Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 74 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 74 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 137 •  Quarter Hizb 14.5 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

۞ وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً ۚاِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Wa iż qāla ibrāhīmu li'abīhi āzara atattakhiżu aṣnāman ālihah(tan), innī arāka wa qaumaka fī ḍalālim mubīn(in).

(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya,250) Azar, “Apakah (pantas) engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Makna Surat Al-An‘am Ayat 74
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kini diberikan contoh pengalaman Nabi Ibrahim dalam mengajarkan tauhid kepada kaumnya yang musyrik. Dan ingatlah serta jelaskanlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya yang bernama atau bergelar Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala yang engkau buat sendiri itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat dan menilai engkau, wahai orang tuaku, dan melihat juga kaummu yang sama-sama menyembah berhala itu sungguh dalam kesesatan yang nyata.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengingatkan orang-orang musyrik kepada kisah nenek moyangnya yang mereka muliakan, yaitu Nabi Ibrahim agar mereka mengikuti agama nenek moyang mereka. Ibrahim mengajak manusia untuk beragama tauhid dan menghentikan perbuatan syirik.

Dalam kisah ini diungkap kembali percakapan antara Nabi Ibrahim dengan bapaknya Aẓar. Nabi Ibrahim menanyakan kepada bapaknya dan kaumnya apakah pantas mereka itu menjadikan berhala-berhala, yang mereka buat sendiri sebagai tuhan? Mengapa mereka tidak menyembah Allah yang menciptakan mereka dan menguasai berhala-berhala itu. Semestinya mereka tahu bahwa Allah-lah yang berhak disembah. Itulah sebabnya maka Nabi Ibrahim menegaskan bahwa dirinya betul-betul mengetahui bahwa bapak dan kaumnya terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang nyata, jauh menyimpang dari jalan yang lurus.

Perbuatan mereka jelas tersesat dari ajaran wahyu dan menyimpang dari akal yang sehat, karena berhala-berhala itu tidak lain hanyalah patung-patung hasil pahatan yang dibuat dari batu, kayu atau logam, dan lain-lain. Semestinya berhala lebih rendah derajatnya dari pemahatnya. Mereka seharusnya mengerti bahwa berhala-berhala itu bukanlah Tuhan, akan tetapi merekalah yang menjadikannya sebagai Tuhan. Oleh sebab itu tidak masuk akal apabila ada manusia yang menyembah sesama makhluk padahal makhluk itu tidak sanggup menguasai jagat raya dan segala isinya, apalagi yang disembah itu patung yang tak dapat berbuat apa-apa.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Mūqinīn اَلْمُوْقِنِيْ نَ(al-An‘ām/6: 75)

Isim fa’il dari ayqana. Kata dasarnya adalah yaqin. Yaqin adalah pengetahuan yang didapatkan setelah merenung dan memikirkan. Yaqin

dihasilkan setelah adanya syubhat atau keraguan. Dalam menghadapi satu persoalan seseorang biasanya merasa ragu, tapi setelah dia mendapatkan banyak dalil atau petunjuk, keraguan itu sedikit demi sedikit akan sirna, digantikan oleh perasaan tenang dan tenteram.

2. Janna جَنَّ (al-An‘ām/6: 76)

Asal katanya (ج- ن- ن) artinya tertutup dari pandangan. Jin dikatakan demikian karena makhluk ini tidak dapat dilihat atau tertutup dari pandangan mata kita. Jannah atau kebun karena banyaknya pepohonan sehingga orang yang berada di dalamnya tertutup dan tidak dapat dilihat. Majnūn atau orang gila, karena akalnya tertutup. Janan artinya hati, karena hati berada di dalam dada yang tertutup oleh pandangan. Janīn artinya bayi dalam kandungan, karena tertutup oleh perut. Dengan demikian kata janna pada ayat tersebut bisa diartikan dengan “ketika dia (Ibrahim) tertutupi oleh gelapnya malam.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto