Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 6 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 6 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 322 •  Quarter Hizb 33 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

مَآ اٰمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَاۚ اَفَهُمْ يُؤْمِنُوْنَ

Mā āmanat qablahum min qaryatin ahlaknāhā, afahum yu'minūn(a).

Tidak ada satu pun (penduduk) negeri sebelum mereka yang telah Kami binasakan itu beriman, (padahal telah Kami kirimkan bukti). Apakah mereka (penduduk Makkah) akan beriman (jika Kami kirimkan bukti)?

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 6
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Penduduk suatu negeri, seperti kaum ‘Ad dan Samud, sebelum mereka, yakni orang-orang kafir Mekah, yang telah Kami binasakan, meminta mukjizat fisik kepada para nabi. Mereka itu tetap tidak beriman, padahal telah Kami kirimkan bukti itu kepada mereka. Apakah mereka, kafir Mekah, akan beriman jika mukjizat fisik yang diminta itu dipenuhi?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menegaskan bahwa andaikata tuntutan mereka dikabulkan, mereka tetap tidak akan beriman. Kenyataan ini telah terjadi pada kaum musyrikin pada masa-masa sebelumnya. Mereka juga tidak beriman kendati pun tuntutan mereka dikabulkan. Itulah sebabnya Allah telah membinasakan mereka. Lalu apa alasannya untuk mengabulkan tuntutan kaum musyrikin yang ada sekarang. Allah telah mengetahui bahwa mereka juga tidak akan beriman. Dan sunnatullah tidak akan berubah, siapa yang zalim, pasti akan binasa. Maka kaum musyrikin Quraisy yang tidak beriman kepada Muhammad, dan yang berlaku zalim, juga pasti akan binasa.

Isi Kandungan Kosakata

1. Muḥdaṡ مُحْدَثْ (al-Anbiyā’/21: 2)

Kata ini berasal dari akar kata ḥadaṡa artinya “terwujudnya sesuatu dari tiada”. Aḥdaṡa adalah bentuk transitif dari kata dasar itu, artinya adalah “mewujudkan”. Dari kata dasar itu dibentuk kata benda subyek muḥdiṡ “pewujud,” “pencipta.” Dan muḥdaṡ adalah bentuk kata benda obyeknya, “yang terwujud” “yang tercipta”. Dari akar kata itu dibentuk kata ḥadiṡ yaitu segala yang diungkapkan sehingga terdengar, karena hal itu juga mengandung arti mencipta. Dalam al-Anbiyā’/21: 2 Allah menyampaikan bahwa apa saja peringatan, yaitu ayat Al-Qur’an, yang muḥdaṡ, yaitu yang diwujudkan atau diungkapkan kepada orang-orang kafir itu, mereka mendengarnya, tetapi mereka mengabaikannya.

2. Aḍgāṡu Aḥlām أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ (al-Anbiyā’/21: 5)

Aḍgāṡ adalah bentuk jamak digṡ yang artinya “seikat kembang, lidi, atau ranting”, misalnya firman-Nya, “Ambillah seikat lidi,” Ṣād/38:44, perintah Allah kepada Nabi Ayub agar melecut istrinya yang mengabaikannya ketika ia ditimpa sakit parah, sebagai hukuman bagi isterinya itu. Dan aḥlām adalah jamak ḥilm atau ḥulm yaitu “penglihatan pada ketika tidur” yakni “mimpi”. Dengan demikian aḍgāṡ aḥlām (al-Anbiyā’/21:5) berarti mimpi yang campur aduk, semrawut, sulit ditakwilkan, seperti campur aduknya lidi, ranting, atau bunga dalam satu ikatan. Itu adalah penilaian orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an, di samping tuduhan mereka: sihir, dibikin-bikin, atau syair. ḥilm dalam Al-Qur’an berarti pula “mengendalikan diri dari marah” yang berarti bahwa orang itu sudah menunjukkan kedewasaannya atau kematangan pikirannya, sehingga kata ḥilm kadang-kadang diartikan dengan “pikiran”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, “Apakah kedewasaan mereka menyuruh mereka (menyampaikan tuduhan) ini (yaitu menuduh Nabi Muhammad dukun, gila, atau penyair), ataukah mereka orang-orang yang melewati batas?,” (aṭ-Ṭūr/52:32), pertanyaan Allah yang ditujukan kepada orang kafir Mekah. Dan ḥulm adalah usia akil baligh, misalnya ayat, “Bila anak-anak sudah sampai ḥulm (kematangannya/akil baligh), maka mereka harus minta izin (bila masuk kamar orang tuanya) (an-Nūr/24:59).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto