ذٰلِكَ اَنْ لَّمْ يَكُنْ رَّبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا غٰفِلُوْنَ
Żālika allam yakur rabbuka muhlikal-qurā biẓulmiw wa ahluhā gāfilūn(a).
Demikian itu (pengutusan para rasul) karena Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri karena kezaliman (mereka), sedangkan penduduknya dalam keadaan belum tahu.
Setelah menghardik jin dan manusia tentang sikap mereka terhadap rasul yang diutus kepada mereka, ayat ini menjelaskan hikmah diutusnya rasul. Demikianlah, para rasul diutus karena Tuhanmu tidak akan membinasakan penduduk suatu negeri secara zalim, sedang penduduknya dalam keadaan lengah atau belum tahu. Allah terlebih dahulu mengutus rasul yang mengingatkan kepada mereka, tetapi mereka tetap membangkang. Inilah hakikat keadilan.
Pada ayat ini Allah telah menjelaskan sunah dan ketetapan-Nya sesuai dengan hikmah kebijaksanaan dan keadilan-Nya, apabila Allah hendak membinasakan suatu umat karena kedurhakaan dan kezalimannya, terlebih dahulu Allah mengutus seorang rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka. Allah tidak akan menurunkan azab dan siksa-Nya kepada suatu umat yang dalam keadaan lalai dan terlena sebelum mengirim rasul-Nya kepada mereka yang memberi tuntunan dan petunjuk, yang akan memperingatkan dan menimbulkan kesadaran dalam hati mereka bahwa mereka benar-benar telah sesat dari jalan yang lurus dan telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan keadilan dan perikemanusiaan.
Siksaan yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya yang durhaka kepada rasul yang memberi peringatan kepada mereka, misalnya memusnahkan mereka seperti yang pernah terjadi pada kaum ‘Ād dan Ṡamūd; atau siksaan yang menghinakan mereka dengan cara mengusir dan mencerai beraikan mereka, seperti yang diderita oleh Bani Israil; ada pula siksaan yang menghancurkan kekuatan mereka, seperti yang diderita oleh kaum musyrikin Mekah. Sesudah Nabi Muhammad diutus Allah kepada semua umat manusia, siksaan yang menghancurkan dan memusnahkan itu tidak ada lagi. Adapun malapetaka yang terjadi, seperti gempa, topan, banjir dan sebagainya, adalah cobaan dan ujian bagi umat manusia agar mereka insaf dan sadar akan kekuasaan Allah dan agar mereka selalu ingat kepada-Nya, dan tidak berpaling dari petunjuk dan ajaran yang diturunkan-Nya dengan perantara rasul-Nya.
Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-Nya, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sunatullah dan melanggar norma-norma yang telah diberikan-Nya untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Mungkin ada beberapa umat yang nampaknya kuat dan jaya padahal umat itu telah berpaling dari norma-norma keadilan dan perikemanusiaan, bahkan ada yang mengingkari kekuasaan Allah dan menganggap agama sebagai racun yang membunuh manusia. Hal itu adalah istidrāj dari Allah yang membiarkan mereka tenggelam dalam paham kebendaan, sombong dan takabur atas hasil yang mereka capai. Namun akhirnya mereka akan mengalami nasib seperti orang yang sombong dan takabur. Terserah kepada manusia itu sendiri apakah ia akan menjadi orang yang beriman, mematuhi dan menjalankan semua aturan dan ajaran yang diturunkan-Nya dengan perantaraan rasul-Nya, sehingga dia hidup berbahagia jasmani dan rohaninya, ataukah dia akan menganggap dirinya lebih berkuasa atau lebih pintar serta menganggap ajaran-ajaran agama itu sudah ketinggalan zaman. Manusia bebas berpikir, berbuat dan menetapkan sesuatu menurut kehendaknya dan akhirnya akan terombang-ambing antara teori-teori yang terus berubah dan tidak tentu ujung pangkalnya serta terjerumus ke jurang kehancuran, keonaran dan kerusakan. Allah telah membentangkan di hadapan manusia jalan yang baik dan jalan yang buruk; diserahkan kepada manusia untuk memilihnya, jalan mana yang akan ditempuhnya.
Gāfilūn غَافِلُوْنَ(al-An ‘ām/6: 131)
Merupakan bentuk kata pelaku (ism fā’il) dari kata gafala yang berarti lalai, acuh, tak peduli; gāfil berarti orang yang lalai, jamaknya adalah gāfilūn. Di dalam Al-Qur’an kata gāfilūn itu terulang enam kali (selain al-gāfilūn, gāfilīn, lagāfilūn, lagāfilīn, dan sebagainya.). Sebagai contoh adalah surah Yūsuf/12: 13 dimana Nabi Yakub menyatakan kepada anak-anaknya bahwa ia sesungguhnya merasa berat melepas Yusuf untuk ikut mereka menggembala sambil bermain-main, karena khawatir Yusuf dimakan serigala karena kakak-kakaknya itu “lalai”, yaitu asyik bermain sehingga lupa menjaga Yusuf yang masih kecil.
Dalam al-An‘ām/6: 131 dinyatakan bahwa Allah tidak akan menghancurkan satu negeri karena kezaliman (keingkaran) penduduknya sedangkan penduduk itu dalam keadaan lalai, yaitu tidak mengerti mengenai buruk dan baik karena nabi atau ajaran tentang hal itu tidak sampai kepada mereka; hukuman baru bisa dijatuhkan bila mereka tetap tidak mengindahkan ajaran Nabi yang dikirim atau ajaran itu sampai kepada mereka.
Dalam Yūnus/10: 7 diterangkan empat ciri orang-orang yang akan dijebloskan ke dalam neraka, yaitu, pertama tidak ingin berjumpa dengan Allah, yang berarti tidak mengharapkan karunia-Nya, dan berarti mereka di dunia tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah; kedua, senang dengan apa yang telah diperolehnya di dunia yang diperolehnya dengan cara yang tidak wajar; ketiga, puas dengan apa yang telah diperolehnya itu yang berarti bahwa ia juga tidak mengharapkan adanya kehidupan sesudah mati karena mereka menyangsikan nasib mereka pada waktu itu; keempat, lalai terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat itu berupa alam semesta ini sehingga tidak dijadikan sebagai bukti adanya Allah dan kekuasan-Nya, maupun lalai terhadap ajaran-ajaran agama, sehingga tidak dipatuhi.
Dan dalam al-Aḥqāf/46: 5 diungkapkan dalam bentuk kalimat tanya, siapa lagi yang lebih sesat dari pada seorang yang memohon kepada sesuatu (berhala) yang tidak akan bisa mengabulkannya sampai kiamat sekalipun. Jawabannya tentulah bahwa tidak ada lagi yang lebih bodoh selain orang yang berdoa kepada berhala.
Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa gāfilūn “lalai” digunakan dalam arti “lengah”, tidak mengindahkan ayat-ayat Allah dan ketentuan-ketentuan agama, dan dalam arti “tidak mampu mendengar/memahami”.






































