Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 201 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 201 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 176 •  Quarter Hizb 18.25 •  Juz 9 •  Manzil 2 • Makkiyah

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ

Innal-lażīnattaqau iżā massahum ṭā'ifum minasy-syaiṭāni tażakkarū fa iżā hum mubṣirūn(a).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 201
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad, kini petunjuk tertuju kepada kaum bertakwa secara umum. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, yang memberi batas pemisah antara diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat, sehingga menghalangi masuknya rayuan dan godaan setan yang dapat memalingkan mereka dari perintah Allah, apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat untuk berbuat dosa dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah yang telah memerintahkan untuk taat dan bertobat kepada-Nya, maka ketika itu juga, dengan cepat bagaikan tiba-tiba, mereka melihat dan menyadari kesalahan-kesalahannya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah menjelaskan reaksi orang-orang yang bertakwa bila digoda setan. Ayat ini memperkuat pula ayat sebelumnya tentang keharusan kita berlindung kepada Allah dari godaan setan.

Sesungguhnya orang yang bertakwa ialah orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, menginfakkan sebagian dari rezekinya. Bila mereka merasa ada dorongan dalam dirinya untuk berbuat kemungkaran, mereka segera sadar bahwa yang demikian itu adalah godaan setan dan mereka segera mengucapkan doa isti’āżah dan menyerahkan diri kepada Allah agar dipelihara dari tipu muslihat setan. Berkat kesadaran itu, mereka terhindar dari jurang kebinasaan dan jaring-jaring setan, karena mereka bisa menahan diri agar tidak jatuh ke dalam perangkap setan, sedang yang masuk perangkap setan itu hanyalah orang yang lalai kepada Allah dan kurang mawas diri.

Senjata yang paling ampuh mengusir setan, ialah ingat dan murāqabah (mendekatkan diri) kepada Allah di dalam segala keadaan. Ingat selalu kepada Allah akan menanamkan ke dalam jiwa cinta kebenaran dan kebajikan, melemahkan kecenderungan negatif/buruk. Jiwa yang dipenuhi iman ialah jiwa yang sehat. Jiwa yang sehat seperti badan yang sehat yang punya kekebalan. Badan yang punya kekebalan, badan yang kuat, tidak mudah diserang penyakit. Bakteri-bakteri dan kuman penyakit tidak dapat berkembang biak dalam tubuh yang penuh dengan daya kekebalan itu. Demikian pula jiwa orang yang takwa, tidak mudah dikalahkan godaan setan. Orang yang bertakwa segera bereaksi terhadap rangsangan setan yang timbul dalam dirinya. Reaksi itu berupa ingatan kepada Allah disertai dengan kesadaran terhadap tipu muslihat setan dengan segala akibatnya.

Memelihara jiwa yang sehat dari godaan setan sama halnya dengan memelihara badan yang sehat, yakni memerlukan perawatan yang terus menerus agar tetap bersih dan sehat, memerlukan murāqabah yang tetap, ingat kepada Allah dalam segala keadaan. Dengan demikian setan tidak mendapat kesempatan mengganggu diri.

Isi Kandungan Kosakata

Al-’afwu اَلْعَفْوُ (al-A‘rāf /7: 199)

Kata al-’afwu terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf (ع- ف- و). Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu meninggalkan sesuatu atau memintanya. Dari akar kata itu muncul ‘afwu yang artinya meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah atau yang lazim diungkapkan dengan kata memaafkan. Perlindungan Allah dari keburukan dari keburukan disebut ‘afiah. Perlindungan mengandung makna ketertutupan. Dari sini, kata ‘afwu juga diartikan menutupi dan juga terhapus. Selain itu, ada pula yang memahami kata al-’afwu dalam arti moderasi atau pertengahan. Yang memilih prendapat ini menilai bahwa kata itu mencakup segala kebaikan, karena moderasi adalah yang terbaik. Di samping itu, memahaminya dengan makna demikian, pada ayat ini, menghindarkan munculnya kesan pengulangan perintah, karena perintah memaafkan hampir sama dengan perintah terakhir ayat ini, yaitu berpaling dari orang-orang jahil.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto