وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Wa qāla mūsa yā fir‘aunu innī rasūlum mir rabbil-‘ālamīn(a).
Musa berkata, “Wahai Fir‘aun, sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam.
Dan Nabi Musa berkata, “Wahai Fir'aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan yang datang untuk menyampaikan seruan dan syariat dari Tuhan Yang Mencipta dan Mengatur keadaan seluruh alam, termasuk Mesir.
Dalam ayat ini dikisahkan ucapan Musa yang pertama kali disampaikan kepada Fir‘aun setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul. Nabi Musa memberitahukan kepada Fir‘aun, bahwa dia adalah utusan Allah, Tuhan semesta alam. Pemberitahuan ini berarti bahwa: Musa telah menjalankan tugasnya sebagai nabi Allah, Pencipta dan Penguasa seluruh alam. Karena itu hendaknya Fir‘aun menerima keterangan Nabi Musa tersebut dan tidak akan menghalang-halangi tugasnya sebagai Rasul.
Selanjutnya Nabi Musa menambahkan keterangannya, bahwa dia mengatakan yang hak mengenai Allah. Artinya: apa yang dikatakannya bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam, dan bahwa Dia telah mengutusnya sebagai Rasul adalah hal yang sebenarnya. Ia tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar, karena mustahil Allah mengutus orang yang suka berdusta.
Kemudian ditegaskan lagi, bahwa Musa membawa bukti-bukti yang dikaruniakan Allah kepadanya, untuk membuktikan kebenarannya dalam dakwahnya. Dalam ucapan itu, Nabi Musa memakai ungkapan: “Sesungguhnya aku datang kepadamu membawa bukti dari Tuhanmu”. Ini adalah untuk menunjukkan bahwa Fir‘aun bukanlah Tuhan, melainkan hanya sekedar hamba Tuhan. Sedang Tuhan yang sebenarnya adalah Allah swt.
Keterangan ini sangat penting artinya, karena Fir‘aun yang angkuh itu telah mengaku sebagai Tuhan dan menyuruh rakyatnya menyembah kepadanya. Maka penegasan Nabi Musa ini telah menyangkal kebohongan dan kesombongan Fir‘aun, yang telah memposisikan dirinya sebagai Tuhan. selain itu, ungkapan Nabi Musa, juga mengandung arti, bahwa bukti-bukti yang dibawanya adalah karunia Allah bukan dari dirinya sendiri.
Pada akhir ayat ini disebutkan, bahwa setelah mengemukakan keterangan-keterangan tersebut di atas, dan setelah melalui perjuangan yang melelahkan Musa as menuntut kepada Fir‘aun agar ia membebaskan Bani Israil dari cengkeraman kekuasaan dan perbudakannya, dan membiarkan mereka pergi bersama Nabi Musa meninggalkan negeri Mesir, kembali ke tanah air mereka di Palestina, agar mereka bebas dan merdeka untuk menyembah Tuhan mereka dan melaksanakan ajarannya.
Tuntutan Nabi Musa tersebut mengandung arti bahwa perbudakan oleh manusia terhadap sesama manusia harus dilenyapkan dan seorang penguasa hendaklah memberikan kebebasan kepada orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya, untuk memeluk agama serta melakukan ibadah menurut kepercayaan masing-masing. Oleh sebab itu, kalau Fir‘aun tidak mau beriman kepada Allah janganlah ia menghalangi orang lain untuk beriman dan beribadah menurut keyakinan mereka.
Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa ucapan pertama kali dari Nabi Musa as dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai Rasul adalah berbeda dengan ucapan Nabi dan Rasul-rasul sebelumnya, ketika mereka mulai berdakwah, misalnya:
a. Ucapan pertama dari Nabi Nuh as kepada kaumnya adalah sebagai berikut:
لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ ٥٩
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia”. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang dahsyat (kiamat). (al-A‘rāf/7:59).
b. Ucapan Nabi Hud kepada kaum ‘Ād adalah :
۞ وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ ٦٥
“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” (al-A‘rāf/7: 65).
Dan ucapan Nabi Saleh kepada kaum Ṣamūd adalah:
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٧٣
“Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkan ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih”. ( al-A‘rāf/7: 73).
c. ucapan Nabi Syu’aib kepada kaumnya, penduduk Madyan, adalah:
وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ٨٥
“Dan kepada penduduk Madyan, (Kami utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata,” “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman”. ( al-A‘rāf/7: 85).
Sedang ucapan pertama dari Nabi Musa yang ditujukan kepada Fir‘aun adalah:
وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٠٤
“Wahai Fir‘aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam.” (al-A‘rāf/7: 104).
Bila kita bandingkan antara ayat-ayat tersebut nampak perbedaan diantaranya yaitu bahwa: ucapan pertama dari Rasul-rasul sebelum Nabi Musa as yang ditujukan kepada kaum mereka masing-masing adalah berisi seruan kepada agama tauhid, yaitu menyembah Allah semata, dengan alasan bahwa tidak ada tuhan bagi manusia selain Allah. Sedang ucapan pertama dari Nabi Musa yang ditujukan kepada Fir‘aun adalah berisi pemberitahuan kepadanya bahwa Musa adalah utusan Allah. Dengan demikian, dalam ucapan itu tidak ada seruan yang nyata kepada Fir‘aun agar ia menyembah Allah.
Dari sini, dapat diambil kesimpulan atau pengertian sebagai berikut:
a. Obyek (sasaran) yang utama dari dakwah Musa bukan hanya Fir‘aun tetapi termasuk kaumnya sendiri, yaitu Bani Israil. Musa bertugas untuk melepaskan Bani Israil dari perbudakan Fir‘aun dan membimbing kaumnya kepada agama yang benar.
b. Nabi Musa mengenal watak dan kelakuan Fir‘aun, Fir‘aun tidak saja ingkar kepada Allah, bahkan juga ia menganggap dirinya sebagai tuhan dan menyuruh orang lain untuk menyembahnya. Oleh sebab itu Fir‘aun hanya diberi peringatan bahwa tuhan yang sebenarnya bukanlah dia, melainkan Allah Pencipta alam semesta. Karena tidak ada faedahnya untuk mengajak Fir‘aun menyembah Allah, ajakan ini pasti tidak akan dihiraukan dan tidak akan diindahkannya.
Mūsā مُوْسَى (al-A‘rāf/7: 103)
Mūsā, lahir di Mesir sekitar abad ke-13 SM (Sebelum Masehi). Dia berdarah Israil (Sigmund Freud, psikolog Austria yang terkenal itu, mengatakan bahwa Musa berdarah Mesir) anak Imran (dalam Bibel Amram, dari bahasa Ibrani). Keberadaan Bani Israil di Mesir setelah Nabi Yakub sekeluarga pindah ke Mesir atas permintaan Yusuf `alaihissalām, ketika itu Mesir diperintah oleh dinasti Hyksos, sebelum jatuh ke tangan Firaun. Ketika Musa lahir Mesir sudah di bawah Firaun yang kemudian mengeluarkan ketentuan yang menindas kaum Israil dan setiap anak laki-laki harus dibunuh.
Pertama kali namanya disebutkan dalam al-Baqarah/2: 51, dan nama Musa terbanyak yang disebutkan dalam Al-Qur’an, terdapat dalam 136 tempat. Kisah Musa dalam Bibel dan dalam Al-Qur’an dalam garis besarnya banyak persamaannya. Tidak jelas asal kata musa. Ada yang berpendapat dan dipandang lebih kuat, dari kata bahasa Mesir mes atau mesu, yang berarti keturunan atau anak, (bahasa Mesir berbeda dengan bahasa Qibti). Dalam bahasa Ibrani, Moshe. Ada juga yang mengatakan bahwa “Mu” artinya air artinya air sungai Nil dan “she” artinya pohon, karena ia pernah dihanyutkan oleh air sebagaimana kisah di bawah ini. Menurut Bibel, Musa lahir di Gosyen, Mesir, dan wafat di Moab dalam usia 120 tahun (Ulangan xxxiv: 5, 6). Amram anak Kehat (Kohath) anak Lewi anak Yakub `alaihissalãm, kawin dengan bibinya Yokhebed (Jochebed) anak Lawi (Keluaran vi: 19). Jadi bibi Amram dan sekaligus istrinya yang kemudian melahirkan Harun dan Musa (Bd. Perjanjian Lama, ci: 19). Perkawinan dengan anggota keluarga dekat waktu itu tidak ada larangan, seperti anak-anak Adam yang mengawini saudaranya sendiri. Dalam hal ini larangan baru ada dalam syariat Musa. Kawin dengan bibi belum ada larangan. Larangan demikian baru ada setelah Musa keluar dari Mesir.
Dia pendiri agama Yahudi dan syariatnya, guru dan pemimpin yang telah membebaskan bangsanya dari perbudakan Mesir di bawah Firaun. Dalam tradisi Yahudi dia dipandang sebagai Nabi terbesar. Agama yang di Barat dikenal dengan Judaism, atau Mosaism ini pengaruhnya sangat terasa dalam kehidupan beragama, moral dan etika peradaban Barat.
Perjuangan Musa `alaihissalãm dan Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi kaumnya dalam menyampaikan ajaran tauhid dan memerangi perbudakan dan penjajahan terdapat banyak persamaan. Kisah Musa dalam Al-Qur’an kebanyakan terdapat dalam al-Baqarah, al-A`rāf, ṭā Hā, al-Qaṣaṣ dan dalam beberapa surah lagi. Dalam Surah al-A`rāf ini Allah mengutus Musa kepada Firaun dan para pembesarnya dengan misi tauhid. Sekitar waktu-waktu itulah pengembaraan Musa di gurun pasir (kisah Musa) terdapat dalam al-A`rāf/7: 103-171 yang secara beruntun, setelah didahului oleh kisah-kisah tentang Nabi Hud, Saleh dan Syu`aib yang diyakini ketiganya dari ras Arab. Beberapa mufasir ada yang menyebutkan, bahwa Syaikhun kabïr (al-Qaṣaṣ/28: 23), mertua Musa itu adalah Syu`aib, belum dapat dikukuhkan, mengingat jarak waktu antara Syu`aib dengan Musa diperkirakan sekitar 400 tahun. Akan sia-sia kita mencari nama-nama mereka dalam literatur kristiani, karena fanatisme Israil mengatakan bahwa tidak mungkin ada nabi di luar Bani Israil.
Ketika Musa lahir, diperkirakan Mesir diperintah oleh Thothmes I (Thetmosis I), Firaun Dinasti XVIII (abad ke-16 SM) dengan semangat kebangsaan yang menyala-nyala setelah berhasil mengusir Hyksos,*) dan dinasti ini juga yang menindas Israil di Mesir dan menyebabkan mereka eksodus. Dulu ada pendapat bahwa Ramses II (Yang Agung, kira-kira pada tahun 1250 SM), dan eksodus terjadi di masa kekuasaan anaknya, Mineptah (Menephthah), penggantinya sekitar tahun 1225 SM. “Tetapi masanya sudah sangat terlambat. Ada beberapa isyarat yang menunjukkan adanya orang-orang Israil pada waktu itu yang sudah menetap di Kanaan.” Masa itu lebih mengacu pada Bani Israil di Palestina daripada Bani Israil di Mesir.
Waktu itu bidan-bidan di Mesir diperintahkan membunuh semua bayi laki-laki Israil. Allah mewahyukan kepada ibunya agar anak itu disusui, dan kalau khawatir dari tindakan Firaun agar dihanyutkan ke sungai. Jangan takut, Allah akan mengembalikannya kepadanya dan akan menjadikannya seorang rasul (al-Qaṣaṣ/28: 713). Diletakkannya bayi itu ke dalam peti (atau keranjang menurut Bibel), dan menghanyutkannya ke Sungai Nil. Karena aliran Sungai melalui Istana Firaun, bayi itu dipungut oleh salah seorang anggota keluarga Firaun. Ibunya tak perlu takut atau merasa sedih, sebab dengan penuh kasih sayang anak itu dibesarkan di bawah pengawasannya, dan kemudian menjadi salah seorang utusan Allah, seperti yang dapat kita baca dalam lanjutan ayat itu. Tentu kita tak dapat mencatat semua perjalanan Musa yang panjang itu dalam ruangan yang terbatas ini. Tetapi menurut kenyataan kemudian, semua ini memang terjadi, seperti dikisahkan dalam beberapa surah di sana sini dalam Al-Qur’an.












































