قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Qāla laqad kuntum antum wa ābā'ukum fī ḍalālim mubīn(in).
Dia (Ibrahim) berkata, “Sungguh, kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.”
Dia, Ibrahim, menyadarkan mereka dengan berkata secara tegas dan lugas, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu yang terus-menerus mengukir dan menyembah patung-patung itu, berada dalam kesesatan yang nyata, karena penyembahan itu tidak masuk akal dan merendahkan martabat manusia.”
Ayat ini menerangkan bahwa Ibrahim membalas jawaban mereka itu dengan menunjukkan keburukan perbuatan nenek moyang mereka yang menyembah selain Allah. Ibrahim mengatakan kepada ayahnya dan juga kaumnya, bahwa mereka semuanya berada dalam kesesatan, karena mereka menyembah patung dan berhala. Dengan perbuatan itu mereka telah jauh dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang benar. Mereka tidak berpegang kepada agama yang benar dan akal sehat. Yang menjadi pegangan mereka hanyalah keinginan hawa nafsu dan bisikan iblis.
Rusydahū رُشْدَهُ (al-Anbiyā’/21:51)
Lafal rusyd berasal dari kata rasyada yarsyudu yang berarti mencapai kedewasaan. Makna dasarnya adalah ketepatan dan kelurusan jalan. Ar-Rusydu adalah antonim dari lafal al-gay (bodoh atau pandir). Rusyd juga digunakan untuk petunjuk atau hidayah (al-Baqarah/2:256). Rusyd bagi manusia adalah kesempurnaan akal dan jiwa. Dalam an-Nisa/4:36, disebutkan jika anak yatim telah mencapai rusyd, diartikan dengan telah mencapai kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Sebagian ulama mengartikan dengan kekuatan dan keteguhan. Dari sini lahir kata rasyādah yang berarti batu karang. Lafal ar-rasyad merupakan bentuk khusus dari lafal rusyd. Jika rusyd digunakan untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan akhirat, maka lafal rasyād lebih khusus pada akhirat (al-Kahf/18:24). Sifat rusyd yang dimiliki manusia, semuanya melalui bantuan Allah dan bimbingan-Nya. Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan Ibrahim a.s., petunjuk-Nya. Rusyd dalam hal ini tentu berbeda dengan rusyd anak yatim, bahwa Nabi Ibrahim a.s., telah mendapatkan hidayah kebenaran Ilahi sebelum Nabi Musa dan Harun. Nabi Musa pernah memohon melalui hamba Allah yang dianugerahi rusydā, namun Musa gagal dalam ujian yang diikutinya. (al-Kahfi/18:66). Nabi Muhammad saw dituntun untuk berdoa agar Allah memberikan petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya (rasyad) dari ini (al-Kahf/18:24).






















