حَقِيْقٌ عَلٰٓى اَنْ لَّآ اَقُوْلَ عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَرْسِلْ مَعِيَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ
Ḥaqīqun ‘alā allā aqūla ‘alallāhi illal-ḥaqq(a), qad ji'tukum bibayyinatim mir rabbikum fa arsil ma‘iya banī isrā'īl(a).
Wajib atasku tidak mengatakan (sesuatu) terhadap Allah, kecuali yang hak (benar). Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.”
Sebagai seorang nabi dan rasul yang bertugas menyampaikan pesan Allah, aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, untuk memperkuat kebenaran yang kubawa ini, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata, berupa aneka mukjizat yang bersumber dari Tuhanmu. Karena itu, maka lepaskanlah Bani Israil. Biarkan mereka pergi bersamaku ke Baitulmakdis, negeri nenek moyang kami. Bebaskanlah mereka dari perbudakanmu dan biarkanlah mereka keluar ke wilayah yang bukan wilayahmu, agar mereka dapat menyembah Tuhan mereka dan Tuhanmu.”
Pada ayat ini disebutkan jawaban Fir‘aun kepada Nabi Musa, bahwa jika benar Nabi Musa datang menunjukkan kerasulannya hendaklah ia membuktikan kebenaran ucapannya, bahwa ia adalah utusan Allah, dan ia memperoleh mukjizat dari pada-Nya. Semula Fir‘aun menduga bahwa Musa hanya berbohong mengaku menjadi utusan Allah. Oleh karena itu, Fir‘aun minta ditunjukkan bukti kerasulan dan mukjizat tersebut bukan hanya dihadapannya tetapi juga di depan umum agar banyak orang yang mengetahuinya.
Baiḍā’ بَيْضَاءَ (al-A‘rāf/7: 108).
Tampak putih bersinar pada mereka yang menyaksikan. بيضاء bentuk mu’annaṡ (feminin) dari .أبيض Musa mengeluarkan tangannya dari bajunya di bagian dada dan terlihat putih bersinar. Mukjizat kedua ini lebih membingungkan lagi bagi orang-orang Mesir setelah yang pertama tongkatnya menjadi ular. Cara ini bukan sihir, bukan tipu-muslihat atau pekerjaan jahat lainnya. Tak seorang pun dari para pesihir Firaun itu yang mampu menyainginya. Semua ini sangat mempesonakan setiap orang yang melihatnya, walaupun ada yang diam-diam menyembunyikan kekagumannya. Tampaknya kemampuan praktek sihir di lingkungan Firaun waktu itu mencapai puncak kejayaannya. Untuk itu Allah membekali Musa dengan senjata yang dalam pandangan mereka sama memukaunya. Kedua bukti itu memberi pengaruh atas orang-orang Mesir sebagaimana diharapkan. Mereka terkesan sekali, tetapi mereka menyangka, semua ini hanya tipu daya tukang-tukang sihir biasa saja; sehingga mereka mencari para pesihir mereka yang paling pandai untuk memamerkan kepandaian sihirnya dan menunjukkan bahwa mereka lebih unggul.













































