وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ ۗ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا ۗ كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَا هُمْ بِخٰرِجِيْنَ مِنَ النَّارِ ࣖ
Wa qālal-lażīnattaba‘ū lau anna lanā karratan fa natabarra'a minhum, kamā tabarra'ū minnā, każālika yurīhimullāhu a‘mālahum ḥasarātin ‘alaihim, wa mā hum bikhārijīna minan-nār(i).
Orang-orang yang mengikuti berkata, “Andaikan saja kami mendapat kesempatan kembali (ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan bagi mereka. Mereka sungguh tidak akan keluar dari neraka.
Dan karena dahsyatnya siksa Allah yang mereka saksikan, orang-orang yang mengikuti berkhayal dan berkata, “Sekiranya kami mendapat kesempatan kembali ke dunia, tentu kami akan berlepas tangan dari mereka; kami tidak akan mengikuti mereka sebagaimana pada hari ini mereka berlepas tangan dari kami dan tidak bertanggung jawab atas ajakan dan tipu daya mereka kepada kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka seluruh amal perbuatan mereka, membiarkan mereka larut di dalamnya. Perbuatan itulah yang menjadi sebab penyesalan mereka di akhirat, penyesalan yang sama sekali tidak berguna. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka; mereka kekal dan abadi di dalamnya.
(166, 167) Pada saat menerima azab di akhirat mereka melihat sesembahan yang mereka sembah selagi di dunia, berlepas diri dari mereka dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas kesesatan dan kekeliruan mereka dalam menyembah selain Allah. Karena itu mereka mengharap-harap kiranya mereka diberi kesempatan hidup kembali di dunia, agar mereka dapat menyembah Allah saja dan berlepas diri dari berhala serta pemimpin-pemimpin yang mereka sembah dahulu. Dengan demikian mereka tidak akan mengalami kepahitan dan kegetiran seperti yang mereka alami itu. Tetapi harapan itu sia-sia belaka karena nasi telah menjadi bubur. Mereka akan tetap berada dalam neraka dan tidak dapat keluar lagi dari sana, baik untuk kembali ke dunia guna memperbaiki akidah dan amalnya, ataupun untuk masuk ke surga, karena pintu surga tertutup bagi orang-orang musyrik.
Andādan اَنْدَادًا (al-Baqarah/2: 165)
Andādan jamak dari an-nidd artinya “yang sama”, “sepadan”. Maksudnya menyekutukan sesuatu dengan yang lainnya dalam substansi, sesuatu yang disekutukan ini dianggap mempunyai beberapa faktor yang sama meskipun pada hakikatnya sangat kontradiksi dengan yang disekutukan (diserupakan).
Yang dimaksud andādan dalam ayat ini adalah patung-patung yang mereka sembah bukan pemimpin-pemimpin mereka. Orang Arab ketika itu mencintai patung-patung yang mereka anggap sebagai tuhan atau pemberi syafaat seperti mereka mencintai Allah yang juga mereka yakini sebagai Tuhan di samping patung-patung tersebut. Kecintaan mereka memang hanya terfokus pada patung-patung tersebut yang mereka anggap sebagai tuhan. Ayat ini menghimbau agar kita tidak menyekutukan Allah dengan benda-benda lain yang mereka anggap tuhan dan yang mereka cintai.
Sebuah kezaliman dan ironi jika ada makhluk selain Allah apa pun bentuknya yang tidak mempunyai konstribusi dalam kehidupan manusia, baik memberi manfaat atau madarat, disamakan dengan Allah Maha Pencipta segala sesuatu.











































