وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
Wa mā arsalnā min qablika mir rasūlin illā nūḥī ilaihi annahū lā ilāha illā ana fa‘budūn(i).
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.
Tugas para rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah menyampaikan wahyu kepada umat. Dan Kami, tidak mengutus seorang rasul pun, baik yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur’an maupun yang tidak disebutkan, sebelum engkau, Muhammad, melainkan Kami wahyukan kepadanya ajaran tauhid yang menjadi ajaran dasar para nabi, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dengan mengikuti petunjuk-Ku.
Dalam ayat ini Allah menegaskan, bahwa setiap rasul yang diutus sebelum Muhammad saw adalah manusia yang telah diberi-Nya wahyu yang bertugas mengajarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Oleh sebab itu menjadi kewajiban bagi manusia untuk menyembah Allah semata-mata. Dan tidak ada satu dalil pun, baik dalil berdasarkan akal, atau pun dalil yang diambilkan dari kitab-kitab suci yang disampaikan oleh semua rasul-rasul Allah, yang membenarkan kepercayaan selain kepercayaan tauhid kepada Allah.
1. Burhānakum بُرْهَانَكُمْ (al-Anbiyā’/21:24)
Lafal burhān merupakan bentukan dari lafal baraha dengan menggunakan pola fu’lān yang berarti hujjah atau bukti, atau ia bentuk maṣdar dari kata baraha yabrahu yang berarti memutih, seperti ungkapan rajul abrah artinya lelaki yang putih. Barahratun artinya pemuda yang memiliki kulit yang sangat putih. Burhatun adalah waktu atau periode yang sangat singkat. Lafal burhān merupakan bukti yang paling kuat yang senantiasa menunjukkan kebenaran, karena dalil (bukti) terbagi menjadi lima bagian yaitu: dilalah yang pasti menunjukkan kebenaran, dilalah yang pasti menunjukan kebohongan, dilalah yang mendekati kebenaran, dilalah yang mendekati kebohongan, dan dilalah yang mendekati kepada keduanya. Qul hātū burhānakum yang dimaksud dalam ayat ini adalah tantangan dari Allah kepada mereka yang menjadikan tuhan-tuhan selain Allah. Artinya tunjukkanlah bukti atau hujjah yang bisa membuktikan bahwa tuhan-tuhan itu dapat menghidupkan yang mati, karena sekiranya di alam ini ada tuhan-tuhan selain Allah tentu langit dan bumi akan mengalami kerusakan.
2. Mu‘riḍūn مُعْرِضُوْنَ (al-Anbiyā’/21: 24)
Lafal mu‘riḍūn merupakan bentuk jamak dari lafal mu‘riḍ yang terambil dari kata ‘araḍa antonim dari lafal ṭūl (panjang) yang berarti lebar. Awalnya lafal ini digunakan pada jism kemudian dijadikan ungkapan kepada selain jism. ‘Araḍa memiliki makna yang banyak, diantaranya adalah mengemukakan, memamerkan atau mendemonstrasikan seperti firman Allah: “ṡumma ‘araḍahum ‘alal-malā’ikah” (kemudian Adam mengemukakan kepada para malaikat) (al-Baqarah/2:31). ‘Araḍa juga diartikan dengan barang-barang kenikmatan duniawi yang bersifat fana (al-Anfāl/8:67) ‘Araḍa juga diartikan dengan awan seperti yang disebutkan dalam al-Aḥqāf/46 : 24. al-‘Urḍah adalah penghalang (al-Baqarah/2: 224). Ba‘īr ‘urḍah berarti unta itu menjadi penghalang dalam perjalanan. A‘raḍa juga berarti berpaling, menghindar atau membuang. Arti inilah yang dimaksud dalam ayat di atas, yaitu bahwa orang-orang musyrik tidak akan menjawab terhadap tantangan yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad, sehingga mereka berpaling dari Allah.
3. Musyfiqūn مُشْفِقُوْنَ (al-Anbiyā’/21:28)
Musyf iqūn bentuk jamak dari lafal musyfiq yang terambil dari kata syafaqa yang berarti bercampurnya cahaya siang hari dengan gelapnya malam seiring dengan terbenamnya matahari. Allah bersumpah dalam Surah al-Insyiqāq/84:16, “Falā uqsimu bisy-syafaq” (Maka sesungguhnya Allah bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja). Dari lafal syafaqa lahir kata isyfāq yang berarti perasaan kasihan yang bercampur antara rasa takut dan simpati. Seorang musyfiq (yang merasa kasihan) menyayangi musyfaq ‘alaih (yang dikasihani) dan merasa takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya. Jika lafal asyfaqa diikuti oleh huruf min maka menunjukkan perasaan takut lebih dominan, sedangkan jika diikuti dengan huruf fi maka rasa kasihan lebih besar. Dalam ayat ini dijelaskan tuduhan orang-orang kafir bahwa para malaikat adalah anak-anak Allah sangatlah keliru dan salah, karena sesungguhnya para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia, yang selalu berhati-hati karena merasa takut dan senantiasa patuh serta tunduk kepada-Nya.






















