اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ
Iż tabarra'al-lażīnattubi‘ū minal-lażīnattaba‘ū wa ra'awul-‘ażāba wa taqaṭṭa‘at bihimul-asbāb(u).
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti saat mereka (orang-orang yang diikuti) melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.
Itulah hari kiamat, hari ketika orang-orang yang diikuti, yakni para pemimpin, berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti atau orang yang mereka pimpin; dan mereka melihat azab pedih yang tidak bisa mereka hindari, dan pada hari itu segala hubungan antara mereka terputus, baik hubungan nasab, persahabatan, percintaan, maupun pekerjaan. Pada hari itu setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatan masing-masing (Lihat: Surah Abasa/80: 34-37).
(166, 167) Pada saat menerima azab di akhirat mereka melihat sesembahan yang mereka sembah selagi di dunia, berlepas diri dari mereka dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas kesesatan dan kekeliruan mereka dalam menyembah selain Allah. Karena itu mereka mengharap-harap kiranya mereka diberi kesempatan hidup kembali di dunia, agar mereka dapat menyembah Allah saja dan berlepas diri dari berhala serta pemimpin-pemimpin yang mereka sembah dahulu. Dengan demikian mereka tidak akan mengalami kepahitan dan kegetiran seperti yang mereka alami itu. Tetapi harapan itu sia-sia belaka karena nasi telah menjadi bubur. Mereka akan tetap berada dalam neraka dan tidak dapat keluar lagi dari sana, baik untuk kembali ke dunia guna memperbaiki akidah dan amalnya, ataupun untuk masuk ke surga, karena pintu surga tertutup bagi orang-orang musyrik.
Andādan اَنْدَادًا (al-Baqarah/2: 165)
Andādan jamak dari an-nidd artinya “yang sama”, “sepadan”. Maksudnya menyekutukan sesuatu dengan yang lainnya dalam substansi, sesuatu yang disekutukan ini dianggap mempunyai beberapa faktor yang sama meskipun pada hakikatnya sangat kontradiksi dengan yang disekutukan (diserupakan).
Yang dimaksud andādan dalam ayat ini adalah patung-patung yang mereka sembah bukan pemimpin-pemimpin mereka. Orang Arab ketika itu mencintai patung-patung yang mereka anggap sebagai tuhan atau pemberi syafaat seperti mereka mencintai Allah yang juga mereka yakini sebagai Tuhan di samping patung-patung tersebut. Kecintaan mereka memang hanya terfokus pada patung-patung tersebut yang mereka anggap sebagai tuhan. Ayat ini menghimbau agar kita tidak menyekutukan Allah dengan benda-benda lain yang mereka anggap tuhan dan yang mereka cintai.
Sebuah kezaliman dan ironi jika ada makhluk selain Allah apa pun bentuknya yang tidak mempunyai konstribusi dalam kehidupan manusia, baik memberi manfaat atau madarat, disamakan dengan Allah Maha Pencipta segala sesuatu.











































