وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا سُبْحٰنَهٗ ۗبَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُوْنَ ۙ
Wa qāluttakhażar-raḥmānu waladan subḥānah(ū), bal ‘ibādum mukramūn(a).
Mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Maha Suci Dia. Sebaliknya, mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan.
Menanggapi ajaran tauhid itu, mereka, orang-orang musyrik Mekah berkata tanpa argumentasi yang masuk akal, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan para malaikat sebagai anak tuhan.” Allah pun membantah pandangan sesat itu dengan menyatakan, bahwa Mahasuci Dia dari segala sifat yang dinisbahkan kepada Allah. Sebenarnya mereka, para malaikat itu, adalah hamba-hamba yang dimuliakan, senantiasa bertasbih, memuji Allah, mematuhi perintah-Nya, tanpa pernah membantah sedikit pun.
Dalam ayat ini Allah menyebutkan tuduhan kaum musyrik yang mengatakan bahwa para malaikat adalah anak-anak Allah. Kemudian Allah membantah tuduhan itu dengan menegaskan bahwa Dia Mahasuci dari tuduhan itu, dan para malaikat itu adalah hamba-hamba-Nya yang diberi kemuliaan.
Mempunyai anak adalah salah satu gejala alam atau makhluk yang bersifat “baru” sedang Allah adalah bersifat “Qidam” (dahulu). Dan juga merupakan gejala adanya hajat terhadap kehidupan berkeluarga dan berke-turunan, yang juga merupakan salah satu sifat yang ada pada makhluk, sedang Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.
Di samping itu, anak tentu mempunyai persamaan dengan ayahnya dalam satu segi, dan mempunyai perbedaan dalam segi lain. Sebab itu, jika benar malaikat adalah anak Allah, maka ia juga ikut disembah, padahal Allah telah menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah dan para malaikat itu selalu menyembah atau beribadat kepada Allah.
Ringkasnya, malaikat bukanlah anak Allah, melainkan hamba-hamba-Nya, hanya saja mereka itu merupakan hamba-hamba Allah yang di-beri kemuliaan dan tempat yang dekat kepada Allah serta diberi kelebihan atas semua makhluk, karena ketaatan mereka dalam beribadah kepada-Nya melebihi makhluk-makhluk yang lain. Tetapi manusia yang beriman, taat dan saleh lebih mulia daripada malaikat.
1. Burhānakum بُرْهَانَكُمْ (al-Anbiyā’/21:24)
Lafal burhān merupakan bentukan dari lafal baraha dengan menggunakan pola fu’lān yang berarti hujjah atau bukti, atau ia bentuk maṣdar dari kata baraha yabrahu yang berarti memutih, seperti ungkapan rajul abrah artinya lelaki yang putih. Barahratun artinya pemuda yang memiliki kulit yang sangat putih. Burhatun adalah waktu atau periode yang sangat singkat. Lafal burhān merupakan bukti yang paling kuat yang senantiasa menunjukkan kebenaran, karena dalil (bukti) terbagi menjadi lima bagian yaitu: dilalah yang pasti menunjukkan kebenaran, dilalah yang pasti menunjukan kebohongan, dilalah yang mendekati kebenaran, dilalah yang mendekati kebohongan, dan dilalah yang mendekati kepada keduanya. Qul hātū burhānakum yang dimaksud dalam ayat ini adalah tantangan dari Allah kepada mereka yang menjadikan tuhan-tuhan selain Allah. Artinya tunjukkanlah bukti atau hujjah yang bisa membuktikan bahwa tuhan-tuhan itu dapat menghidupkan yang mati, karena sekiranya di alam ini ada tuhan-tuhan selain Allah tentu langit dan bumi akan mengalami kerusakan.
2. Mu‘riḍūn مُعْرِضُوْنَ (al-Anbiyā’/21: 24)
Lafal mu‘riḍūn merupakan bentuk jamak dari lafal mu‘riḍ yang terambil dari kata ‘araḍa antonim dari lafal ṭūl (panjang) yang berarti lebar. Awalnya lafal ini digunakan pada jism kemudian dijadikan ungkapan kepada selain jism. ‘Araḍa memiliki makna yang banyak, diantaranya adalah mengemukakan, memamerkan atau mendemonstrasikan seperti firman Allah: “ṡumma ‘araḍahum ‘alal-malā’ikah” (kemudian Adam mengemukakan kepada para malaikat) (al-Baqarah/2:31). ‘Araḍa juga diartikan dengan barang-barang kenikmatan duniawi yang bersifat fana (al-Anfāl/8:67) ‘Araḍa juga diartikan dengan awan seperti yang disebutkan dalam al-Aḥqāf/46 : 24. al-‘Urḍah adalah penghalang (al-Baqarah/2: 224). Ba‘īr ‘urḍah berarti unta itu menjadi penghalang dalam perjalanan. A‘raḍa juga berarti berpaling, menghindar atau membuang. Arti inilah yang dimaksud dalam ayat di atas, yaitu bahwa orang-orang musyrik tidak akan menjawab terhadap tantangan yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad, sehingga mereka berpaling dari Allah.
3. Musyfiqūn مُشْفِقُوْنَ (al-Anbiyā’/21:28)
Musyf iqūn bentuk jamak dari lafal musyfiq yang terambil dari kata syafaqa yang berarti bercampurnya cahaya siang hari dengan gelapnya malam seiring dengan terbenamnya matahari. Allah bersumpah dalam Surah al-Insyiqāq/84:16, “Falā uqsimu bisy-syafaq” (Maka sesungguhnya Allah bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja). Dari lafal syafaqa lahir kata isyfāq yang berarti perasaan kasihan yang bercampur antara rasa takut dan simpati. Seorang musyfiq (yang merasa kasihan) menyayangi musyfaq ‘alaih (yang dikasihani) dan merasa takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya. Jika lafal asyfaqa diikuti oleh huruf min maka menunjukkan perasaan takut lebih dominan, sedangkan jika diikuti dengan huruf fi maka rasa kasihan lebih besar. Dalam ayat ini dijelaskan tuduhan orang-orang kafir bahwa para malaikat adalah anak-anak Allah sangatlah keliru dan salah, karena sesungguhnya para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia, yang selalu berhati-hati karena merasa takut dan senantiasa patuh serta tunduk kepada-Nya.





















