lażī khalaqakum min ṭīnin ṡumma qaḍā ajalā(n), wa ajalum musamman ‘indahū ṡumma antum tamtarūn(a).

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan batas waktu hidup (masing-masing). Waktu yang ditentukan (untuk kebangkitan setelah mati) ada pada-Nya. Kemudian, kamu masih meragukannya.

Makna Surat Al-An‘am Ayat 2
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dialah Allah, yang menciptakan kamu dan nenek moyangmu, Nabi Adam, langsung dari tanah, dan menciptakan kamu, anak keturunan Adam dari saripati tanah; kemudian Dia menetapkan ajal, saat kematianmu; sedangkan batas akhir hidupmu di dunia bersifat rahasia, hanya diketahui oleh-Nya semata-mata; namun demikian, kamu, manusia yang kafir masih saja meragukannya, yakni meragukan keberadaan Allah beserta kekuasaan, kebesaran, dan kasih sayang-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

kredibilitas teori ini.

Teori lain yang berkembang adalah “Primitive Extraterrestrial” atau exogenesis yang membahas kemungkinan asal kehidupan dari luar bumi. Perkembangan terakhir, dengan berkembangnya studi tentang DNA, semakin banyak ilmuwan (scientist) yang meyakini bahwa kehidupan hanya bisa terjadi dengan adanya disain yang pintar (brilliant design) dari seorang creator.

Setelah memaparkan pendapat scientist seputar penciptaan manusia dari tanah timbul pertanyaan, jika Allah kuasa menciptakan sel hidup dari zat-zat mati, mengapa Allah tidak kuasa membangkitkan manusia pada hari Kiamat? Bukankah pada proses kejadian manusia itu sendiri terdapat bukti nyata yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk mengadakan hari kebangkitan? Allah menentukan pula dua peristiwa untuk manusia yang tak dapat dielakkan, yaitu waktu kematiannya dan waktu kebangkitannya dari kubur. Baik waktu yang ditetapkan untuk kematian maupun untuk kebangkitan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah.

Meskipun orang-orang musyrik mengetahui kejadian diri mereka dengan gamblang dan terbatasnya umur mereka, yang kesemuanya itu membuktikan kekuasaan Allah untuk menentukan hari kebangkitan namun mereka masih tetap ragu. Seharusnya mereka dapat menarik pelajaran dari bukti-bukti itu. Jika Allah berkuasa menciptakan zat-zat yang mati menjadi satu lalu memberinya hidup serta menentukan perkembangannya, tentu Allah juga berkuasa menghimpun kembali zat-zat yang mati dan menghidupkannya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

Khalaqa – Ja’ala خَلَقَ- جَعَلَ (al-An‘ām/6: 1)

Kata yang terdiri dari akar (خ- ل- ق) maknanya berkisar pada arti memperkirakan, mengukur, menentukan kadar sesuatu. Dari arti kata dasar ini lalu muncul arti “menciptakan”. Kata “Akhlak” yang berarti budi pekerti juga mengandung arti kadar, karena orang tersebut telah diberikan kadar dan ukuran sifat kemuliaan, sampai melekat pada dirinya. Dalam Al-Qur’an kata ini bisa berarti “ الابداع “ yang artinya menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, tanpa meniru yang lain. Dengan pengertian ini, hanya Allah saja yang mampu melakukannya (an-Naḥl/16: 17). Jika ada yang berpendapat ada makhluk lain selain Allah yang mampu menciptakan sesuatu, harus diartikan bahwa Allah saja yang paling baik penciptaan-Nya (al-Mu’minūn/23: 14). Makna yang kedua dari “خ- ل- ق” ialah menciptakan sesuatu dari sesuatu yang lain, seperti Allah menciptakan manusia dari saripati tanah (al-Mu’minūn/23: 12) Makna yang ketiga adalah bohong (Asy-Syu’ara’/26: 137) Makna ini hanya terkait dengan perkataan.

Kata ( جعل ) mempunyai arti yang luas mencakup keseluruhan pekerjaan seperti melakukan, mengerjakan, menjadikan dan lainnya. Dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa arti. Pertama, Menciptakan atau menjadikan, seperti menjadikan gelap dan terang (al-An‘ām/6: 1), pengertian ini sama dengan kata khalaqa, hanya saja pada kata ja’ala tidak ada unsur memperkirakan, atau mengukur. Kedua, Menjadikan sesuatu dari sesuatu yang lain, seperti menjadikan manusia berpasang-pasangan (an-Naḥl/16: 72). Ketiga, Menjadikan sesuatu berada pada satu keadaan yang berbeda dengan keadaan yang lain, seperti menjadikan rembulan bercahaya dan matahari bersinar (Nūḥ/71: 16). Keempat, Menetapkan satu keadaan atas sesuatu, baik itu benar atau tidak, seperti Allah menetapkan/menjadikan Nabi Musa sebagai seorang rasul (al-Qaṣaṣ/28: 7) atau orang kafir menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan (an-Naḥl/16: 57)

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto