وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِيْنَ سَخِرُوْا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ࣖ
Wa laqadistuhzi'a birusulim min qablika fa ḥāqa bil-lażīna sakhirū minhum mā kānū bihī yastahzi'ūn(a).
Sungguh, rasul-rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) telah diperolok-olokkan, lalu (karena itu) turunlah kepada orang-orang yang mencemooh mereka (rasul-rasul) apa (azab) yang selalu mereka perolok-olokkan.
Sikap orang-orang kafir terhadap para rasul itu sama, baik umat Nabi Muhammad maupun umat terdahulu. Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau, Muhammad, pun telah diperolok-olokkan oleh mereka, karena kebodohan dan keingkaran mereka. Maka, turunlah hukuman Allah kepada orang-orang yang mencemoohkan para rasul itu dengan jenis azab di dunia yang selalu mereka perolok-olokkan sehingga mereka binasa.
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa azab akhirat yang diancamkan kepada kaum kafir itu pasti akan terjadi, bahkan akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan tak terduga, sehingga menyebabkan mereka menjadi panik tidak sanggup menyelamatkan diri. Dan mereka benar-benar tidak akan diberi tenggang waktu dan kesempatan untuk bersiap-siap guna menyelamatkan diri daripadanya.
Pada akhir ayat ini Allah memberikan hiburan kepada Nabi Muhammad yang selalu mendapat ejekan dari kaum kafir, Allah menegaskan bukan dia saja yang pernah diejek oleh kaum kafir itu. Bahkan semua rasul yang diutus Allah sebelumnya juga menjadi sasaran ejekan kaumnya. Akan tetapi azab yang dahulu mereka perolok-olokkan itu akhirnya datang melanda mereka. Dan tidak seorang pun dapat menyelamatkan mereka dari azab yang dahsyat.
‘Ajal عَجَلْ(al-Anbiyā’/2 1:37)
‘Ajal terbentuk dari kata ‘ajala yang berarti meminta sesuatu dan mengambilnya sebelum tiba waktunya atau tergesa-gesa dan terburu-buru. Karena sifat ini melibatkan emosi yang tidak baik, maka penggunaannya dalam Al-Qur’an hampir semuanya bersifat negatif (Ṭāhā/20: 83, 84, 114). Untuk itu, muncul ungkapan peribahasa “al-’ajalah min asy-syaiṭān” (Ketergesa-gesaan adalah bagian dari perbuatan setan). Tetapi ada ‘ajal yang bersifat positif dan dianjurkan yaitu bersegera dalam meminta rida Allah. ‘Ajal merupakan tabiat dasar manusia (al-Isrā/17: 11). Al-’ijl diartikan dengan anak sapi betina, juga diartikan dengan roda kemudi untuk mempercepat laju kemudi. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan tabiat ‘ajal (tergesa-gesa). Dalam ayat yang lain dijelaskan, al-Isrā’/17: 11 “Wakāna al-insān ‘ajūlā”. Bahwa sifat manusia adalah senantiasa terburu-buru.




















