وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ
Wa qāsamahumā innī lakumā laminan-nāṣiḥīn(a).
Ia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini bagi kamu berdua benar-benar termasuk para pemberi nasihat.”
Dan Iblis tidak sekadar membisikkan atau merayu, tetapi juga berusaha meyakinkan Adam. Dia, yakni setan, juga bersumpah kepada keduanya seraya berkata, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu yang benar-benar tulus.”
Untuk menguatkan bisikan jahat dan tipu dayanya itu dia bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa dia sebenarnya adalah pemberi nasihat yang benar-benar menginginkan kebahagiaan keduanya dan apa yang dinasihatkannya itu adalah benar. Perlu diingat bahwa Al-Qur′an tidak menyebut nama istri Adam itu.
1. Waswasa وَسْوَسَ(al-A‘rāf /7: 20)
Pada mulanya ungkapan ini digunakan untuk suara gesekan perhiasan. Kemudian digunakan untuk bisikan setan kepada manusia secara terus menerus.
2. Yakhṣifān يَخْصِفَانِ (al-A‘rāf/7: 22)
Muḍari’ dari khaṣafa. Akar kata yang terdiri dari huruf-huruf (خ- ص- ف) mempunyai arti berkumpulnya sesuatu pada sesuatu yang lain. Dari arti ini kemudian muncul arti menempelkan sesuatu kepada sesuatu. Perbuatan menambal terompah disebut dengan khaṣf an-na’l karena dia telah meletakkan atau menempelkan sepotong kulit pada terompah yang ditambal. Kata yakhshifān pada ayat di atas menggambarkan bahwa keduanya (Nabi Adam dan Siti Hawa) menempelkan daun-daun yang ada di surga, satu sama lain dengan maksud menutupi aurat mereka, ketika setan berhasil menipu mereka untuk makan buah larangan.













































