قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ
Qāla na‘am wa innakum laminal-muqarrabīn(a).
Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan sesungguhnya kamu pasti termasuk orang-orang yang didekatkan (kedudukannya kepadaku).”
Karena Fir'aun ingin menang dan mengalahkan sihir Nabi Musa, dia (Fir'aun) menjawab, “Ya, tentu bagi kalian imbalan yang besar, bahkan lebih dari itu sesungguhnya kamu pasti benar-benar akan termasuk orang-orang yang didekatkan kedudukannya padaku dan akan mendapatkan segala bentuk kesenangan.”
Fir‘aun menjawab pertanyaan mereka itu, “Ya kamu akan mendapat upah yang besar, dan di samping itu kamu akan menjadi orang-orang yang dekat dengan kami, sehingga kamu akan memperoleh pangkat dan harta benda yang akan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan bagimu”.
Jawaban Fir‘aun kepada para ahli sihir tersebut menunjukkan bahwa ia sangat memerlukan tenaga dan keahlian mereka, karena ia sangat khawatir akan kehilangan kedudukan dan kerajaannya, menurut pendapatnya akan timbul malapetaka baginya apabila ia tidak memenuhi permintaan mereka itu. Oleh sebab itu, imbalan jasa yang dijanjikan kepada mereka tidak hanya sekedar upah yang berwujud uang dan benda, melainkan ditambah pula dengan pangkat dan kedudukan sebagai orang yang dekat kepada raja. Ini adalah merupakan satu impian dan kebanggaan yang didambakan oleh banyak orang.
Kosakata : ‘Aṣāka عَصَاكَ (al-A‘rāf/7: 117).
‘Aṣā jamak عِصِيٌّ ‘iṣiyun, ‘uṣiyyun artinya tongkat. Sama halnya dengan “putih bersinar,” yang dengan wahyu atau ilham dari Allah, mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular oleh pembesar-pembesar Firaun dikira sihir juga, seperti perbuatan jahat mereka dengan mengumpulkan semua pakar pesihir yang piawai (al-A‘rāf/7: 111). Dalam dunia mereka, sihir bukan kejahatan, bukan tipu muslihat, tetapi sudah merupakan puncak kepiawaian dan kejayaan yang dapat menentukan kedudukan seseorang.













































