اِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنٰىٓۙ اُولٰۤىِٕكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ ۙ
Innal-lażīna sabaqat lahum minnal-ḥusnā, ulā'ika ‘anhā mub‘adūn(a).
Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik untuk mereka dari Kami, mereka akan dijauhkan (dari neraka).
Sungguh, merupakan ketetapan Kami yang mutlak, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami, yang terpadu dengan pilihan, sikap, dan perbuatan mereka yang baik pula, mereka itu dengan seizin-Nya akan dijauhkan dari neraka.
Pada ayat ini diterangkan keadaan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta orang-orang yang telah diberi Allah taufik untuk taat kepada-Nya, bahwa mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka bahkan mereka sedikit pun tidak didekatkan kepadanya.
Diriwayatkan oleh al-ḥākim dari Ibnu Abbas, bahwa waktu ayat 98 diturunkan, orang-orang musyrik Quraisy merasa terpukul karenanya. Mereka berkata, “Muhammad telah memaki-maki tuhan-tuhan kita. Lalu mereka pergi kepada Ibnu az-Ziba’ra dan menceritakan tentang ayat yang diturunkan itu, dia menjawab, “Kalau saya berhadapan dengan Muhammad tentulah saya dapat membantahnya.” Orang-orang musyrik Quraisy itu berkata, “Apakah yang kamu katakan.” Dia menjawab, “Aku mengatakan kepadanya, “Al- Māsih disembah orang-orang Nasrani, ‘Uzair disembah orang Yahudi, apakah Al-Māsih dan ‘Uzair itu akan menjadi bahan bakar api neraka? Orang-orang Quraisy tertarik hatinya mendengar ucapan Ibnu az-Ziba’ra dan merasa telah dapat mengalahkan Muhammad. Maka turunlah ayat 99 sampai 101 Surah ini, yang menegaskan ayat 98 di atas.
Dengan turunnya ayat-ayat ini Ibnu az-Ziba’ra bungkam dan bimbanglah kembali hati orang-orang musyrik. Tetapi karena kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, maka mereka tetap dalam kemusyrikan mereka.
1. ḥaṣabu Jahannam حَصَبُ جَهَنَّمَ (al-Anbiyā’/21: 98)
Istilah ḥaṣabu jahannam terdiri dari dua kata, yaitu ḥaṣab dan jahannam. Yang pertama (ḥaṣab) berasal dari kata kerja ḥaṣaba-yaḥṣibu/yaḥ ṣubu, yang artinya melempar dengan kerikil. ḥaṣab sendiri artinya adalah sesuatu yang dilempar ke dalam api sebagai bahan bakarnya, seperti kayu dan lainnya. Dalam ayat ini ḥaṣab diartikan sebagai apa yang dilempar ke dalam api untuk bahan bakar agar gejolak apinya bertambah. Yang kedua (jahannam) adalah tempat penyiksaan yang terdapat di akhirat, atau yang biasa disebut neraka. Dengan demikian, ḥaṣabu jahannam maksudnya adalah bahan bakar neraka yang menjadi tempat penyiksaan di akhirat bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa orang yang beribadah kepada selain Allah dan yang disembah akan mendapat balasan yang pedih, yaitu dijadikan sebagai bahan bakar neraka jahannam. Dijadikannya sesembahan kaum musyrikin sebagai bahan bakar neraka merupakan siksaan tersendiri bagi para penyembah itu, karena mereka menyaksikan sendiri apa yang sepenuhnya bertentangan dengan kepercayaan mereka.
2. Khālidūn خَالِدُوْنَ(al-An biyā’/21: 99)
Khālidūn merupakan bentuk jamak mużakar salim dari khālid yang merupakan bentuk ism fā’il dari kata kerja khalada-yakhludu yang maknanya kekal atau abadi. Dengan demikian khālidūn berarti mereka menjadi kekal. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya yang kekal itu hanya Allah. Sedangkan mahluk pada dasarnya tidak kekal, hanya saja mereka dikekalkan Allah dengan tujuan agar mereka dapat merasakan balasan dari perbuatan yang telah dilakukan. Karenanya, Allah itu kekal dengan sendiri-Nya (bi nafsihi), sedang mahluk kekal karena dikekalkan Allah (bi gairihi).
3. Zafīr زَفِيْر (al-Anbiyā’/21: 100)
Zafīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja zafara-yazfiru, yang artinya suara gejolak, suara tarikan nafas panjang, suara lenguhan keledai yang pertama. Dalam ayat ini, zafīr diartikan sebagai suara rintihan nafas dari seseorang yang disertai rasa sakit yang kadang-kadang terdengar seperti orang yang tercekik karena nafas yang sesak. Dalam ayat ini, zafīr dimaksudkan untuk menggambarkan rintihan orang musyrik ketika menarik nafas pada saat disiksa akibat perilaku syirik, yaitu menyembah kepada selain Allah.

















































