اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ ࣖ
Al-ḥaqqu mir rabbika falā takūnanna minal-mumtarīn(a).
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka, janganlah sekali-kali engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.
Untuk memantapkan hati orang-orang yang baru masuk Islam dan umat Nabi Muhammad di masa mendatang tentang kebenaran ajaran-Nya, Allah menegaskan bahwa kebenaran itu datang dari Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu
Kebenaran itu adalah apa yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya, bukan apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Dalam hal ini kaum Muslimin tidak boleh ragu. Masalah kiblat ini sebenarnya bukanlah masalah prinsip sebagai asas agama seperti tauhid, iman kepada hari kiamat dan lain-lain, tetapi kiblat ini hanya merupakan suatu arah yang masing-masing umat diperintahkan untuk menghadap kepadanya dalam salat mereka.
al-Ḥaq اَلْحَقّ (al-Baqarah/2: 146)
Al-Ḥaq artinya “kebenaran”, sedangkan pengertian dasar dari kata al-ḥaq adalah “sesuai”, “serasi”, dan “sepadan” juga “nyata”. Dalam ayat 147 tersebut dinyatakan bahwa kebenaran yang hakiki adalah yang datang dan diwahyukan oleh Allah swt, bukan cerita, obrolan, dan pernyataan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karenanya kiblat yang setiap salat kita menghadapkan wajah ke arahnya, adalah merupakan kebenaran yang hakiki yang juga pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan nabi-nabi sesudahnya.








































