Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 173 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 173 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 173 •  Quarter Hizb 18 •  Juz 9 •  Manzil 2 • Makkiyah

اَوْ تَقُوْلُوْٓا اِنَّمَآ اَشْرَكَ اٰبَاۤؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّنْۢ بَعْدِهِمْۚ اَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُوْنَ

Au taqūlū innamā asyraka ābā'unā min qablu wa kunnā żurriyyatam mim ba‘dihim, afatuhlikunā bimā fa‘alal-mubṭilūn(a).

atau agar kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan (Tuhan) sejak dahulu, sedangkan kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka, apakah Engkau akan menyiksa kami karena perbuatan para pelaku kebatilan?”295)

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 173
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Atau agar kamu tidak beralasan dengan mengatakan seandainya tidak ada rasul yang Kami utus atau tidak ada bukti-bukti itu, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami tidak mempunyai pembimbing selain mereka, sehingga kami mengikuti mereka saja, karena kami adalah keturunan yang datang setelah mereka dan hanya mengikuti jejak mereka. Maka apakah wajar wahai Tuhan, Engkau akan menyiksa dan membinasakan kami karena perbuatan syirik yang diwariskan kepada kami oleh orang-orang dahulu yang sesat?” Agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa nenek moyang mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tidak ada jalan lagi bagi mereka, hanya meniru nenek moyang mereka yang mempersekutukan Tuhan. Karena itu mereka menganggap mereka tidak patut disiksa karena kesalahan nenek moyang mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi bahwa tidaklah benar orang kafir itu berkata pada hari Kiamat sebagai alasan bahwa nenek-moyang merekalah yang pertama kali menciptakan kemusyrikan kemudian meneruskan kebiasaan syirik itu kepada mereka. Sebagai keturunan dari mereka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan leluhur mereka sehingga tidak mengetahui jalan menuju tauhid. Apakah kami harus binasa dan disiksa akibat kesalahan dan perbuatan nenek moyang kami.

Taklid kepada leluhur tidaklah dapat dijadikan alasan untuk mengingkari keesaan Allah, karena bukti keesaan Allah sangat jelas di hadapan mereka, dan mereka mampu menarik kesimpulan dari bukti-bukti itu sehingga mereka sampai kepada tauhid.

Isi Kandungan Kosakata

Asyhadahum اَشْهَدَهُمْ (al-A‘rāf /7: 172)

Kata asyhada berasal dari kata syahida-yasyhadu-syuhūdan wa syāhādatan, yang artinya memberi khabar yang pasti atau bersumpah. Asyhada merupakan kata kerja yang mendapat imbuhan, sehingga maknanya adalah menjadikan seseorang bersaksi atau bersumpah. Kata ini dipergunakan dalam Al-Qur’an untuk menegaskan bahwasanya manusia telah diambil ikrar atau sumpahnya tentang keesaan Tuhan. Persaksian ini dari mereka atas diri mereka sendiri, yaitu meminta pengakuan mereka masing-masing melalui potensi yang dianugerahkan Allah kepada mereka, seperti akal, hati nurani, dan hamparan bukti-bukti tentang keesaan Allah yang tersebar di alam raya. Tanda-tanda yang sedemikian banyak ini tampak sudah sangat mencukupi untuk digunakan sebagai dalil terhadap keesaan Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto