وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn(a).
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad membawa agama Islam bukan untuk membinasakan orang-orang kafir, melainkan untuk menciptakan perdamaian. Dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Perlindungan, kedamaian, dan kasih sayang yang lahir dari ajaran dan pengamalan Islam yang baik dan benar.
Tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad yang membawa agama-Nya itu, tidak lain adalah memberi petunjuk dan peringatan agar mereka bahagia di dunia dan di akhirat. Rahmat Allah bagi seluruh alam meliputi perlindungan, kedamaian, kasih sayang dan sebagainya, yang diberikan Allah terhadap makhluk-Nya. Baik yang beriman maupun yang tidak beriman, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Jika dilihat sejarah manusia dan kemanusiaan, maka agama Islam adalah agama yang berusaha sekuat tenaga menghapuskan perbudakan dan penindasan oleh manusia terhadap manusia yang lain. Seandainya pintu perbudakan masih terbuka, itu hanyalah sekedar untuk mengimbangi perbuatan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Sedangkan jalan-jalan untuk menghapuskan perbudakan disediakan, baik dengan cara memberi imbalan yang besar bagi orang yang memerdekakan budak maupun dengan mengaitkan kafarat/hukuman dengan pembebasan budak. Perbaikanperbaikan tentang kedudukan perempuan yang waktu itu hampir sama dengan binatang, dan pengakuan terhadap kedudukan anak yatim, perhatian terhadap fakir dan miskin, perintah melakukan jihad untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan, semuanya diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadis. Dengan demikian seluruh umat manusia memperoleh rahmat, baik yang langsung atau tidak langsung dari agama yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi kebanyakan manusia masih mengingkari padahal rahmat yang mereka peroleh adalah rahmat dan nikmat Allah.
aṣ-Ṣāliḥūna اَلصَّالِحُوْن َ (al-Anbiyā’/21: 105)
Aṣ-Ṣāliḥūn secara bahasa adalah bentuk isim fā’il jamak dari aṣ-Ṣāliḥ dari kata kerja ṣaluḥa-yaṣluḥu-ṣal āḥan, artinya baik, tidak rusak, tidak binasa, saleh, patut dan bermanfaat. Jadi makna aṣ-ṣāliḥu adalah orang-orang yang baik, tidak berbuat kerusakan dan tidak berbuat kebinasaan, orang-orang salih, orang-orang yang patut, orang-orang yang bermanfaat (berguna).
Kata aṣ-ṣāliḥūn dalam ayat ini dipahami dalam arti hamba-hamba Allah yang siap membangun dan menyediakan keperluan hidup yang layak. Jika di pahami demikian, maka ayat ini menjanjikan kepemilikan penguasaan bumi dan kemanfaatannya kepada hamba-hamba Allah. Ini berarti bahwa satu ketika bumi akan dikuasai oleh masyarakat agamis, yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan mewujudkan kesejahteraan serta menegakkan keadilan.











































