Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 4 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 360 •  Quarter Hizb 36.75 •  Juz 18 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ فَقَدْ جَاۤءُوْ ظُلْمًا وَّزُوْرًا ۚ

Wa qālal-lażīna kafarū in hāżā illā ifkuniftarāhu wa a‘ānahū ‘alaihi qaumun ākharūn(a), fa qad jā'ū ẓulmaw wa zūrā(n).

Orang-orang kafir berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Nabi Muhammad) dengan dibantu oleh orang-orang lain,” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Tidak hanya menolak keesaan Allah, kaum kafir juga melecehkan Al-Qur’an. Dan orang-orang kafir berkata dengan nada menghina, “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan secara sengaja oleh Muhammad, dan dalam menciptakannya dia dibantu oleh orang-orang lain yang memiliki kemampuan untuk itu.” Menanggapi tuduhan ini Allah menegaskan, “Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar, yang menjauhkan mereka dari kebenaran.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang-orang kafir mengatakan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah kitab yang diturunkan Allah. Al-Qur’an itu hanyalah suatu kebohongan yang dibuat-buat oleh Muhammad dan dalam membuat Al-Qur’an itu dia dibantu oleh sekelompok ahli kitab yang telah beriman. Muhammad menurut mereka, selalu menemui kelompok ahli kitab itu dan mereka mengajarkan kepadanya kisah-kisah tentang umat-umat yang terdahulu kemudian Muhammad menyusun kisah-kisah itu dalam bahasa Arab yang baik susunan redaksinya.

Diriwayatkan bahwa ayat-ayat ini turun mengenai Nadr bin al-Haris dan orang-orang yang membantu Muhammad ialah Addās budak Khuwatih bin Abdul Uzza, Yasar budak al-A’lā bin al-Khadrami dan Abu Fukaihah ar-Rūmi. Semula mereka adalah penganut agama Yahudi yang pandai membaca Taurat dan banyak bercerita tentang kisah umat terdahulu. Kemudian mereka masuk Islam dan banyak berhubungan dengan Nabi Muhammad. Oleh sebab itulah Nadr bin Haris berani mengadakan tuduhantuduhan palsu itu. Maka Allah menolak tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa orang-orang yang membuat tuduhan palsu itu telah berbuat zalim dan berdusta. Jelaslah bahwa tuduhan itu dibuat-buat karena Al-Qur’an sendiri dengan ayat-ayatnya telah menantang orang-orang Arab untuk membuat satu surah yang sama faṣāḥah dan balagahnya dengan suatu surah dari Al-Qur’an. Kalau mereka tidak berhasil pastilah Al-Qur’an itu bukan bikinan Muhammad tetapi benar-benar wahyu dari Allah. Hal itu tersebut dalam firman-Nya:

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٢٣

Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (al-Baqarah/2: 23)

Karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat menjawab tantangan itu walaupun mereka telah berusaha dengan sekuat tenaga, maka benarlah bahwa Al-Qur’an itu bukan buatan manusia melainkan wahyu dari Allah. Tetapi karena tidak ada jalan bagi mereka untuk menentang Al-Qur’an, mereka mencari berbagai alasan untuk mendustakannya dan mereka membuat berita-berita seperti tersebut di atas.

Isi Kandungan Kosakata

1. Wazūrā وَزُوْرًا(al-Furqā n/25: 4)

Kata zūr adalah maṣdar (kata jadian) dari kata zāra-yazūru-zūran. Kata ini terambil dari kalimat zawwara aṣ-ṣadra yang berarti melengkungkan dada. Menurut istilah, kata zūr berarti penyimpangan dari dalil, seperti syirik yang mengimplikasikan keyakinan akan ketidak berdayaan Allah. Kata zūr disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Penggunaannya di dalam Al-Qur’an menunjuk kepada arti dusta dan palsu. Tetapi, menurut salah satu pendapat ulama tafsir, kata zūr yang disebutkan di dalam Surah al-Ḥajj ayat 30 berarti tempat-tempat lahwu (permainan).

2. Tumlā تُمْلَى (al-Furqān/25: 5)

Kata tumlā adalah kata yang mengikuti pola majhūl (tidak disebut pelakunya). Kata ini terbentuk dari kata amlā-yumlī-imlā’an, yang berarti menangguhkan. Kalimat amlāhullāh berarti Allah memberi waktu tangguh kepadanya dan memanjangkan umurnya. Makna ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya…” (Āli ‘Imrān/3: 178) Kalimat amlā al-ba’īra fil-qaidi berarti melonggarkan ikatan unta. Darinya terambil kata maliyyan yang berarti waktu yang lama, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat, “maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Maryam/19: 46). Jadi, kata tumlā di dalam ayat yang sedang dibahas ini berarti dibacakan dan diberi waktu tangguh untuk mengingat dan merekam bacaan itu, atau dengan kata lain didiktekan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto