Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 103 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 103 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 163 •  Quarter Hizb 17 •  Juz 9 •  Manzil 2 • Makkiyah

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ مُّوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهٖ فَظَلَمُوْا بِهَاۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ

Ṡumma ba‘aṡnā mim ba‘dihim mūsā bi'āyātinā ilā fir‘auna wa mala'ihī fa ẓalamū bihā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn(a).

Kemudian, Kami utus Musa setelah mereka dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami kepada Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Lalu, mereka mengingkarinya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 103
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah mereka, yaitu para rasul tersebut, kemudian Kami utus Musa dengan membawa bukti-bukti yang menunjukkan kebenarannya dalam menyampaikan wahyu Kami, kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu dengan sikap zhalim dan takabbur mereka mengingkari bukti-bukti itu dan melecehkannya serta menghalangi orang lain untuk mempercayainya. Karena itulah mereka, akhirnya, berhak mendapat azab Allah. Maka perhatikanlah wahai Nabi Muhammad dan siapa pun yang mau menggunakan akalnya, bagaimana kesudahan dan akhir perjalanan orang-orang yang berbuat kerusakan, antara lain Firaun yang Allah tenggelamkan di Laut Merah, dengan mendustakan kebenaran dari Allah dan menghalangi-halangi orang dari jalan-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kisah Nabi Musa as dalam Al-Qur’an kebanyakan terdapat dalam surah Makiyah, baik Surah-Surah yang panjang maupun yang pendek, dimulai dari Surah al-A‘rāf yang merupakan Surah Makiyah pertama menurut susunan surah-surah Al-Qur’an, dimana terdapat kisah Nabi Musa as. Kemudian terdapat pula Surah Ṭāha, Asy-Syu’arā, An-Naml, Al-Qaṣaṣ, Yunus, Hūd dan Al-Mu’minūn.

Nama Nabi Musa as seringkali disebut dalam Al-Qur’an lebih dari 130 kali, tidak ada seorang pun Nabi lainnya, ataupun raja-raja yang namanya disebut sebanyak itu dalam Al-Qur’an. Hal ini disebabkan antara lain karena kisah Nabi Musa sangat mirip dengan kisah Nabi Muhammad. Selain itu, kedua Nabi ini mempunyai umat yang besar jumlahnya, yang memiliki kekuasaan dan kemajuan peradaban yang tinggi.

Nabi Musa as adalah putera Imran. Ia berkebangsaan Israil, dilahirkan di Mesir, ketika Bani Israil menetap di negeri Mesir, dimasa kekuasaan raja-raja Fir‘aun.

Dalam ayat ini, Allah menceritakan bahwa setelah mengutus rasul-rasul-Nya yang tersebut dalam ayat-ayat terdahulu, maka Dia mengutus Nabi Musa as dengan membawa ayat-ayat-Nya kepada Fir‘aun dan pemuka-pemukanya. Fir‘aun adalah gelar yang dipakai oleh raja-raja di Mesir, pada masa dahulu kala, sebagaimana gelar “Kisra” bagi raja-raja Persia dan gelar “Kaisar” bagi raja-raja Romawi. Fir‘aun yang memerintah di Mesir pada masa Nabi Musa, bernama Minepthah Ramses II. Ia seorang penguasa dinasti kesembilan belas, sekitar tahun 1491 SM. Mumi (mayat) Minepthah masih ada sampai sekarang dan disimpan di Museum Nasional Mesir, Kairo.

Disebutkan dalam ayat ini, bahwa Fir‘aun bersama pemuka-pemukanya telah kafir terhadap ayat-ayat Allah yang dibawa oleh Nabi Musa as kepada mereka. Ayat-ayat atau mukjizat yang dibawa Musa as kepada mereka, tetap mereka tolak dengan sikap angkuh dan sombong. Fir‘aun dan para pemuka kaumnya telah memperbudak rakyatnya. Lebih-lebih terhadap Bani Israil yang merupakan orang asing yang tinggal di Mesir ketika itu, dibawah cengkeraman kekuasaan yang zalim dari Fir‘aun dan para pemukanya.

Andaikata Fir‘aun dan para pemukanya itu beriman kepada Nabi Musa dan agama yang dibawanya, niscaya seluruh penduduk negeri Mesir ketika itu tentulah beriman pula, sebab mereka itu semuanya berada dalam genggaman kekuasaan Fir‘aun dan para pembesarnya.

Karena keingkaran Fir‘aun dan para pembesarnya, maka pada akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad beserta umatnya untuk memperhatikan bagaimana akibat orang-orang yang ingkar kepada rasul-rasul-Nya, serta berbuat kerusakan di bumi, yaitu dengan berbuat kezaliman serta memperbudak sesama manusia. Allah akan menceritakan dalam ayat selanjutnya bagaimana Nabi Musa sebagai salah seorang dari Bani Israil yang tertindas dan akhirnya dapat mengalahkan ahli-pesihir Fir‘aun serta meyakinkan para ulamanya tentang kebenaran risalah yang dibawanya.

Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub yang bernama Israil. Nabi Ya’qub berasal dari Kan’an (Palestina). Dia pindah ke Mesir bersama keluarga dan putera-puteranya setelah diajak oleh puteranya, yaitu Nabi Yusuf untuk pindah ke negeri Mesir. Nabi Yusuf pada waktu itu diangkat oleh Raja Mesir menjadi penguasa yang mengurus perbekalan negara. Keturunan Nabi Ya’qub kemudian berkembang biak di Mesir, hingga akhirnya menjadi satu bangsa yang besar yang disebut Bani Israil.

Fir‘aun berusaha agar Bani Israil itu tidak terus berkembang-biak, dengan membunuh setiap anak lelaki mereka yang lahir dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya. Mereka diwajibkan membayar pajak yang sangat tinggi dan dijadikan sebagai pekerja-pekerja paksa dan berbagai bentuk penindasan dan perbudakan yang lain.

Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Musa untuk membebaskan mereka dari perbudakan Fir‘aun dan membawa mereka keluar dari negeri Mesir. Pertolongan Allah kepada Nabi Musa as selanjutnya, ialah menimpakan azab kepada Fir‘aun dan menyelamatkan kaum Nabi Musa, serta tenggelamnya Fir‘aun dan para pengikutnya dan bala tentaranya di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan kaumnya. Kisah ini mengandung pelajaran yang amat berharga, bahwa hanya dengan kekuatan materiil (kebendaan) tidak menjamin kemenangan bagi seseorang atau satu bangsa. Sebaliknya, umat yang mempunyai keimanan yang teguh kepada Allah, niscaya akan memperoleh pertolongan dari pada-Nya, sehingga umat tersebut akan dapat mengalahkan orang-orang yang hanya bersandar kepada kekuatan materiil saja.

Isi Kandungan Kosakata

Mūsā مُوْسَى (al-A‘rāf/7: 103)

Mūsā, lahir di Mesir sekitar abad ke-13 SM (Sebelum Masehi). Dia berdarah Israil (Sigmund Freud, psikolog Austria yang terkenal itu, mengatakan bahwa Musa berdarah Mesir) anak Imran (dalam Bibel Amram, dari bahasa Ibrani). Keberadaan Bani Israil di Mesir setelah Nabi Yakub sekeluarga pindah ke Mesir atas permintaan Yusuf `alaihissalām, ketika itu Mesir diperintah oleh dinasti Hyksos, sebelum jatuh ke tangan Firaun. Ketika Musa lahir Mesir sudah di bawah Firaun yang kemudian mengeluarkan ketentuan yang menindas kaum Israil dan setiap anak laki-laki harus dibunuh.

Pertama kali namanya disebutkan dalam al-Baqarah/2: 51, dan nama Musa terbanyak yang disebutkan dalam Al-Qur’an, terdapat dalam 136 tempat. Kisah Musa dalam Bibel dan dalam Al-Qur’an dalam garis besarnya banyak persamaannya. Tidak jelas asal kata musa. Ada yang berpendapat dan dipandang lebih kuat, dari kata bahasa Mesir mes atau mesu, yang berarti keturunan atau anak, (bahasa Mesir berbeda dengan bahasa Qibti). Dalam bahasa Ibrani, Moshe. Ada juga yang mengatakan bahwa “Mu” artinya air artinya air sungai Nil dan “she” artinya pohon, karena ia pernah dihanyutkan oleh air sebagaimana kisah di bawah ini. Menurut Bibel, Musa lahir di Gosyen, Mesir, dan wafat di Moab dalam usia 120 tahun (Ulangan xxxiv: 5, 6). Amram anak Kehat (Kohath) anak Lewi anak Yakub `alaihissalãm, kawin dengan bibinya Yokhebed (Jochebed) anak Lawi (Keluaran vi: 19). Jadi bibi Amram dan sekaligus istrinya yang kemudian melahirkan Harun dan Musa (Bd. Perjanjian Lama, ci: 19). Perkawinan dengan anggota keluarga dekat waktu itu tidak ada larangan, seperti anak-anak Adam yang mengawini saudaranya sendiri. Dalam hal ini larangan baru ada dalam syariat Musa. Kawin dengan bibi belum ada larangan. Larangan demikian baru ada setelah Musa keluar dari Mesir.

Dia pendiri agama Yahudi dan syariatnya, guru dan pemimpin yang telah membebaskan bangsanya dari perbudakan Mesir di bawah Firaun. Dalam tradisi Yahudi dia dipandang sebagai Nabi terbesar. Agama yang di Barat dikenal dengan Judaism, atau Mosaism ini pengaruhnya sangat terasa dalam kehidupan beragama, moral dan etika peradaban Barat.

Perjuangan Musa `alaihissalãm dan Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi kaumnya dalam menyampaikan ajaran tauhid dan memerangi perbudakan dan penjajahan terdapat banyak persamaan. Kisah Musa dalam Al-Qur’an kebanyakan terdapat dalam al-Baqarah, al-A`rāf, ṭā Hā, al-Qaṣaṣ dan dalam beberapa surah lagi. Dalam Surah al-A`rāf ini Allah mengutus Musa kepada Firaun dan para pembesarnya dengan misi tauhid. Sekitar waktu-waktu itulah pengembaraan Musa di gurun pasir (kisah Musa) terdapat dalam al-A`rāf/7: 103-171 yang secara beruntun, setelah didahului oleh kisah-kisah tentang Nabi Hud, Saleh dan Syu`aib yang diyakini ketiganya dari ras Arab. Beberapa mufasir ada yang menyebutkan, bahwa Syaikhun kabïr (al-Qaṣaṣ/28: 23), mertua Musa itu adalah Syu`aib, belum dapat dikukuhkan, mengingat jarak waktu antara Syu`aib dengan Musa diperkirakan sekitar 400 tahun. Akan sia-sia kita mencari nama-nama mereka dalam literatur kristiani, karena fanatisme Israil mengatakan bahwa tidak mungkin ada nabi di luar Bani Israil.

Ketika Musa lahir, diperkirakan Mesir diperintah oleh Thothmes I (Thetmosis I), Firaun Dinasti XVIII (abad ke-16 SM) dengan semangat kebangsaan yang menyala-nyala setelah berhasil mengusir Hyksos,*) dan dinasti ini juga yang menindas Israil di Mesir dan menyebabkan mereka eksodus. Dulu ada pendapat bahwa Ramses II (Yang Agung, kira-kira pada tahun 1250 SM), dan eksodus terjadi di masa kekuasaan anaknya, Mineptah (Menephthah), penggantinya sekitar tahun 1225 SM. “Tetapi masanya sudah sangat terlambat. Ada beberapa isyarat yang menunjukkan adanya orang-orang Israil pada waktu itu yang sudah menetap di Kanaan.” Masa itu lebih mengacu pada Bani Israil di Palestina daripada Bani Israil di Mesir.

Waktu itu bidan-bidan di Mesir diperintahkan membunuh semua bayi laki-laki Israil. Allah mewahyukan kepada ibunya agar anak itu disusui, dan kalau khawatir dari tindakan Firaun agar dihanyutkan ke sungai. Jangan takut, Allah akan mengembalikannya kepadanya dan akan menjadikannya seorang rasul (al-Qaṣaṣ/28: 713). Diletakkannya bayi itu ke dalam peti (atau keranjang menurut Bibel), dan menghanyutkannya ke Sungai Nil. Karena aliran Sungai melalui Istana Firaun, bayi itu dipungut oleh salah seorang anggota keluarga Firaun. Ibunya tak perlu takut atau merasa sedih, sebab dengan penuh kasih sayang anak itu dibesarkan di bawah pengawasannya, dan kemudian menjadi salah seorang utusan Allah, seperti yang dapat kita baca dalam lanjutan ayat itu. Tentu kita tak dapat mencatat semua perjalanan Musa yang panjang itu dalam ruangan yang terbatas ini. Tetapi menurut kenyataan kemudian, semua ini memang terjadi, seperti dikisahkan dalam beberapa surah di sana sini dalam Al-Qur’an.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto