وَهُوَ اللّٰهُ فِى السَّمٰوٰتِ وَفِى الْاَرْضِۗ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُوْنَ
Wa huwallāhu fis-samāwāti wa fil-arḍ(i), ya‘lamu sirrakum wa jahrakum wa ya‘lamu mā taksibūn(a).
Dialah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi. Dia mengetahui apa pun yang kamu rahasiakan dan kamu tampakkan serta mengetahui apa pun yang kamu usahakan.
Dan Dialah Allah, Tuhan yang menciptakan makhluk, baik yang berada di langit maupun di bumi; di antara sifat-sifat-Nya adalah bahwa Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan, tidak ada satu titik pun yang tidak diketahui-Nya; dan Dia pun mengetahui apa yang kamu nyatakan, dan Dia pun mengetahui pula apa saja yang kamu kerjakan, baik maupun buruk, terbuka maupun tertutup.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah adalah yang berhak disembah, yang menerima doa dan harapan dari semua makhluk-Nya di langit dan di bumi. “Allah” adalah nama yang agung bagi Tuhan Rabbal ‘ālamīn, yang sudah dikenal oleh Bangsa Arab sebelum Islam. Bangsa Arab pada zaman jahiliah, bila ditanya tentang Tuhan yang berhak disembah, mereka akan menjawab “Allah.” Tuhan yang memiliki sifat-sifat yang mereka kenal itulah yang mereka sembah.
Ayat lain yang sejalan dengan maksud ayat ini ialah firman Allah:
وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَاۤءِ اِلٰهٌ وَّ فِى الْاَرْضِ اِلٰهٌ ۗوَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ ٨٤
Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui. (az-Zukhruf/43: 84)
Kedua ayat ini, yakni al-An‘ām/6:3 dan az-Zukhruf/43:84 dengan jelas mengagungkan Allah karena kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang yang telah mati, dan lebih-lebih karena kekhususan diri-Nya dalam mengetahui hari kebangkitan dan keesaaan-Nya dalam ketuhanan serta keesaan zat-Nya yang disembah di langit dan di bumi. Kepada Allah sajalah ditujukan doa segala makhluk di alam semesta ini.
Kemudian Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui segala yang mereka rahasiakan atau yang mereka tampakkan, baik perkataan dan perbuatan mereka maupun segala yang terbetik dalam hati mereka. Semua yang diusahakan oleh manusia, tidak luput dari pengetahuan Tuhan. Perbuatan yang baik akan diberi pahala, perbuatan yang buruk akan diberi hukuman. Sangatlah sempurna perhatian Tuhan terhadap perbuatan manusia karena semua perbuatan akan mendapatkan balasan dari-Nya.
Khalaqa – Ja’ala خَلَقَ- جَعَلَ (al-An‘ām/6: 1)
Kata yang terdiri dari akar (خ- ل- ق) maknanya berkisar pada arti memperkirakan, mengukur, menentukan kadar sesuatu. Dari arti kata dasar ini lalu muncul arti “menciptakan”. Kata “Akhlak” yang berarti budi pekerti juga mengandung arti kadar, karena orang tersebut telah diberikan kadar dan ukuran sifat kemuliaan, sampai melekat pada dirinya. Dalam Al-Qur’an kata ini bisa berarti “ الابداع “ yang artinya menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, tanpa meniru yang lain. Dengan pengertian ini, hanya Allah saja yang mampu melakukannya (an-Naḥl/16: 17). Jika ada yang berpendapat ada makhluk lain selain Allah yang mampu menciptakan sesuatu, harus diartikan bahwa Allah saja yang paling baik penciptaan-Nya (al-Mu’minūn/23: 14). Makna yang kedua dari “خ- ل- ق” ialah menciptakan sesuatu dari sesuatu yang lain, seperti Allah menciptakan manusia dari saripati tanah (al-Mu’minūn/23: 12) Makna yang ketiga adalah bohong (Asy-Syu’ara’/26: 137) Makna ini hanya terkait dengan perkataan.
Kata ( جعل ) mempunyai arti yang luas mencakup keseluruhan pekerjaan seperti melakukan, mengerjakan, menjadikan dan lainnya. Dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa arti. Pertama, Menciptakan atau menjadikan, seperti menjadikan gelap dan terang (al-An‘ām/6: 1), pengertian ini sama dengan kata khalaqa, hanya saja pada kata ja’ala tidak ada unsur memperkirakan, atau mengukur. Kedua, Menjadikan sesuatu dari sesuatu yang lain, seperti menjadikan manusia berpasang-pasangan (an-Naḥl/16: 72). Ketiga, Menjadikan sesuatu berada pada satu keadaan yang berbeda dengan keadaan yang lain, seperti menjadikan rembulan bercahaya dan matahari bersinar (Nūḥ/71: 16). Keempat, Menetapkan satu keadaan atas sesuatu, baik itu benar atau tidak, seperti Allah menetapkan/menjadikan Nabi Musa sebagai seorang rasul (al-Qaṣaṣ/28: 7) atau orang kafir menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan (an-Naḥl/16: 57)














































