وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Wa likullin darajātum mimmā ‘amilū, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ya‘malūn(a).
Masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
Dan masing-masing orang ada yang beramal untuk ketaatan dan ada pula yang senantiasa bermaksiat kepada Allah, mereka akan memperoleh balasan sesuai dengan tingkatannya, yaitu sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad tidak lengah terhadap apa yang mereka, yakni hamba-hamba-Nya, kerjakan.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa masing-masing jin dan manusia yang telah mendapatkan seruan rasul, akan mendapat derajat dan tingkatan yang sesuai dengan amal perbuatannya. Orang yang beriman, yang bertakwa dan mengerjakan amal saleh, akan mendapat derajat dan tingkatnya sesuai dengan tebalnya iman, kuatnya takwa dan banyaknya amal saleh yang dikerjakan seperti derajat para nabi, ṣiddīqīn (orang-orang yang benar keyakinannya dalam hidup mereka), syuhadā’ (para kesatria dan pahlawan) dan ṣālihīn (orang-orang yang saleh), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِ يْنَ وَالشُّهَدَاۤء ِ وَالصّٰلِحِيْن َ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا ٦٩
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisā’/4: 69).
Sebaliknya orang-orang kafir, munafik dan ingkar yang banyak melakukan kejahatan, akan menempati tingkat yang rendah yang paling bawah, sesuai dengan usaha dan pekerjaan mereka masing-masing; seperti orang munafik tempatnya adalah di dalam neraka yang paling bawah, sebagai tersebut dalam firman Allah:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْن َ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.(an-Nisā’/4: 145).
Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang dikerjakan oleh jin dan manusia. Semua pekerjaannya, baik yang kecil maupun yang besar, yang buruk atau yang baik, akan dicatat dan mereka akan mendapat balasannya. Kejahatan akan dibalas dengan siksaan yang setimpal dan kebaikan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.
Gāfilūn غَافِلُوْنَ(al-An ‘ām/6: 131)
Merupakan bentuk kata pelaku (ism fā’il) dari kata gafala yang berarti lalai, acuh, tak peduli; gāfil berarti orang yang lalai, jamaknya adalah gāfilūn. Di dalam Al-Qur’an kata gāfilūn itu terulang enam kali (selain al-gāfilūn, gāfilīn, lagāfilūn, lagāfilīn, dan sebagainya.). Sebagai contoh adalah surah Yūsuf/12: 13 dimana Nabi Yakub menyatakan kepada anak-anaknya bahwa ia sesungguhnya merasa berat melepas Yusuf untuk ikut mereka menggembala sambil bermain-main, karena khawatir Yusuf dimakan serigala karena kakak-kakaknya itu “lalai”, yaitu asyik bermain sehingga lupa menjaga Yusuf yang masih kecil.
Dalam al-An‘ām/6: 131 dinyatakan bahwa Allah tidak akan menghancurkan satu negeri karena kezaliman (keingkaran) penduduknya sedangkan penduduk itu dalam keadaan lalai, yaitu tidak mengerti mengenai buruk dan baik karena nabi atau ajaran tentang hal itu tidak sampai kepada mereka; hukuman baru bisa dijatuhkan bila mereka tetap tidak mengindahkan ajaran Nabi yang dikirim atau ajaran itu sampai kepada mereka.
Dalam Yūnus/10: 7 diterangkan empat ciri orang-orang yang akan dijebloskan ke dalam neraka, yaitu, pertama tidak ingin berjumpa dengan Allah, yang berarti tidak mengharapkan karunia-Nya, dan berarti mereka di dunia tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah; kedua, senang dengan apa yang telah diperolehnya di dunia yang diperolehnya dengan cara yang tidak wajar; ketiga, puas dengan apa yang telah diperolehnya itu yang berarti bahwa ia juga tidak mengharapkan adanya kehidupan sesudah mati karena mereka menyangsikan nasib mereka pada waktu itu; keempat, lalai terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat itu berupa alam semesta ini sehingga tidak dijadikan sebagai bukti adanya Allah dan kekuasan-Nya, maupun lalai terhadap ajaran-ajaran agama, sehingga tidak dipatuhi.
Dan dalam al-Aḥqāf/46: 5 diungkapkan dalam bentuk kalimat tanya, siapa lagi yang lebih sesat dari pada seorang yang memohon kepada sesuatu (berhala) yang tidak akan bisa mengabulkannya sampai kiamat sekalipun. Jawabannya tentulah bahwa tidak ada lagi yang lebih bodoh selain orang yang berdoa kepada berhala.
Dari contoh-contoh di atas terlihat bahwa gāfilūn “lalai” digunakan dalam arti “lengah”, tidak mengindahkan ayat-ayat Allah dan ketentuan-ketentuan agama, dan dalam arti “tidak mampu mendengar/memahami”.
















































