وَاِنْ يُّرِيْدُوْا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللّٰهَ مِنْ قَبْلُ فَاَمْكَنَ مِنْهُمْ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
Wa iy yurīdū khiyānataka faqad khānullāha min qablu fa amkana minhum wallāhu ‘alīmun ḥakim(un).
Akan tetapi, jika mereka (para tawanan itu) hendak mengkhianatimu (Nabi Muhammad), sungguh sebelumnya mereka telah berkhianat kepada Allah. Lalu, Dia menjadikanmu menguasai mereka (pada perang Badar). Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Boleh jadi muncul rasa kekhawatiran dalam benak Rasullah jika di kemudian hari mereka berkhianat, maka ayat ini menguatkan jiwa beliau. Jika mereka, tawanan-tawanan itu, hendak mengkhianatimu, wahai Nabi Muhammad, dengan menunjukkan sikap seakan condong kepada Islam padahal mereka berbohong, maka jangan khawatir, sesungguhnya sebelum itu pun mereka telah berkhianat kepada Allah berupa kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan dosa lainnya, maka Dia memberikan kekuasaan kepadamu atas mereka, yaitu kemenangan di Perang Badar meski dengan jumlah pasukan yang tidak seimbang. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, Mahabijaksana dalam segala ketetapan-Nya.
Dengan keterangan yang diberikan Rasulullah kepada para tawanan itu sebagaimana yang diperintahkan Allah, banyak di antara mereka yang menyatakan masuk Islam dan tidak memusuhi lagi Nabi Muhammad saw beserta kaum Muslimin. Tetapi Allah memperingatkan dan menggembirakan hati Nabi akan sikap mereka selanjutnya dengan menerangkan pada ayat ini bahwa bila ada di antara mereka itu yang mengkhianati janjinya dengan kembali kepada kufur atau menyerang kaum Muslimin, maka Nabi tak perlu merasa gusar dan bersedih hati. Hal itu sudah lumrah dan biasa terjadi pada manusia. Bila dalam keadaan susah dan terdesak ia mengucapkan kata-kata yang manis dan mengemukakan janji yang muluk-muluk, tetapi bila berada dalam suasana aman dan baik ia mengingkari semua janjinya dan berbalik menjadi musuh yang lebih jahat lagi.
Begitulah sifat sebagian kaum Musyrikin itu, karena sifat itu telah menjadi darah daging dalam tubuhnya. Sedang Allah Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa telah mereka khianati dengan mempersekutukan-Nya dan menyembah berhala serta melakukan perbuatan yang tidak diridai-Nya. Karena pengkhianatan terhadap Allah inilah maka Dia memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin, seperti yang terjadi pada Perang Badar, padahal kaum musyrikin itu lebih banyak jumlahnya dan lebih lengkap persenjataannya. Allah Maha Mengetahui segala apa yang tersimpan dalam hati mereka, dan Mahabijaksana dalam memberikan balasan terhadap apa yang diperbuat manusia, yang baik dibalas dengan pahala dan yang buruk dibalas dengan siksa.
Amkana أَمْكَنَ (al-Anfāl/8: 71)
Lafal amkana adalah fi’il māḍi, amkana-yumkinu-imkānan, artinya memungkinkan, memberi kedudukan, menjadikan berpengaruh atau berkuasa. Pada ayat 71 ungkapan faamkana minhum artinya menjadikan berkuasa terhadap mereka, yaitu jika orang-orang musyrik berkhianat kepada kamu (Muhammad) dan juga berkhianat kepada Allah, maka kini setelah Perang Badar mereka menjadi tawanan perang dan Allah menjadikanmu berkuasa terhadap mereka.
Dalam Perang Badar, meskipun jumlah tentara Islam hanya 313 orang sedangkan tentara kafir Quraisy dari Mekah ada 1000 orang dengan persenjataan lebih lengkap, tetapi berkat semangat juang yang tinggi dan bantuan dari Allah, maka kaum Muslimin mendapat kemenangan gemilang dalam perang tersebut. Tentara Quraisy yang terbunuh sebanyak 70 orang di antaranya adalah Abu Jahal, sementara 70 orang tentara dan tokoh-tokoh Quraisy ditawan, sisanya pulang dan lari dari peperangan karena banyaknya korban dari pihak mereka. Kemenangan Perang Badar ini memberi pengaruh psikologis yang amat besar bagi perjuangan kaum Muslimin selanjutnya, sehingga makin yakin akan kebenaran agama yang dibawa Nabi Muhammad.












































