وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta‘iż billāh(i), innahū samī‘un ‘alīm(un).
Jika setan benar-benar menggodamu dengan halus, berlindunglah kepada Allah.302) Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Rasul sebagai manusia, tentu saja dapat marah jika kemungkaran orang-orang musyrik telah mencapai puncaknya, dan setan akan memanfaatkan itu. Oleh karenanya, Nabi dan umatnya diingatkan, “Dan jika setan datang menggodamu dengan merayu secara halus, melalui suatu bisikan, seperti saat dirimu murka karena hujatan-hujatan jahat mereka, maka berlindunglah kepada Allah, dengan memohon pertolongan kepada-Nya, niscaya Dia akan mengusir bisikan-bisikan itu. Sungguh, Dia Maha Mendengar setiap ucapan, termasuk permohonanmu itu, dan Dia Maha Mengetahui setiap perbuatan, termasuk yang direncanakan oleh setan.”
Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang kemungkinan Nabi Muhammad digoda setan, lalu dia tidak dapat melaksanakan prinsip di atas. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar selalu memohonkan perlindungan kepada Allah jika golongan setan datang, dengan membaca “Ta’awwuz”, yaitu:
أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.
Allah swt Maha Mendengar segala permohonan yang diucapkan dan Maha Mengetahui apa yang terlintas dalam jiwa seseorang, yang dapat mendorong dia berbuat kejahatan atau kesalahan. Jika doa itu dibaca orang yang tergoda itu dengan hati yang ikhlas dan penghambaan diri yang tulus kepada Allah, maka Allah akan mengusir setan dari dirinya, serta akan melindunginya dari godaan setan itu.
Firman Allah swt:
فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٩٨ اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْن َ ٩٩
“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sungguh, setan itu tidak ada akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan”. (an-Naḥl/16:98-99)
Sabda Rasulullah saw:
مَا مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ مِنَ الْجِنِّ، قَالُوْا وَإِيَّاكَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟قَالَ وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللّٰهَ أَعَانَنِيْ عَلَيْهِ وَأَسْلَمُ مِنْهُ (رواه مسلم عن عائشة وابن مسعود(
“Tidak seorang pun di antara kamu sekalian melainkan didampingi temannya dari jenis jin. Berkatalah para sahabat: Engkau juga hai Rasulullah? Beliau menjawab, “Saya juga”. Hanya Allah menolong aku menghadapinya maka selamatlah aku dari padanya.” (Riwayat Muslim dari ‘Aisyah ra. dan Ibnu Mas’ud)
Meskipun dalam ayat ini perintah ditujukan kepada Rasul, namun perintah ini meliputi seluruh umatnya yang ada di dunia ini.
Al-’afwu اَلْعَفْوُ (al-A‘rāf /7: 199)
Kata al-’afwu terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf (ع- ف- و). Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu meninggalkan sesuatu atau memintanya. Dari akar kata itu muncul ‘afwu yang artinya meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah atau yang lazim diungkapkan dengan kata memaafkan. Perlindungan Allah dari keburukan dari keburukan disebut ‘afiah. Perlindungan mengandung makna ketertutupan. Dari sini, kata ‘afwu juga diartikan menutupi dan juga terhapus. Selain itu, ada pula yang memahami kata al-’afwu dalam arti moderasi atau pertengahan. Yang memilih prendapat ini menilai bahwa kata itu mencakup segala kebaikan, karena moderasi adalah yang terbaik. Di samping itu, memahaminya dengan makna demikian, pada ayat ini, menghindarkan munculnya kesan pengulangan perintah, karena perintah memaafkan hampir sama dengan perintah terakhir ayat ini, yaitu berpaling dari orang-orang jahil.












































