لَا يَسْمَعُوْنَ حَسِيْسَهَاۚ وَهُمْ فِيْ مَا اشْتَهَتْ اَنْفُسُهُمْ خٰلِدُوْنَ ۚ
Lā yasma‘ūna ḥasīsahā, wa hum fīmasytahat anfusuhum khālidūn(a).
Mereka tidak mendengar bunyi desis (api neraka) dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka inginkan.
Berbeda dengan penghuni neraka yang tidak mendengar sedikit pun suara lembut yang membawa ketenangan dan kedamaian; para penghuni surga berada dalam kenikmatan. Mereka tidak mendengar bunyi desis api neraka yang menakutkan, dan mereka pun kekal dalam menikmati semua yang mereka ingini.
Allah menerangkan keadaan penduduk surga, yaitu:
1. Mereka tidak mendengar suara api neraka yang ditimbulkan oleh gejolak apinya dan bunyi menghanguskan barang-barang yang sedang dibakar.
2. Mereka berada dalam kesenangan dan kegembiraan yang tidak putus-putusnya, menikmati segala yang mereka inginkan, mendengar segala yang menyenangkan hati dan melihat apa yang disenangi mata mereka.
3. Mereka tidak dirisaukan oleh bunyi sangkakala yang terakhir, yaitu bunyi sangkakala yang menandakan kebangkitan manusia dari kubur untuk dihisab, Allah berfirman:
وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ ٦٨
Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39: 68)
4. Mereka disambut para malaikat dengan menyampaikan kabar gembira atas kemenangan mereka. Seakan-akan malaikat menyampaikan kepada mereka, “Inilah hari yang pernah dijanjikan Allah kepadamu hai orang-orang yang beriman sewaktu di dunia dahulu, pada saat ini Allah melimpahkan pahala yang besar dan kesenangan yang abadi sebagai balasan atas keimanan, ketaatan, dan kesucian dirimu dari perbuatan dosa dengan mengerjakan amal-amal saleh dan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.”
1. ḥaṣabu Jahannam حَصَبُ جَهَنَّمَ (al-Anbiyā’/21: 98)
Istilah ḥaṣabu jahannam terdiri dari dua kata, yaitu ḥaṣab dan jahannam. Yang pertama (ḥaṣab) berasal dari kata kerja ḥaṣaba-yaḥṣibu/yaḥ ṣubu, yang artinya melempar dengan kerikil. ḥaṣab sendiri artinya adalah sesuatu yang dilempar ke dalam api sebagai bahan bakarnya, seperti kayu dan lainnya. Dalam ayat ini ḥaṣab diartikan sebagai apa yang dilempar ke dalam api untuk bahan bakar agar gejolak apinya bertambah. Yang kedua (jahannam) adalah tempat penyiksaan yang terdapat di akhirat, atau yang biasa disebut neraka. Dengan demikian, ḥaṣabu jahannam maksudnya adalah bahan bakar neraka yang menjadi tempat penyiksaan di akhirat bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa orang yang beribadah kepada selain Allah dan yang disembah akan mendapat balasan yang pedih, yaitu dijadikan sebagai bahan bakar neraka jahannam. Dijadikannya sesembahan kaum musyrikin sebagai bahan bakar neraka merupakan siksaan tersendiri bagi para penyembah itu, karena mereka menyaksikan sendiri apa yang sepenuhnya bertentangan dengan kepercayaan mereka.
2. Khālidūn خَالِدُوْنَ(al-An biyā’/21: 99)
Khālidūn merupakan bentuk jamak mużakar salim dari khālid yang merupakan bentuk ism fā’il dari kata kerja khalada-yakhludu yang maknanya kekal atau abadi. Dengan demikian khālidūn berarti mereka menjadi kekal. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya yang kekal itu hanya Allah. Sedangkan mahluk pada dasarnya tidak kekal, hanya saja mereka dikekalkan Allah dengan tujuan agar mereka dapat merasakan balasan dari perbuatan yang telah dilakukan. Karenanya, Allah itu kekal dengan sendiri-Nya (bi nafsihi), sedang mahluk kekal karena dikekalkan Allah (bi gairihi).
3. Zafīr زَفِيْر (al-Anbiyā’/21: 100)
Zafīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja zafara-yazfiru, yang artinya suara gejolak, suara tarikan nafas panjang, suara lenguhan keledai yang pertama. Dalam ayat ini, zafīr diartikan sebagai suara rintihan nafas dari seseorang yang disertai rasa sakit yang kadang-kadang terdengar seperti orang yang tercekik karena nafas yang sesak. Dalam ayat ini, zafīr dimaksudkan untuk menggambarkan rintihan orang musyrik ketika menarik nafas pada saat disiksa akibat perilaku syirik, yaitu menyembah kepada selain Allah.
















































