قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ اَمْ اَنْتَ مِنَ اللّٰعِبِيْنَ
Qālū aji'tanā bil-ḥaqqi am anta minal-lā‘ibīn(a).
Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau (hanya) bermain-main?”
Dialog Ibrahim dengan kaumnya bertambah panas. Mereka pun berkata dengan mengajukan pertanyaan mendasar, “Wahai Ibrahim, Apakah engkau benar-benar datang kepada kami membawa kebenaran tentang Tuhan dan ajaran kemanusiaan atau engkau hanya main-main saja?”
Dalam ayat ini disebutkan jawaban Azar dan kaumnya kepada Ibrahim yaitu, apakah Ibrahim datang kepada mereka dengan membawa kebenaran, ataukah hanya ingin berolok-olok saja.
Dari ucapan mereka dapat disimpulkan beberapa pertanyaan seputar sikap mereka. Pertama, bahwa mereka setelah mendengarkan ucapan Ibrahim yang bersifat merendahkan martabat tuhan-tuhan mereka, dan menyatakan sesatnya perbuatan mereka, maka hati mereka mulai tergugah, karena ucapan semacam itu belum pernah terdengar di kalangan mereka. Kedua, karena melihat sikap Ibrahim yang bersungguh-sungguh dan keras dalam ucapannya, maka hati mereka mulai ragu terhadap kebenaran dan perbuatan mereka sendiri sebagai penyembah patung. Ketiga, mereka meminta kepada Ibrahim agar memberikan bukti-bukti dan alasan-alasan yang menunjukkan kebenaran ucapan Ibrahim kepada mereka. Keempat, jika Ibrahim tidak dapat memberikan bukti-bukti tersebut, maka mereka menganggap Ibrahim hanya memperolok-olok mereka.
Rusydahū رُشْدَهُ (al-Anbiyā’/21:51)
Lafal rusyd berasal dari kata rasyada yarsyudu yang berarti mencapai kedewasaan. Makna dasarnya adalah ketepatan dan kelurusan jalan. Ar-Rusydu adalah antonim dari lafal al-gay (bodoh atau pandir). Rusyd juga digunakan untuk petunjuk atau hidayah (al-Baqarah/2:256). Rusyd bagi manusia adalah kesempurnaan akal dan jiwa. Dalam an-Nisa/4:36, disebutkan jika anak yatim telah mencapai rusyd, diartikan dengan telah mencapai kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Sebagian ulama mengartikan dengan kekuatan dan keteguhan. Dari sini lahir kata rasyādah yang berarti batu karang. Lafal ar-rasyad merupakan bentuk khusus dari lafal rusyd. Jika rusyd digunakan untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan akhirat, maka lafal rasyād lebih khusus pada akhirat (al-Kahf/18:24). Sifat rusyd yang dimiliki manusia, semuanya melalui bantuan Allah dan bimbingan-Nya. Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan Ibrahim a.s., petunjuk-Nya. Rusyd dalam hal ini tentu berbeda dengan rusyd anak yatim, bahwa Nabi Ibrahim a.s., telah mendapatkan hidayah kebenaran Ilahi sebelum Nabi Musa dan Harun. Nabi Musa pernah memohon melalui hamba Allah yang dianugerahi rusydā, namun Musa gagal dalam ujian yang diikutinya. (al-Kahfi/18:66). Nabi Muhammad saw dituntun untuk berdoa agar Allah memberikan petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya (rasyad) dari ini (al-Kahf/18:24).
























