قَالَ اِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِاٰيَةٍ فَأْتِ بِهَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ
Qāla in kunta ji'ta bi'āyatin fa'ti bihā in kunta minaṣ ṣādiqīn(a).
Dia (Fir‘aun) berkata, “Jika benar engkau membawa suatu bukti, tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Mendengar ucapan Nabi Musa itu dan pernyataannya bahwa beliau membawa serta bukti kebenaran, maka dia, yakni Fir'aun menjawab, “Jika benar engkau datang dengan membawa sesuatu bukti pendukung dari Tuhanmu, sebagaimana pengakuanmu, maka tunjukkanlah bukti itu kepadaku, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar dalam pengakuan dan tindakanmu lagi dapat dipercaya.”
Tantangan Fir‘aun itu segera dijawab oleh Nabi Musa dengan memperlihatkan dua macam mukjizatnya. Pertama Musa menjatuhkan tongkatnya ke tanah, tiba-tiba tongkat tersebut menjadi seekor ular besar yang mempunyai sifat-sifat ular secara biologis, dapat bergerak dan berjalan dengan sesungguhnya, berbeda dengan ular yang diciptakan para pesihir pada masa itu, yang hanya nampak seolah-olah seperti ular yang bergerak, padahal tidak demikian. Orang-orang melihat benda itu seperti bergerak, karena pikiran mereka telah dipengaruhi terlebih dahulu oleh para pesihir tersebut. Berbeda halnya ular yang menjelma dari tongkat Nabi Musa itu.
Baiḍā’ بَيْضَاءَ (al-A‘rāf/7: 108).
Tampak putih bersinar pada mereka yang menyaksikan. بيضاء bentuk mu’annaṡ (feminin) dari .أبيض Musa mengeluarkan tangannya dari bajunya di bagian dada dan terlihat putih bersinar. Mukjizat kedua ini lebih membingungkan lagi bagi orang-orang Mesir setelah yang pertama tongkatnya menjadi ular. Cara ini bukan sihir, bukan tipu-muslihat atau pekerjaan jahat lainnya. Tak seorang pun dari para pesihir Firaun itu yang mampu menyainginya. Semua ini sangat mempesonakan setiap orang yang melihatnya, walaupun ada yang diam-diam menyembunyikan kekagumannya. Tampaknya kemampuan praktek sihir di lingkungan Firaun waktu itu mencapai puncak kejayaannya. Untuk itu Allah membekali Musa dengan senjata yang dalam pandangan mereka sama memukaunya. Kedua bukti itu memberi pengaruh atas orang-orang Mesir sebagaimana diharapkan. Mereka terkesan sekali, tetapi mereka menyangka, semua ini hanya tipu daya tukang-tukang sihir biasa saja; sehingga mereka mencari para pesihir mereka yang paling pandai untuk memamerkan kepandaian sihirnya dan menunjukkan bahwa mereka lebih unggul.














































