Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 53 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 53 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 326 •  Quarter Hizb 33.5 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

قَالُوْا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا لَهَا عٰبِدِيْنَ

Qālū wajadnā ābā'anā lahā ‘ābidīn(a).

Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menjadi para penyembahnya”

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 53
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mereka menjawab pertanyaan pemuda Ibrahim yang logis dan masuk akal itu dengan jawaban pembelaan terhadap tradisi yang sudah mengakar, “Kami mendapati nenek moyang kami, dari generasi ke gene-rasi memproduksi dan menyembahnya.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Azar dan kaumnya menjawab pertanyaan Ibrahim dengan pernyataan bahwa mereka menyembah patung hanyalah sekedar mengikuti perbuatan nenek moyang mereka. Jawaban tersebut menunjukkan berbagai kelemahan. Pertama, mereka tidak dapat menjawab pertanyaan Ibrahim dengan menggunakan alasan-alasan yang masuk akal, yang didasarkan atas kebenaran. Kedua, mereka dalam hidup beragama hanya didasarkan rasa ta‘aṣṣub (fanatik) kepada tradisi nenek moyang, bukan berdasarkan keyakinan dan pemikiran yang sehat. Ketiga, mereka menutup diri terhadap hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mereka, walaupun nyata kebenarannya. Seolah-olah telinga mereka telah tersumbat, dan hati mereka telah tertutup rapat.

Sikap ta‘aṣṣub (fanatik) dan taklid buta adalah ciri khas orang-orang yang tidak mampu mempertahankan prinsip mereka dengan bukti yang benar dan hujjah yang kuat, karena memang prinsip yang mereka anut itu tidak benar. Mereka menganutnya hanya sekedar menjaga tradisi yang mereka pusakai dari nenek moyang. Sikap tersebut sangat menghambat kemajuan manusia, dan menjerumuskan mereka kepada keingkaran terhadap kebenaran, bahkan membawa kepada kekufuran terhadap Allah.

Dalam kalangan kaum Muslimin kita dapati orang-orang yang taklid buta terhadap satu mazhab, atau terhadap seorang imam, sehingga mereka tak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain. Sikap semacam itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, yang selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam mencari kebenaran.

Para imam dari berbagai mazhab fiqh Islam melarang para pengikutnya untuk bertaklid buta kepadanya, dan menganjurkan agar mereka terbuka menerima pendapat orang lain, bila ternyata pendapat itu lebih benar dari pendapat yang dianutnya.

Isi Kandungan Kosakata

Rusydahū رُشْدَهُ (al-Anbiyā’/21:51)

Lafal rusyd berasal dari kata rasyada yarsyudu yang berarti mencapai kedewasaan. Makna dasarnya adalah ketepatan dan kelurusan jalan. Ar-Rusydu adalah antonim dari lafal al-gay (bodoh atau pandir). Rusyd juga digunakan untuk petunjuk atau hidayah (al-Baqarah/2:256). Rusyd bagi manusia adalah kesempurnaan akal dan jiwa. Dalam an-Nisa/4:36, disebutkan jika anak yatim telah mencapai rusyd, diartikan dengan telah mencapai kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Sebagian ulama mengartikan dengan kekuatan dan keteguhan. Dari sini lahir kata rasyādah yang berarti batu karang. Lafal ar-rasyad merupakan bentuk khusus dari lafal rusyd. Jika rusyd digunakan untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan akhirat, maka lafal rasyād lebih khusus pada akhirat (al-Kahf/18:24). Sifat rusyd yang dimiliki manusia, semuanya melalui bantuan Allah dan bimbingan-Nya. Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan Ibrahim a.s., petunjuk-Nya. Rusyd dalam hal ini tentu berbeda dengan rusyd anak yatim, bahwa Nabi Ibrahim a.s., telah mendapatkan hidayah kebenaran Ilahi sebelum Nabi Musa dan Harun. Nabi Musa pernah memohon melalui hamba Allah yang dianugerahi rusydā, namun Musa gagal dalam ujian yang diikutinya. (al-Kahfi/18:66). Nabi Muhammad saw dituntun untuk berdoa agar Allah memberikan petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya (rasyad) dari ini (al-Kahf/18:24).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto