Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 5 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 5 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 322 •  Quarter Hizb 33 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌۚ فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ

Bal qālū aḍgāṡu aḥlāmim baliftarāhu bal huwa syā‘ir(un), falya'tinā bi'āyatin kamā ursilal-awwalūn(a).

Bahkan, mereka berkata, “(Al-Qur’an itu buah) mimpi-mimpi kosong. Malah, dia (Nabi Muhammad) merekayasanya. Lebih dari itu, dia seorang penyair. Maka, hendaklah dia mendatangkan kepada kami suatu tanda (mukjizat) sebagaimana rasul-rasul yang diutus terdahulu.”

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 5
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Bahkan, mereka orang-orang kafir itu, menolak kebenaran Al-Qur’an, dengan berkata, “Al-Qur’an itu buah mimpi-mimpi Muhammad yang kacau, atau hasil rekayasanya, atau bahkan dia bukan nabi dan rasul, melainkan hanya seorang penyair yang pandai menggubah puisi yang kacau. Jika dia ingin kita membenarkannya, cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda, bukti fisik yang meyakinkan, seperti halnya mukjizat rasul-rasul yang diutus terdahulu seperti unta betina Nabi Saleh atau mukjizat Nabi Musa dan Isa."

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa kejahatan kaum musyrikin itu tidak hanya sekedar mengatakan bahwa Muhammad bukan Rasul dan Al-Qur’an itu adalah sihir, tetapi mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah merupakan mimpi-mimpi yang kacau. Bahkan yang lain berkata bahwa Al-Qur’an hanyalah sesuatu yang diada-adakan oleh Muhammad sendiri. Bahkan di antara mereka ada pula yang mengatakan, bahwa Muhammad adalah seorang penyair. Mereka juga menuntut Muhammad saw untuk mendatangkan mukjizat selain Al-Qur’an, seperti yang diperlihatkan oleh rasul-rasul yang terdahulu. Padahal Al-Qur’an itulah mukjizat terbesar Nabi Muhammad.

Dengan demikian mereka tidak mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah kepada Muhammad saw. Dan mereka tidak mengakui bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang dikaruniakan Allah kepadanya sebagai bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya.

Barangsiapa yang berhati jujur serta mempunyai pengetahuan tentang bahasa Arab dan sastranya yang tinggi, niscaya akan mengakui bahwa bahasa dan isi ayat-ayat Al-Qur’an sangat menakjubkan. Akan tetapi, kaum musyrikin telah memutarbalikkan kenyataan ini.

Isi Kandungan Kosakata

1. Muḥdaṡ مُحْدَثْ (al-Anbiyā’/21: 2)

Kata ini berasal dari akar kata ḥadaṡa artinya “terwujudnya sesuatu dari tiada”. Aḥdaṡa adalah bentuk transitif dari kata dasar itu, artinya adalah “mewujudkan”. Dari kata dasar itu dibentuk kata benda subyek muḥdiṡ “pewujud,” “pencipta.” Dan muḥdaṡ adalah bentuk kata benda obyeknya, “yang terwujud” “yang tercipta”. Dari akar kata itu dibentuk kata ḥadiṡ yaitu segala yang diungkapkan sehingga terdengar, karena hal itu juga mengandung arti mencipta. Dalam al-Anbiyā’/21: 2 Allah menyampaikan bahwa apa saja peringatan, yaitu ayat Al-Qur’an, yang muḥdaṡ, yaitu yang diwujudkan atau diungkapkan kepada orang-orang kafir itu, mereka mendengarnya, tetapi mereka mengabaikannya.

2. Aḍgāṡu Aḥlām أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ (al-Anbiyā’/21: 5)

Aḍgāṡ adalah bentuk jamak digṡ yang artinya “seikat kembang, lidi, atau ranting”, misalnya firman-Nya, “Ambillah seikat lidi,” Ṣād/38:44, perintah Allah kepada Nabi Ayub agar melecut istrinya yang mengabaikannya ketika ia ditimpa sakit parah, sebagai hukuman bagi isterinya itu. Dan aḥlām adalah jamak ḥilm atau ḥulm yaitu “penglihatan pada ketika tidur” yakni “mimpi”. Dengan demikian aḍgāṡ aḥlām (al-Anbiyā’/21:5) berarti mimpi yang campur aduk, semrawut, sulit ditakwilkan, seperti campur aduknya lidi, ranting, atau bunga dalam satu ikatan. Itu adalah penilaian orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an, di samping tuduhan mereka: sihir, dibikin-bikin, atau syair. ḥilm dalam Al-Qur’an berarti pula “mengendalikan diri dari marah” yang berarti bahwa orang itu sudah menunjukkan kedewasaannya atau kematangan pikirannya, sehingga kata ḥilm kadang-kadang diartikan dengan “pikiran”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, “Apakah kedewasaan mereka menyuruh mereka (menyampaikan tuduhan) ini (yaitu menuduh Nabi Muhammad dukun, gila, atau penyair), ataukah mereka orang-orang yang melewati batas?,” (aṭ-Ṭūr/52:32), pertanyaan Allah yang ditujukan kepada orang kafir Mekah. Dan ḥulm adalah usia akil baligh, misalnya ayat, “Bila anak-anak sudah sampai ḥulm (kematangannya/akil baligh), maka mereka harus minta izin (bila masuk kamar orang tuanya) (an-Nūr/24:59).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto