Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 29 - Surat Al-Fatḥ (Kemenangan)
الفتح
Ayat 29 / 29 •  Surat 48 / 114 •  Halaman 515 •  Quarter Hizb 52 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Madaniyah

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ

Muḥammadur rasūlullāh(i), wal-lażīna ma‘ahū asyiddā'u ‘alal-kuffāri ruḥamā'u bainahum tarāhum rukka‘an sujjaday yabtagūna faḍlam minallāhi wa riḍwānā(n), sīmāhum fī wujūhihim min aṡaris-sujūd(i), żālika maṡaluhum fit-taurāh(ti), wa maṡaluhum fil-injīl(i), kazar‘in akhraja syaṭ'ahū fa āzarahū fastaglaẓa fastawā ‘alā sūqihī yu‘jibuz-zurrā‘a liyagīẓa bihimul-kuffār(a), wa‘adallāhul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti minhum magfirataw wa ajran ‘aẓīmā(n).

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Makna Surat Al-Fath Ayat 29
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa rahmat bagi seluruh alam, dan orang-orang yang bersama dengan dia yakni sahabat-sahabat-Nya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang menentang agama-Nya, tetapi berkasih sayang dan saling mencintai sesama mereka yang beriman. Kamu senantiasa melihat mereka rukuk dan sujud dan itu dilakukan semata-mata untuk mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Engkau saksikan pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud berupa cahaya yang menunjukkan ketakwaan dan kesalehannya. Demikianlah sifat-sifat mereka yang sangat agung yang diungkapkan dalam Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Dan sifat-sifat me-reka yang diungkapkan dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya. Demikian perumpamaan orang-orang mukmin pengikut Nabi Muhammad. Sesungguhnya mereka itu mula-mula sedikit saja, kemudian ia bertambah semakin banyak, bagaikan tunas yang menumbuhkan tanaman yang subur dan banyak buahnya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya. Sifat-sifat yang luhur dan mulia dinyatakan karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan menunjukkan semakin banyaknya jumlah orang-orang mukmin dan semakin besarnya kekuatan mereka dari masa ke masa. Demikianlah akhir Surah al-Fath ini ditutup dengan janji Allah bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan atas dosa dan kesalahan mereka dan pahala yang besar yaitu surga. Semoga kami termasuk orang-orang yang memperoleh anugerah yang agung itu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad saw adalah rasul Allah yang diutus kepada seluruh umat. Para sahabat dan pengikut Rasul bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَه ٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْن َ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah. (al-Mā’idah/5: 54)

Rasulullah bersabda:

مَثَلُ اْلمُؤْمِنِيْن َ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِم ْ وَتَعَاطُفِهِم ْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ. (رواه مسلم وأحمد عن النعمان بن بشير)

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih-mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula. (Riwayat Muslim dan Aḥmad dari an-Nu‘mān bin Basyīr)

Orang-orang yang beriman selalu mengerjakan salat dengan khusyuk, tunduk, dan ikhlas, mencari pahala, karunia, dan keridaan Allah. Tampak di wajah mereka bekas sujud. Maksudnya ialah air muka yang cemerlang, tidak ada gambaran kedengkian dan niat buruk kepada orang lain, penuh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, bersikap dan berbudi pekerti yang halus sebagai gambaran keimanan mereka.

Mengenai cahaya muka orang yang beriman, ‘Uṡmān berkata, “Adapun rahasia yang terpendam dalam hati seseorang; niscaya Allah menyatakannya pada raut mukanya dan lidahnya.” Sifat-sifat yang demikian itu dilukiskan dalam Taurat dan Injil.

Para sahabat dan pengikut Nabi semula sedikit dan lemah, kemudian bertambah dan berkembang dalam waktu singkat seperti biji yang tumbuh, mengeluarkan batangnya, lalu batang bercabang dan beranting, kemudian menjadi besar dan berbuah sehingga menakjubkan orang yang menanamnya, karena kuat dan indahnya, sehingga menambah panas hati orang-orang kafir.

Kemudian kepada pengikut Rasulullah saw itu, baik yang dahulu maupun yang sekarang, Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa mereka, memberi mereka pahala yang banyak, dan menyediakan surga sebagai tempat yang abadi bagi mereka. Janji Allah yang demikian pasti ditepati.

Isi Kandungan Kosakata

1. Syaṭ'ahu شَطْاَهُ (al-Fatḥ/48: 29)

Asy-Syaṭ' jamaknya al-asyṭā' artinya tunas. Pada mulanya kata asy-syaṭ' berarti pinggir, sebagaimana pada ungkapan syaṭi'ul-wādi artinya pinggir lembah. Jika ada tumbuhan lalu muncul di kiri-kanan tumbuhan tersebut tunas-tunas baru, maka dinamakan syaṭ'uż-żar‘i. Al-Qur’an memberikan perumpamaan para sahabat Nabi yang tadinya sedikit menjadi banyak, yang tadinya lemah menjadi kuat, sebagaimana tumbuhan yang tadinya sedikit lalu muncul tunas-tunas baru yang menjadikan tumbuhan itu menjadi banyak dan kuat.

2. Aṡar as-Sujūd اَثَرِ السُّجُوْدِ (al-Fatḥ/48: 29)

Aṡar as-sujūd artinya “bekas sujud” artinya muka mereka tampak bersinar dan bercahaya, karena kecintaan mereka kepada Allah menimbulkan kedamaian pada hati mereka. Kenikmatan beribadah karena banyak beribadah kepada Allah baik siang maupun malam hari membawa dampak pada muka mereka, jadilah muka mereka menjadi bersinar, bercahaya, teduh, tenang, dan tenteram. Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan aṡar as-sujūd adalah tanda bekas sujud yang ada pada dahi. Ada juga yang berpendapat bahwa bekas sujud ini akan jelas kelihatan pada saat mereka di akhirat nanti.

3. At-Taurāh التَّوْرَاة (al-Fatḥ/48: 29)

Kitab Taurat disebutkan di dalam Al-Qur’an sering bersama-sama dengan Kitab Injil. Dari 18 kata Taurat, separuh di antaranya disebut bersama-sama dengan kata Injil. Kedua kitab ini sebagai petunjuk dan cahaya, yang ditafsirkan mengenai “tingkah laku dan pengertian yang dalam tentang kehidupan rohani yang lebih tinggi.”

Pada dasarnya Al-Qur’an mengakui dan menghormati kedua kitab suci itu. Ini menandakan bahwa Islam tidak eksklusif. Taurat diberikan kepada Musa melalui wahyu (al-Mā’idah/5: 44, 46), begitu juga Injil, diberikan kepada Isa al-Masih melalui wahyu dari Allah, yang disebutkan sebagai penerus Taurat (al-Mā’idah/5: 46), tidak berbeda dengan Al-Qur’an (Āli ‘Imrān/3: 3). Menurut penjelasan dan keterangan tentang Alkitab—Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru—disebutkan, bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh tokohnya masing-masing, dilengkapi dengan waktu penulisan, seperti Torah (5 kitab) ditulis oleh Musa, dan Injil ditulis oleh sebagian murid-murid Yesus, seperti yang akan kita coba ringkaskan nanti. Di sini sudah terlihat adanya perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dengan Alkitab (Bibel).

Kata Taurāh, dalam bahasa Arab, berasal dari kata bahasa Ibrani Torah, yang berarti pengetahuan, hukum, instruksi, dan sebagainya. Dalam terjemahan Inggris, versi King James, law, “hukum;” dalam terjemahan bahasa Indonesia “Taurat”. Sebagai wahyu dari Allah, dalam keadaan yang masih murni Taurat sangat dihormati. Pengertian Torah dalam kehidupan beragama orang Yahudi sering meliputi Talmud dan semua kepustakaan agama Yahudi. Torah dalam Perjanjian Lama dibatasi pada lima kitab, “yang juga disebut Pentateuch, mengacu kepada Musa sebagai penerima wahyu asli dari Tuhan di Gunung Sinai,” demikian Encyclopedia Britannica.

4. Al-Injīl الْإِنْجِيْل (al-Fatḥ/48: 29)

Seperti sudah disebutkan dalam artikel “Taurat” bahwa “Kitab Taurat disebutkan di dalam Al-Qur’an sering bersama-sama dengan Kitab Injil, sudah tentu dengan sendirinya Injil juga demikian, dan disebutkan, bahwa kedua kitab ini sebagai petunjuk dan cahaya, yang ditafsirkan mengenai “tingkah laku dan pengertian yang dalam tentang kehidupan rohani yang lebih tinggi.” Taurat diwahyukan kepada Musa dan Injil diwahyukan kepada Isa al-Masih. Yang dimaksud ialah kedua kitab suci yang asli berupa wahyu dari Allah. Taurat diberikan kepada Musa melalui wahyu (Mā’idah/5: 44, 46), begitu juga Injil, diberikan kepada Isa al-Masih melalui wahyu dari Allah, “yang disebutkan sebagai penerus Taurat (Mā’idah/5: 46), tidak berbeda dengan Al-Qur’an (Āli ‘Imrān/3: 3).

Pengertian kata Injīl dalam Al-Qur’an dan dalam Alkitab berbeda. Injil dalam Al-Qur’an ialah sebuah kitab berisi wahyu Allah yang disampaikan kepada Isa al-Masih, sama dengan Taurat dan Al-Qur’an, masing-masing disampaikan kepada Musa dan Muhammad, dengan cara yang berbeda. Dalam Alkitab, Injil merupakan bagian-bagian tertentu dalam Perjanjian Baru. Seperti juga disebutkan dalam Encyclopedia Britannica, Injil merupakan satu dari empat cerita Bibel yang mencakup kehidupan dan kematian Yesus Kristus. Secara tradisi biasanya disebutkan bahwa Injil itu masing-masing ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, yakni empat orang penginjil, yang menempati bagian permulaan dan menempati sekitar separuh Perjanjian Baru. Dalam bahasa Inggris Injil disebut gospel, dari kata bahasa Anglo Saxon god-spell, “cerita yang bagus, diambil dari kata bahasa Latin evangelium, dari bahasa Yunani lama euagelion, yakni “kabar baik, atau berita gembira,” yang dalam bahasa Arab berubah menjadi injīl, jamak anājīl.

Kalangan gereja sendiri memang membedakan Perjanjian Baru (New Testament) dengan Injil (Gospel). Sejak akhir abad ke-18, tiga pertama Perjanjian Baru disebut Synoptic Gospels, yang berarti tiga Injil pertama dalam “persamaan pandangan, isi atau susunannya,” karena teks yang disusun berdampingan memperlihatkan persamaan berita tentang kehidupan dan kematian Yesus Kristus. Injil Synoptic ialah Injil-Injil Matius, Markus dan Lukas–tidak termasuk Yohanes–karena mereka menyajikan sebuah sinopsis atau pandangan secara umum mengenai serangkaian peristiwa yang sama, sementara yang keempat, yaitu Injil Yohanes cerita dan ungkapannya berbeda.

Diatessaron, ialah empat Injil dalam Perjanjian Baru, yang dihimpun oleh Tatian sekitar tahun 150 M menjadi satu bentuk cerita berkesinambungan, dalam bentuk bahasa Suryani dan dipakai sebagai kitab kebaktian selama beberapa abad oleh Gereja Timur di Suria. Sampai sekitar tahun 400 M ia merupakan teks Injil yang baku di Suria, Timur Tengah, yang kemudian digantikan oleh empat Injil yang terpisah-pisah itu. Kutipan-kutipan dari Diatessaron muncul dalam literatur Suryani (bahasa Aram kuno di Suria), tetapi naskah Suryani kuno itu sekarang sudah tidak ada lagi. Pada tahun 1933 sebuah potongan papirus Yunani abad ketiga ditemukan di Doura-Europus, barat laut Bagdad, Irak. Tulisan aslinya yang dalam bahasa Yunani atau bahasa Suryani tidak diketahui. Juga ada naskah-naskah dalam bahasa Arab dan bahasa Persia dan terjemahan-terjemahan dalam beberapa bahasa Eropa yang dibuat selama abad-abad Pertengahan. Tatian sendiri lahir tahun 120 dan meninggal 173 M di Suria. Diatessaron versi Yunani dan Latin besar pengaruhnya terhadap teks Injil. Demikian Encyclopedia Britannica.

Menurut penjelasan dan keterangan atas Alkitab–Perjanjian Lama (Torah) dan Perjanjian Baru–disebutkan, bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh tokohnya masing-masing, dilengkapi dengan waktu penulisan, seperti Torah (5 kitab) ditulis oleh Musa, dan Injil ditulis oleh sebagian murid Yesus. Di sini sudah terlihat adanya perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dengan Alkitab. (Lihat “Taurat” di atas). Taurat dan Injil yang disebutkan di dalam Al-Qur’an tentu tidak sama dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru seperti yang ada sekarang. Dalam Perjanjian Lama, Torah terbatas pada lima kitab, yang juga disebut Pentateuch, terdiri atas lima kitab pertama, ditulis oleh Musa. Selebihnya ditulis oleh sekian banyak penulis lain. Demikian juga Injil tentu bukan Perjanjian Baru, yang didahului oleh beberapa Injil (Gospel) seperti yang sekarang berlaku dalam lingkungan gereja Kristen, melainkan Injil asli yang diajarkan oleh Nabi Isa, atau Taurat seperti yang dibawa oleh Nabi Musa dan Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad saw.

Injil, yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan kepada Isa al-Masih, dan tidak identik dengan empat Injil yang ditulis oleh murid-murid Yesus: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, seperti yang terdapat dalam permulaan Perjanjian Baru yang dikenal sekarang. Dalam pengertian Kristiani, sebagai kitab suci Injil bukan wahyu atau firman Tuhan yang disampaikan kepada Isa al-Masih, melainkan merupakan kisah-kisah yang ditulis oleh murid-murid Yesus tersebut. Keempat Injil ini dipandang otentik dan dinyatakan sebagai kitab suci, karena telah dibimbing oleh Roh Kudus, ditulis dan disusun oleh manusia dengan tuntunan tangan Tuhan, dan karenanya berlaku sebagai firman-Nya. Dalam keterangan Alkitab disebutkan bahwa kedatangan Yesus Kristus dan mulainya pemerintahan Allah di dunia ini merupakan inti Injil yang harus diberitakan ke mana-mana.

Pada abad-abad pertama Masehi ada sekian banyak macam Injil yang beredar dengan versi yang tidak sama. Tetapi pada abad ke-4 hanya ada empat Injil Kanonis (sesuai dengan hukum gereja) yang kemudian dapat diselamatkan dan diterima oleh gereja, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, di samping beberapa lagi yang lain. Selebihnya ditulis oleh Paulus, yang terbanyak, Yakobus, dan yang lain. “Kemudian tulisan rasul-rasul yang membukukan kesaksian tentang diri Yesus Kristus disebut juga kitab-kitab Injil,” seperti disebutkan dalam Kamus Alkitab. Dalam penjelasannya lebih jauh disebutkan juga tahun penulisan dan temanya, dan beberapa tulisan lain. Seperti Perjanjian Lama, sebagai contoh, begitu juga kitab-kitab dalam Perjanjian Baru dilengkapi dengan tahun penulisan dan temanya, terutama pada keempat Injil pertama-Matius, tahun penulisan 60-an, tema: “Yesus, Raja Mesianis;” Markus, tahun penulisan 55-65 M, tema: “Yesus, Sang Putra-Hamba;” Lukas, tahun penulisan 60-63 M, tema: “Yesus, Juruselamat yang Ilahi dan Manusiawi;” Yohanes, tahun penulisan 80-95, tema: “Yesus, Putra Allah.”

Begitu juga pada Paulus, tahun penulisan sekitar tahun 57, tema: “Kebenaran Allah telah Dinyatakan,” dan beberapa lagi penulis lain. Banyak juga surat-surat yang ditulis oleh Santo Paulus ditujukan kepada gereja-gereja dan kepada pribadi-pribadi, seperti surat kepada Jemaat di Korintus, surat kepada Jemaat di Galatia, surat kepada Jemaat di Efesus, di Filipi, di Kolose, dan di Tesalonika, surat yang ditulis kepada Timotius, kepada Titus, kepada orang Ibrani dan lain-lain, di samping Kisah Para Rasul. Surat-surat Petrus, Yohanes, dan Yudas, dan yang terakhir Wahyu kepada Yohanes. Kitab Wahyu atau Apocalyps ini ditulis oleh Yohanes, berisi pandangan pandangan mistik serta nubuatan atau ramalan ramalan.

Ada lagi Injil Petrus (The Gospel of Peter), Injil Barnabas (The Gospel of Barnabas) dan lain-lain, yang oleh gereja dianggap tidak kanonis dan tidak otentik. Tetapi rasanya semua ini tidak begitu perlu dibicarakan di sini. Hanya untuk melengkapi catatan, pada akhir abad ke-18 muncul pula apa yang disebut Synoptic Gospels, yang hanya menerima tiga bagian pertama Perjanjian Baru, yakni Injil Matius, Markus, dan Lukas–tidak termasuk Yohanes, seperti sudah disebutkan di atas.

Injil pada mulanya diberikan kepada Isa al-Masih dengan tujuan memberi peringatan kepada orang-orang Yahudi supaya mereka menjalankan ketentuan agama secara benar, dan jangan mengubah-ubah kitab suci mereka. Pada gilirannya kemudian yang demikian terjadi pada umat Kristen sendiri. Ayat di dalam Al-Qur’an yang ditujukan kepada mereka ini mungkin erat hubungannya dengan peristiwa itu, “Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab) yang menjelaskan.” (al-Mā’idah/5: 15).

Dalam pengertian Alkitab, Perjanjian Baru merupakan bagian yang lebih kecil daripada Perjanjian Lama. Mereka menganggap Perjanjian Baru sebagai pemenuhan janji Perjanjian Lama. Ia bertalian dan menafsirkan perjanjian yang baru,–dilambangkan dalam kehidupan dan kematian Yesus–antara Tuhan dengan pengikut-pengikut Kristus. Seperti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga berisi berbagai macam tulisan oleh beberapa penulis. Di antara ke-27 kitab yang ada merupakan ingatan yang dipilih mengenai kehidupan, perbuatan, dan perkataan Yesus dalam keempat Injil itu; sebuah cerita perjalanan bersejarah tahun pertama Gereja Kristen dalam Kisah Para Rasul; Surat-surat berisi nasihat, perintah, peringatan dan larangan kepada jemaat Kristiani setempat–14 dikaitkan kepada Paulus, satu (Orang Ibrani) barangkali suatu kesalahan, tujuh oleh penulis-penulis lain; dan sebuah deskripsi apokalips (dari kata Yunani, wahyu, biasanya dialamatkan kepada Kitab Wahyu oleh Yohanes yang masih diragukan kebenarannya) mengenai adanya campur tangan Tuhan dalam sejarah, dan Kitab Wahyu.

Kitab-kitab itu dalam Perjanjian Baru tidak disusun secara kronologis. Misalnya Surat-surat Paulus, yang berisi masalah-masalah yang mendesak mengenai gereja-gereja lokal tak lama setelah kematian Yesus, dipandang sebagai teks tertua. Sebaliknya, kitab-kitab itu disusun dalam cerita yang lebih logis, Injil-Injil itu menceritakan kehidupan Yesus dan ajaran-ajarannya; Kisah Para Rasul menguraikan secara terinci usaha pengikut-pengikut Kristus dalam menyebarkan kepercayaan Kristiani; Surat-surat itu mengajarkan makna dan pengertian kepercayaan; dan Kitab Wahyu meramalkan peristiwa-peristiwa masa depan dan puncak tujuan beragama. Kedudukan Perjanjian Baru di tengah-tengah masyarakat Kristiani adalah suatu faktor yang membuat biografi Yesus atau sejarah gereja abad pertama itu jadi sulit dan mustahil. Kitab-kitab dalam Perjanjian Baru disusun bukan untuk mengetahui sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang mereka ceritakan, tetapi untuk menjadi saksi atas kepercayaan akan adanya tangan Tuhan dalam segala peristiwa itu. Sejarah Perjanjian Baru menjadi sulit karena rentang waktu yang relatif pendek yang tercakup dalam kitab-kitab itu dibandingkan dengan seribu tahun atau lebih sejarah seperti yang diuraikan dalam Perjanjian Lama. Informasi sejarah yang terdapat dalam Perjanjian Baru lebih sedikit daripada yang ada dalam Perjanjian Lama, dan banyak fakta sejarah mengenai gereja pada abad pertama itu yang harus dicapai dengan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan dalam salah satu kitab Injil atau Surat-surat. Demikian Encyclopedia Britannica.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto