وَّمَغَانِمَ كَثِيْرَةً يَّأْخُذُوْنَهَا ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
Wa magānima kaṡīratay ya'khużūnahā, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā(n).
dan harta rampasan perang yang banyak yang dapat mereka ambil. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan kepada mereka dianugerahkan harta rampasan perang yang banyak yang akan mereka peroleh dalam peperangan itu. Dan Allah Mahaperkasa, tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya Mahabijaksana dalam segala ketetapan-Nya.
Ayat ini menerangkan bahwa pada Perang Khaibar yang akan terjadi, kaum Muslimin akan memperoleh kemenangan atas kaum kafir dan memperoleh harta rampasan yang banyak. Harta rampasan itu khusus diberikan kepada kaum Muslimin yang ikut Bai‘atur-Riḍwān.
Pada akhir ayat ini, Allah mengulang ancaman-Nya kepada orang-orang munafik Arab Badui yang tidak mau ikut bersama Rasulullah saw ke Mekah. Allah akan memberlakukan sesuatu atas makhluk-Nya sesuai dengan hikmah dan faedahnya.
Raḍiyallāh رَضِيَ اللّٰهُ (al-Fatḥ/48: 18)
Kata raḍiyallāh disebut dalam Al-Qur’an tidak kurang dari tujuh kali, yaitu dalam Surah al-Mā’idah/5: 3 dan 119; at-Taubah/9: 100; Ṭāḥā/20: 109; al-Fatḥ/48: 18; al-Mujādalah/58: 22; dan al-Bayyinah/98: 8. Pada Surah al-Mā’idah ayat 3 terkandung penegasan Allah bahwa, “Aku rida Islam sebagai agamamu.” Ungkapan raḍiyallāh artinya Allah rida atau rela. Kalau Allah meridai suatu tindakan atau perbuatan berarti Allah mengizinkan, membenarkan, dan menyenangi perbuatan tersebut. Suatu perbuatan yang mendapatkan rida Allah akan memperoleh rahmat-Nya. Demikian pula dalam ayat ini, Allah menegaskan sikap-Nya bahwa Ia rida kepada kaum mukmin tatkala mereka berbaiat kepada Nabi Muhammad di bawah sebuah pohon. Hendaklah diingat bahwa sahabat Nabi berjumlah 1.400 orang yang berbaiat di Hudaibiyyah itu dinyatakan di sini sebagai orang yang mendapat rida Allah. Pernyataan ayat ini menghilangkan keragu-raguan para pengikut golongan besar kaum Muslim tentang kesetiaan para sahabat Nabi waktu itu. Karena Allah meridai baiat (ikrar setia) kaum mukmin itulah, kemudian peristiwa itu disebut bai‘atur-riḍwān (baiat yang diridai Allah).









































