وَتَاللّٰهِ لَاَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ بَعْدَ اَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ
Wa tallāhi la'akīdanna aṣnāmakum ba‘da an tuwallū mudbirīn(a).
(Nabi Ibrahim berkata dalam hatinya,) “Demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.”
Nabi Ibrahim tidak hanya berkata lugas kepada ayah dan kaumnya yang terus menerus menyembah patung-patung itu dengan menyatakan, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata,” tetapi juga bersumpah dalam hatinya bahwa beliau akan menghancurkan berhala itu, setelah mereka me-ninggalkan tempat itu. “Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya, tindakan yang membongkar kepalsuan, terhadap berhala-berhalamu dengan menghancurkannya guna menyadarkan mereka bahwa penyembahan patung-patung itu perbuatan keliru, setelah kamu pergi meninggalkannya.”
Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang diucapkan dan didengar oleh sebagian kaumnya yaitu ia bertekad untuk menghancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya, apabila mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Nukisū نُكِسُوْا (al-Anbiyā’/21: 65)
Lafal nukisū secara bahasa berarti membalik dari atas ke bawah, yakni menjadikan kepala di bawah dan kaki di atas. Kata tersebut digunakan juga untuk menggambarkan kelahiran anak yang kakinya lebih dahulu keluar sebelum kepalanya. Ayat menjelaskan bahwa mereka sebelumnya tegak dan garang dalam menghadapi Nabi Ibrahim, namun berbalik menjadi tunduk dan lesu, karena apa yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim adalah benar sesuai dengan kata hatinya.
















